Rupiah Melemah ke Rp17.445 per Dolar AS, Geopolitik Global Jadi Pemicu

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 12 Mei 2026 - 04:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

EKONOMI-Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah berada di bawah tekanan kuat akibat gejolak global dan menguatnya dolar Amerika Serikat. Pelemahan mata uang nasional itu dinilai bukan sekadar persoalan pasar keuangan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.445 per dolar AS, menjadi salah satu level terlemah dalam sejarah perdagangan mata uang Indonesia. Meski sempat mengalami penguatan terbatas, kondisi rupiah masih dinilai rentan terhadap sentimen eksternal.

Pengamat ekonomi menyebut ada sejumlah faktor yang memicu tekanan terhadap rupiah. Salah satunya adalah meningkatnya tensi geopolitik global, terutama konflik di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran investor internasional.

Ketidakpastian global membuat pelaku pasar cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap aman seperti dolar AS. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut mengalami pelemahan.

Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak dunia juga memberikan tekanan tambahan bagi perekonomian Indonesia. Sebagai negara yang masih mengimpor energi, kenaikan harga minyak membuat kebutuhan dolar AS meningkat untuk pembelian impor migas.

Baca Juga :  Purbaya Dukung Efisiensi MBG, Tapi Ingatkan Jangan Korbankan Gizi Masyarakat

Situasi tersebut berdampak pada meningkatnya biaya logistik dan produksi di berbagai sektor. Pada akhirnya, kondisi itu berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan menekan daya beli masyarakat.

Di sisi lain, kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed juga memperkuat posisi dolar. Investor global dinilai lebih memilih menyimpan dana di aset berbasis dolar karena dianggap lebih menguntungkan dan aman.

Meski demikian, kondisi fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup solid. Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2026 tercatat tetap positif, sementara inflasi masih berada dalam rentang yang terkendali.

Indonesia juga masih mencatat surplus perdagangan yang menunjukkan aktivitas ekspor tetap berjalan baik. Namun tekanan global yang besar membuat fundamental domestik belum cukup kuat untuk menopang nilai tukar rupiah secara maksimal.

Baca Juga :  Harga BBM Pertamina 16 Maret 2026 di Sumut, Sumbar dan Jambi: Pertamax hingga Dexlite Naik

Pelemahan rupiah diperkirakan akan paling terasa pada produk-produk impor seperti elektronik, obat-obatan, bahan baku industri, hingga komponen mesin. Harga tiket perjalanan luar negeri, biaya umrah, serta produk berbasis impor juga berpotensi mengalami kenaikan.

Bagi pelaku usaha, terutama yang memiliki utang dalam dolar AS atau bergantung pada bahan baku impor, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya operasional dan memperkecil margin keuntungan.

Sementara itu, Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi pasar valuta asing dan menjaga kebijakan suku bunga guna menahan tekanan terhadap rupiah.

Ekonom menilai kondisi ini menjadi pengingat penting bahwa Indonesia perlu memperkuat struktur ekonomi nasional, termasuk mengurangi ketergantungan impor dan memperbesar nilai tambah ekspor agar lebih tahan menghadapi gejolak global.

Berita Terkait

PPh 22 E-Commerce Mulai 1 Oktober 2026, Tokopedia hingga Shopee Jadi Pemungut Pajak
Pinjaman Online 2026: Cara Mengecek Legalitas dan Biaya Pinjaman Sebelum Mengajukan
BSU Rp900 Ribu Cair untuk Oktober-Desember 2026, Ini Syarat dan Cara Ceknya
KUR BRI Rp25 Juta: Berapa Cicilan per Bulan dan Apa Syaratnya?
LPS Tahan Bunga Penjaminan 3,75% hingga Januari 2027, Nasabah Wajib Cek Bunga Deposito
Belanja Pegawai Daerah Tak Wajib 30% pada 2027? Ini Penjelasannya
QRIS Kian Mendunia, Sudah Terhubung 6 Negara dan Siap Ekspansi ke 3 Negara Lagi
Short Selling Resmi Berlaku Hari Ini, Baru 50 Investor Buka Rekening
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 05:00 WIB

PPh 22 E-Commerce Mulai 1 Oktober 2026, Tokopedia hingga Shopee Jadi Pemungut Pajak

Jumat, 2 Oktober 2026 - 03:02 WIB

Pinjaman Online 2026: Cara Mengecek Legalitas dan Biaya Pinjaman Sebelum Mengajukan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 02:00 WIB

BSU Rp900 Ribu Cair untuk Oktober-Desember 2026, Ini Syarat dan Cara Ceknya

Jumat, 2 Oktober 2026 - 01:01 WIB

KUR BRI Rp25 Juta: Berapa Cicilan per Bulan dan Apa Syaratnya?

Jumat, 2 Oktober 2026 - 00:33 WIB

LPS Tahan Bunga Penjaminan 3,75% hingga Januari 2027, Nasabah Wajib Cek Bunga Deposito

Berita Terbaru