Jakarta-Bank DBS Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan ekonomi hijau dan inklusif di Indonesia. Sepanjang 2025, bank asal Singapura tersebut meningkatkan portofolio pembiayaan berkelanjutan hingga mencapai Rp15,6 triliun. Nilai tersebut naik dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp14,1 triliun.
Peningkatan pembiayaan hijau itu menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat sektor usaha yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan, energi bersih, hingga pengembangan ekonomi inklusif. Langkah ini juga dinilai sejalan dengan tren global yang semakin mendorong investasi berbasis environmental, social, and governance (ESG).
Presiden Direktur Bank DBS Indonesia, Lim Chu Chong, mengatakan keberlanjutan kini telah menjadi bagian penting dalam seluruh aktivitas bisnis perusahaan. Tidak hanya dalam penyaluran kredit, tetapi juga dalam pengelolaan risiko hingga operasional internal perusahaan.
Menurut Lim Chu Chong, bank masa depan harus mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi yang lebih hijau, kuat, dan merata. Karena itu, DBS Indonesia terus memperluas dukungan pembiayaan terhadap sektor-sektor yang dinilai memiliki dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Dalam laporan keberlanjutan terbaru, DBS Indonesia memaparkan tiga fokus utama perusahaan, yakni praktik perbankan bertanggung jawab, tata kelola bisnis berkelanjutan, dan kontribusi sosial di luar sektor keuangan. Strategi tersebut menjadi fondasi utama perusahaan dalam memperkuat posisinya di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan hijau di Indonesia.
Dari sisi inklusi keuangan, DBS Indonesia telah menyalurkan lebih dari Rp3,8 triliun kepada masyarakat berpenghasilan rendah melalui berbagai mitra pembiayaan. Selain itu, perusahaan juga mengalokasikan kredit modal kerja sebesar Rp70 miliar kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) guna mendukung pertumbuhan sektor usaha produktif nasional.
Kinerja tersebut turut tercermin dari Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) perusahaan yang mencapai 6,97 persen. Angka tersebut berhasil melampaui target internal bank dan menunjukkan peningkatan kontribusi perusahaan terhadap akses pembiayaan masyarakat.
Di pasar modal, DBS Indonesia juga mencatat pencapaian positif melalui penjualan obligasi hijau yang melampaui Rp1 triliun sepanjang 2025. Sementara itu, investasi pada reksa dana berbasis ESG tercatat mencapai Rp148 miliar di tengah meningkatnya minat investor terhadap instrumen investasi ramah lingkungan.
Tak hanya itu, perusahaan juga aktif mendukung pengembangan energi bersih melalui kerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, PLN, dan International Energy Agency dalam pengembangan battery energy storage system (BESS) atau sistem penyimpanan energi baterai.
Pada sektor operasional, DBS Indonesia berhasil menekan konsumsi energi sebesar 15 persen menjadi 8.397 megawatt hour (MWh). Emisi gas rumah kaca perusahaan juga turun 17 persen menjadi 11.528 ton setara karbon dioksida. Perusahaan turut menggunakan energi terbarukan sebesar 213 MWh serta membeli Renewable Energy Certificate (REC) sebanyak 8.500 MWh untuk mendukung pasar energi hijau nasional.
Selain fokus pada pembiayaan hijau, DBS Indonesia juga memperkuat sistem keamanan digital dan perlindungan nasabah. Berbagai langkah dilakukan mulai dari pengembangan sistem pemantauan penipuan digital, masa penangguhan transfer dana bernilai besar, hingga penerapan token digital terbaru. Edukasi keamanan finansial kepada masyarakat juga diperkuat melalui kampanye “Behind the Scam”.
FAQ
Apa itu pembiayaan berkelanjutan?
Pembiayaan berkelanjutan adalah penyaluran dana kepada sektor usaha yang mendukung keberlanjutan lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan yang baik.
Berapa nilai pembiayaan berkelanjutan DBS Indonesia pada 2025?
DBS Indonesia mencatat pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp15,6 triliun sepanjang 2025.
Sektor apa yang menjadi fokus DBS Indonesia?
Fokus utama meliputi energi bersih, UMKM, ekonomi inklusif, dan investasi berbasis ESG.
Apa itu ESG?
ESG merupakan singkatan dari environmental, social, and governance yang menjadi indikator investasi berkelanjutan.
Apa tujuan kerja sama DBS Indonesia dengan PLN dan IEA?
Kerja sama tersebut bertujuan mendukung pengembangan sistem penyimpanan energi baterai atau battery energy storage system (BESS).









