Singapura Kembangkan Teknologi Pendingin Tanpa AC

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 2 November 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TEKNOLOHI – Singapura mulai mengembangkan teknologi pendinginan alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pendingin udara atau air conditioner (AC). Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap tingginya suhu udara, konsumsi listrik bangunan, serta dampak lingkungan akibat penggunaan AC secara masif.

Negara kota tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah yang sangat bergantung pada pendingin ruangan. Kondisi iklim tropis dengan suhu panas dan kelembapan tinggi membuat AC menjadi fasilitas yang umum ditemukan di rumah, pusat perbelanjaan, perkantoran, hingga fasilitas publik.

Namun, penggunaan AC dalam skala besar membawa konsekuensi terhadap kebutuhan energi dan emisi karbon. Karena itu, Singapura mulai menguji berbagai teknologi yang mampu menjaga kenyamanan suhu ruangan tanpa selalu mengandalkan sistem pendingin konvensional.

Sejumlah teknologi yang dikembangkan mencakup active chilled beams, passive displacement cooling, radiant cooling, hingga sistem hybrid cooling yang menggabungkan AC dengan kipas.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi Singapura untuk menghemat energi sekaligus mendukung target mencapai emisi karbon nol bersih pada 2050.

Ketergantungan Singapura terhadap AC Semakin Jadi Perhatian

Menurut laporan AFP yang dikutip Kompas.com pada 1 November 2026, sekitar 99 persen rumah pribadi di Singapura telah dilengkapi AC.

Angka tersebut menunjukkan betapa pentingnya pendingin ruangan bagi kehidupan masyarakat di negara dengan iklim tropis tersebut.

Di kawasan komersial seperti Orchard Road, udara dingin dari dalam toko bahkan dapat terasa hingga ke area trotoar ketika pintu bangunan terbuka.

Sementara itu, suhu siang hari di Singapura umumnya berada pada kisaran 31 hingga 33 derajat Celsius sepanjang tahun.

Masalahnya, penggunaan AC secara terus-menerus membutuhkan energi dalam jumlah besar. Sektor bangunan disebut menyumbang sekitar seperlima emisi Singapura, sedangkan sistem pendinginan dapat menyerap sekitar 40 hingga 60 persen konsumsi energi sebuah bangunan.

Selain menggunakan listrik, unit kompresor AC juga membuang panas dari dalam ruangan ke lingkungan luar. Jika listrik yang digunakan berasal dari bahan bakar fosil, kebutuhan pendinginan tersebut turut berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca.

Kondisi ini mendorong pemerintah, pengembang bangunan, dan para ahli mencari cara lain untuk mempertahankan kenyamanan ruangan dengan konsumsi energi lebih rendah.

Active Chilled Beams, Pendinginan Tanpa Dengung AC Konvensional

Salah satu teknologi yang mulai diterapkan di Singapura adalah active chilled beams.

Sistem tersebut digunakan di Paya Lebar Green, sebuah gedung delapan lantai yang berada di bagian timur Singapura.

Berbeda dari AC konvensional yang mengandalkan unit pendingin dan aliran udara mekanis, active chilled beams menggunakan panel khusus berlubang yang dilengkapi kumparan pendingin di bagian langit-langit.

Dalam sistem tersebut, air didinginkan hingga sekitar 9 derajat Celsius sebelum dialirkan menuju kumparan di dalam panel.

Pada saat bersamaan, udara disemburkan melalui lubang-lubang kecil sehingga menciptakan tekanan rendah. Kondisi ini membantu menarik udara ruangan yang lebih hangat menuju panel pendingin.

Baca Juga :  Allianz Resmi Akuisisi HSBC Life Singapore Rp37,5 Triliun, Begini Dampaknya bagi Industri Asuransi Asia

Udara kemudian melewati kumparan yang telah didinginkan sebelum kembali bersirkulasi ke dalam ruangan.

Teknologi tersebut mampu menjaga suhu kantor di Paya Lebar Green pada kisaran 24 derajat Celsius.

Keunggulan lainnya adalah tingkat kebisingan yang lebih rendah dibandingkan sistem AC konvensional. Tidak adanya dengung mesin yang terus-menerus membuat lingkungan kerja terasa lebih tenang.

Menurut DP Architects selaku perancang gedung, penggunaan teknologi tersebut dapat mengurangi konsumsi energi lebih dari 30 persen dibandingkan AC konvensional.

Passive Displacement Cooling Memanfaatkan Aliran Udara Alami

Teknologi pendinginan alternatif lainnya diterapkan pada gedung pemeliharaan Otoritas Pelabuhan Singapura di kawasan Tuas.

Bangunan tersebut menggunakan sistem passive displacement cooling yang memanfaatkan pergerakan udara secara alami.

Prinsip kerjanya mengandalkan perbedaan suhu dan kepadatan udara. Udara yang telah didinginkan menjadi lebih berat sehingga bergerak turun ke bagian bawah ruangan.

Ketika menyerap panas dari lingkungan dan aktivitas manusia, udara tersebut akan menghangat dan bergerak naik kembali.

Siklus pergerakan udara ini membantu menjaga kondisi ruangan tanpa terlalu bergantung pada kipas mekanis.

Dengan mengurangi kebutuhan penggunaan kipas, sistem tersebut berpotensi menekan konsumsi listrik sekaligus mengurangi kebisingan di dalam bangunan.

Radiant Cooling Menyerap Panas melalui Panel dan Pipa

Singapura juga mengembangkan teknologi radiant cooling atau pendinginan radiasi.

Sistem ini menggunakan air bersuhu sekitar 14 hingga 18 derajat Celsius yang dialirkan melalui pipa atau panel khusus.

Air dingin tersebut membantu menyerap panas yang dipancarkan manusia maupun benda di dalam ruangan.

Berbeda dengan sistem AC yang sangat mengandalkan sirkulasi udara dingin, radiant cooling bekerja dengan mengurangi panas melalui permukaan yang didinginkan.

Teknologi ini dapat menjadi alternatif untuk bangunan yang membutuhkan kenyamanan suhu dengan pergerakan udara lebih sedikit.

Meski demikian, penerapannya harus memperhatikan kelembapan udara dan risiko kondensasi atau pengembunan pada permukaan yang terlalu dingin.

Karena itu, pengaturan suhu dan kelembapan menjadi bagian penting dalam pengoperasian sistem tersebut.

Pemerintah Singapura Bidik Penghematan Energi hingga 48 Persen

Pengembangan teknologi pendinginan alternatif mendapat dukungan pemerintah Singapura.

Studi pemerintah pada 2024 mengidentifikasi alternative cooling technologies (ACTs) sebagai salah satu strategi untuk mengurangi konsumsi energi pada sektor bangunan.

Teknologi tersebut diperkirakan berpotensi menghemat konsumsi energi Singapura hingga 48 persen.

Hingga pertengahan 2026, setidaknya 33 gedung publik dan 14 gedung swasta di negara tersebut telah menggunakan teknologi pendinginan alternatif.

Penerapan teknologi ini menjadi bagian dari upaya lebih luas untuk menekan emisi karbon dan mencapai target nol emisi bersih pada 2050.

Namun, penerapannya belum sepenuhnya meluas. Biaya pemasangan yang relatif tinggi dan kebiasaan masyarakat menggunakan AC konvensional masih menjadi tantangan.

Hybrid Cooling Jadi Pilihan yang Lebih Mudah Diterapkan

Di antara berbagai teknologi yang dikembangkan, hybrid cooling menjadi salah satu metode yang paling banyak digunakan saat ini.

Baca Juga :  Huawei Mate X7 Meluncur di RI 5 Maret 2026, Layar Lebih Tangguh & RAM 20GB

Sistem tersebut menggabungkan penggunaan AC dengan kipas, tetapi suhu pendingin ruangan diatur lebih tinggi, yakni sekitar 25,5 hingga 27 derajat Celsius.

Pendekatan ini bertujuan mengurangi beban kerja AC tanpa menghilangkan kenyamanan penghuni bangunan.

Penggunaan kipas membantu memperlancar pergerakan udara sehingga ruangan tetap terasa nyaman meskipun suhu AC dinaikkan.

Menurut Chua Zi Jun, Direktur DP Architects, perubahan kebiasaan menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penerapan teknologi pendinginan alternatif.

Masyarakat yang telah terbiasa bekerja dan beraktivitas di ruangan bersuhu dingin membutuhkan waktu untuk menerima pengaturan suhu yang lebih tinggi.

Karena itu, keberhasilan teknologi tersebut tidak hanya ditentukan oleh kemampuan perangkat, tetapi juga oleh perubahan pola pikir pengguna.

Pakar Sebut Teknologi Pendinginan Masih Perlu Dikembangkan

Permintaan terhadap sistem pendinginan diperkirakan terus meningkat seiring perubahan iklim yang mendorong kenaikan suhu dan kelembapan.

AC konvensional selama ini menggunakan prinsip kompresi uap dan refrigeran untuk memindahkan panas dari dalam ruangan ke luar.

Sementara itu, teknologi pendinginan alternatif berusaha mengurangi energi yang dibutuhkan untuk mengalirkan udara dingin atau memperpendek waktu pengoperasian sistem pendingin.

Pakar teknologi pendinginan dari Nanyang Technological University, Wan Man Pun, menilai pengembangan teknologi tersebut merupakan langkah yang tepat.

Ke depan, sistem pendinginan juga berpotensi dilengkapi teknologi kontrol yang lebih canggih. Salah satunya adalah sistem prediktif yang dapat menyesuaikan suhu sebelum ruangan menjadi terlalu panas atau terlalu dingin.

Meski demikian, Wan mengingatkan bahwa hingga saat ini belum ada teknologi pendinginan alternatif yang memiliki tingkat efisiensi lebih tinggi dibandingkan sistem kompresi uap yang digunakan AC konvensional.

Artinya, teknologi baru tersebut masih membutuhkan pengembangan dan pengujian lebih lanjut sebelum dapat diterapkan secara luas.

Bisakah Teknologi Singapura Diterapkan di Indonesia?

Pengalaman Singapura dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia, terutama untuk mengurangi konsumsi listrik pada gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, dan fasilitas publik.

Penggunaan sistem hybrid cooling, pengaturan suhu AC yang lebih bijak, serta pemanfaatan desain bangunan yang mendukung sirkulasi udara alami dapat menjadi langkah awal.

Namun, penerapan teknologi seperti chilled beams dan radiant cooling perlu disesuaikan dengan kondisi iklim, tingkat kelembapan, desain bangunan, biaya investasi, serta kemampuan perawatan.

Tidak semua bangunan harus menggunakan teknologi yang sama. Pemilihan sistem pendinginan perlu mempertimbangkan kebutuhan penghuni dan potensi penghematan energi dalam jangka panjang.

Langkah Singapura menunjukkan bahwa solusi menghadapi suhu panas tidak selalu harus bergantung pada penggunaan AC secara maksimal. Kombinasi teknologi, desain bangunan, dan perubahan kebiasaan dapat menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih hemat energi.

Berita Terkait

Cari HP Android Terbaru? Ini 5 Pilihan dengan Spesifikasi Menarik
Update Harga HP Samsung November 2026, Galaxy A, S, Z Series dari Termurah hingga Termahal
Samsung Galaxy W27 Resmi Meluncur, HP Lipat Kamera 200 MP Harga Rp50 Jutaan
Laptop HP Pavilion untuk Pelajar dan Pekerja, Cek RAM, SSD, dan Prosesornya
ASUS ROG Phone 6 Masih Menarik untuk Gaming, Ini Spesifikasi dan Harganya
Pemerintah Bidik Internet 100 Mbps di Bawah Rp200 Ribu, Kapan Bisa Dinikmati?
AI Diprediksi Ciptakan 170 Juta Lapangan Kerja Baru pada 2030, Ini Tantangannya
POCO X8 dan C95 Pro Resmi di Indonesia, Baterai 8.340 mAh dan Harga Mulai Rp3 Jutaan
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 10:00 WIB

Singapura Kembangkan Teknologi Pendingin Tanpa AC

Senin, 2 November 2026 - 08:00 WIB

Cari HP Android Terbaru? Ini 5 Pilihan dengan Spesifikasi Menarik

Senin, 2 November 2026 - 07:00 WIB

Update Harga HP Samsung November 2026, Galaxy A, S, Z Series dari Termurah hingga Termahal

Senin, 2 November 2026 - 02:00 WIB

Samsung Galaxy W27 Resmi Meluncur, HP Lipat Kamera 200 MP Harga Rp50 Jutaan

Minggu, 1 November 2026 - 18:00 WIB

Laptop HP Pavilion untuk Pelajar dan Pekerja, Cek RAM, SSD, dan Prosesornya

Berita Terbaru

Teknologi

Singapura Kembangkan Teknologi Pendingin Tanpa AC

Senin, 2 Nov 2026 - 10:00 WIB