TEKNOLOGI – Xiaomi kembali menarik perhatian dunia teknologi. Kali ini bukan melalui smartphone atau perangkat pintar, melainkan inovasi terbaru di sektor kendaraan listrik (EV) berupa robot pengisi daya otomatis yang mampu mencolokkan dan mencabut kabel charger tanpa bantuan manusia.
Teknologi tersebut diperkenalkan Xiaomi sebagai solusi pengisian daya kendaraan listrik di rumah. Perangkat berbentuk lengan robotik itu dirancang untuk memudahkan pemilik mobil listrik saat mengisi daya kendaraan di garasi tanpa perlu turun tangan secara langsung.
Menariknya, konsep yang diusung Xiaomi ini mengingatkan publik pada proyek serupa yang pernah diperkenalkan Tesla lebih dari satu dekade lalu, namun akhirnya tidak pernah dipasarkan secara massal.
Xiaomi Kembangkan Robot Charger Berbasis AI
Dalam demonstrasi yang dilakukan perusahaan, lengan robot pengisi daya dapat bergerak secara otomatis menuju port pengisian daya kendaraan. Sistem ini memanfaatkan teknologi pengenalan visual berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendeteksi lokasi port charger secara presisi.
Xiaomi mengklaim robot tersebut mampu mengarahkan konektor pengisian dengan tingkat akurasi hingga sub-milimeter. Setelah menemukan posisi yang tepat, perangkat akan secara otomatis mencolokkan kabel dan memulai proses pengisian daya.
Tak hanya itu, sistem juga dapat berkomunikasi langsung dengan kendaraan untuk membuka dan menutup penutup port pengisian secara otomatis.
Seluruh proses dapat dipantau dan dikendalikan melalui aplikasi smartphone yang terhubung dengan ekosistem kendaraan listrik dan rumah pintar Xiaomi.
Menghidupkan Kembali Ide yang Pernah Ditinggalkan Tesla
Kehadiran teknologi ini langsung mengingatkan banyak pihak pada inovasi yang pernah diperkenalkan CEO Tesla, Elon Musk, pada 2015.
Saat itu Tesla memamerkan prototipe pengisi daya otomatis berbentuk lengan mekanis menyerupai ular yang dapat bergerak sendiri menuju port pengisian kendaraan listrik.
Namun proyek tersebut tidak pernah berlanjut ke tahap komersialisasi dan akhirnya dihentikan. Tesla kemudian mengalihkan fokus pengembangan ke teknologi pengisian daya nirkabel atau wireless charging untuk kendaraan masa depan.
Berbeda dengan Tesla, Xiaomi memilih mempertahankan sistem pengisian menggunakan kabel fisik, namun seluruh prosesnya dibuat otomatis melalui bantuan robot.
Lebih Efisien Dibandingkan Wireless Charging
Menurut Xiaomi, penggunaan kabel fisik tetap memiliki keunggulan dibandingkan teknologi pengisian daya nirkabel yang saat ini mulai berkembang.
Pada sistem wireless charging, energi listrik ditransfer melalui induksi elektromagnetik sehingga sebagian daya dapat hilang selama proses pengiriman energi.
Tingkat efisiensi pengisian daya nirkabel umumnya berada di kisaran 88 hingga 93 persen dalam kondisi ideal.
Sementara itu, pengisian daya menggunakan kabel fisik mampu mencapai efisiensi sekitar 95 persen karena tidak mengalami kehilangan energi akibat jarak atau celah udara antara sumber daya dan kendaraan.
Selain itu, koneksi kabel juga memungkinkan daya pengisian yang lebih besar dibandingkan teknologi pengisian nirkabel saat ini yang umumnya masih dibatasi hingga sekitar 11 kW.
Siap Dipasarkan Akhir 2026
Robot charger otomatis Xiaomi memiliki desain yang cukup ringkas dengan ketebalan sekitar 152 milimeter sehingga dapat dipasang di area garasi rumah yang tidak terlalu luas.
Perusahaan menargetkan produk tersebut mulai tersedia secara komersial pada kuartal IV 2026 atau sekitar November hingga Desember mendatang.
Meski demikian, Xiaomi masih belum mengungkap harga resmi perangkat tersebut.
Kehadiran robot charger ini diperkirakan akan melengkapi lini pengisian daya kendaraan listrik Xiaomi yang saat ini sudah tersedia dalam varian wallbox charger berdaya 7 kW dan 11 kW.
Jika berhasil diterima pasar, teknologi ini berpotensi menjadi salah satu standar baru dalam pengalaman pengisian daya kendaraan listrik di masa depan, terutama untuk penggunaan rumahan yang mengutamakan kenyamanan dan efisiensi.









