Rupiah Diprediksi Tembus Rp 18.000 per Dollar AS, Harga BBM hingga Cicilan Diprediksi Ikut Naik

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 25 Mei 2026 - 15:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan belum berakhir. Bahkan, mata uang Garuda disebut berpotensi menyentuh level Rp 18.000 per dollar Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat seiring penguatan dollar global dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia.

Prediksi tersebut langsung menjadi perhatian pelaku pasar karena pelemahan rupiah biasanya berdampak besar terhadap harga kebutuhan masyarakat, mulai dari bahan bakar minyak (BBM), harga gadget, biaya impor, hingga cicilan kredit berbunga tinggi. Kondisi ini juga memicu kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah masih cukup berat. Menurutnya, indeks dollar AS diproyeksikan tetap bertahan kuat di atas level 100 pada akhir Mei 2026. Situasi tersebut membuat arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang dan masuk ke aset berbasis dollar AS yang dianggap lebih aman.

Pada penutupan perdagangan terakhir, rupiah tercatat berada di level Rp 17.717 per dollar AS. Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan dari Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas kurs dan meredam gejolak pasar keuangan domestik.

Selain faktor eksternal, pasar juga menyoroti berbagai kebijakan ekonomi pemerintah yang dinilai mempengaruhi sentimen investor. Salah satunya adalah rencana kebijakan ekspor satu pintu yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato RAPBN 2027 beberapa waktu lalu. Kebijakan tersebut mendapat perhatian lembaga pemeringkat internasional karena dinilai dapat mempengaruhi neraca perdagangan dan penerimaan negara.

Baca Juga :  Defisit APBN Semester I 2026 Capai Rp196,5 Triliun, Apa Dampaknya bagi Ekonomi, Pajak, dan Investasi?

Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings bahkan disebut mulai menyoroti risiko pelebaran defisit fiskal Indonesia. Jika tekanan ekonomi global terus berlanjut, bukan tidak mungkin prospek rating Indonesia ikut terpengaruh dan memicu tekanan tambahan terhadap rupiah serta pasar saham domestik.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik dunia turut memperburuk sentimen pasar. Konflik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, dan potensi suku bunga tinggi Amerika Serikat membuat investor semakin berhati-hati menempatkan dana di emerging market seperti Indonesia. Jika harga minyak terus naik, inflasi global bisa kembali meningkat dan membuat bank sentral dunia mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kondisi tersebut membuat masyarakat mulai waspada terhadap potensi kenaikan harga barang impor dan kebutuhan pokok. Pelemahan rupiah biasanya berdampak langsung pada harga elektronik, otomotif, tiket perjalanan luar negeri, hingga biaya pendidikan berbasis mata uang asing. Tidak sedikit pula pelaku usaha yang mulai mengantisipasi lonjakan biaya produksi akibat kurs dollar yang terus menguat.

Baca Juga :  11 Outlet Diler Tutup, Daihatsu Jamin Garansi dan Servis Tetap Berjalan

Meski demikian, pemerintah dan Bank Indonesia diyakini masih memiliki berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Pelaku pasar berharap intervensi pasar valuta asing, penguatan cadangan devisa, dan kebijakan moneter yang tepat dapat membantu menahan pelemahan rupiah agar tidak bergerak terlalu dalam.

FAQ

Mengapa rupiah bisa melemah tajam?

Rupiah melemah karena penguatan dollar AS, arus modal asing keluar, ketidakpastian global, dan sentimen terhadap kebijakan ekonomi domestik.

Apa dampak rupiah tembus Rp 18.000?

Harga barang impor, BBM, gadget, hingga cicilan kredit berpotensi naik. Dunia usaha juga bisa menghadapi kenaikan biaya produksi.

Apakah Bank Indonesia bisa menahan pelemahan rupiah?

Bank Indonesia dapat melakukan intervensi pasar, menaikkan suku bunga, dan menjaga likuiditas untuk membantu stabilisasi rupiah.

Apakah kondisi ini berbahaya bagi ekonomi Indonesia?

Jika berlangsung lama, pelemahan rupiah dapat menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan inflasi. Namun dampaknya tergantung respons pemerintah dan kondisi global.

Apa yang sebaiknya dilakukan masyarakat?

Masyarakat disarankan lebih bijak mengatur pengeluaran, mengurangi utang konsumtif berbasis bunga tinggi, dan mempersiapkan dana darurat. (Tim)

Berita Terkait

Bidik Pasar BSD, Bank Sinarmas Buka Priority Lounge
Bank Mandiri Buka Blokir Rekening Aktivis Botok Pati, Sampaikan Permintaan Maaf
Desil 1-10 Artinya Apa? Cek Kategori, Bansos, dan Cara Mengetahui Statusnya
BCA Bagikan Dividen Interim Rp3,07 Triliun
Bank Mandiri Minta Maaf Terkait Rekening Koordinator AMPB, Ini Penjelasannya
PPh Final UMKM Dibatasi, Ini 3 Wajib Pajak yang Masih Bisa Menggunakannya
Kisah Hui Ka Yan: Dari Miliarder Dunia, Kini Divonis Seumur Hidup
Status Desil DTKS Tidak Sesuai? Begini Cara Mengubahnya Lewat Aplikasi Cek Bansos
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 12:00 WIB

Bidik Pasar BSD, Bank Sinarmas Buka Priority Lounge

Kamis, 27 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Bank Mandiri Buka Blokir Rekening Aktivis Botok Pati, Sampaikan Permintaan Maaf

Rabu, 26 Agustus 2026 - 22:00 WIB

Desil 1-10 Artinya Apa? Cek Kategori, Bansos, dan Cara Mengetahui Statusnya

Selasa, 25 Agustus 2026 - 02:00 WIB

BCA Bagikan Dividen Interim Rp3,07 Triliun

Senin, 24 Agustus 2026 - 23:55 WIB

Bank Mandiri Minta Maaf Terkait Rekening Koordinator AMPB, Ini Penjelasannya

Berita Terbaru