Pemerintah Bidik Internet 100 Mbps di Bawah Rp200 Ribu, Kapan Bisa Dinikmati?

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 1 November 2026 - 06:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TEKNOLOGI – Masyarakat Indonesia berpeluang menikmati layanan internet rumah dengan kecepatan hingga 100 Mbps dengan biaya sekitar Rp140 ribu per bulan. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah mendorong perluasan jaringan internet berbasis fiber optik agar layanan berkecepatan tinggi dapat diakses dengan harga lebih terjangkau.

Target tersebut disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria. Menurutnya, pemerintah menginginkan layanan fixed broadband dengan kecepatan 100 Mbps dapat dinikmati masyarakat dengan biaya di bawah Rp200 ribu.

Gagasan ini diharapkan menjadi solusi bagi rumah tangga yang membutuhkan koneksi internet untuk berbagai aktivitas, mulai dari belajar, bekerja, menjalankan usaha, hingga mengakses layanan digital.

Nezar menyebutkan, dengan biaya sekitar Rp140 ribu, satu koneksi internet berkecepatan 100 Mbps dapat dimanfaatkan bersama oleh seluruh anggota keluarga.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah kegiatan di Jakarta pada Selasa (27/10/2026), sebagaimana dikutip dari keterangan resmi pemerintah.

Pemerintah Ingin Internet Rumah Lebih Terjangkau

Perluasan akses internet menjadi salah satu agenda pemerintah untuk memperkuat infrastruktur digital nasional. Salah satu pendekatan yang didorong adalah memperluas jaringan fixed broadband hingga menjangkau lebih banyak rumah tangga.

Berbeda dengan internet seluler yang menggunakan jaringan operator dan kuota atau paket data, fixed broadband merupakan layanan internet tetap yang umumnya disalurkan melalui kabel fiber optik menuju rumah atau bangunan pelanggan.

Menurut Nezar, perluasan jaringan fiber optik dapat membantu menekan biaya layanan internet. Infrastruktur tersebut memungkinkan koneksi berkecepatan tinggi digunakan secara bersama oleh anggota keluarga tanpa setiap orang harus membeli paket data seluler secara terpisah.

Pemerintah juga menginginkan jaringan internet berkualitas tidak hanya terkonsentrasi di kawasan bisnis dan pusat perkotaan. Rumah tangga di berbagai wilayah diharapkan memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk menikmati layanan konektivitas.

Meski demikian, target harga Rp140 ribu untuk kecepatan 100 Mbps masih merupakan sasaran yang disampaikan pemerintah. Masyarakat tetap perlu menunggu realisasi program, skema kerja sama penyedia layanan, cakupan jaringan, serta ketentuan harga yang berlaku.

Kecepatan 100 Mbps Bisa Mendukung Aktivitas Keluarga

Koneksi internet 100 Mbps berpotensi memberikan manfaat bagi rumah tangga yang memiliki banyak perangkat terhubung.

Kecepatan tersebut dapat mendukung sejumlah aktivitas digital secara bersamaan, seperti mengikuti pembelajaran daring, rapat melalui konferensi video, menonton layanan streaming, mengunduh dokumen, hingga mengelola toko online.

Baca Juga :  Pasar Gim Indonesia Tembus Rp32 Triliun, 68 Juta Gamer Jadi Kekuatan Ekonomi Digital

Bagi keluarga dengan anak usia sekolah, internet rumah juga dapat membantu mengakses materi pembelajaran dan sumber pengetahuan digital.

Sementara bagi pelaku usaha kecil, koneksi yang stabil dapat mendukung transaksi daring, komunikasi dengan pelanggan, pengelolaan toko digital, serta promosi melalui media sosial.

Namun, pengalaman penggunaan internet tidak hanya ditentukan oleh angka kecepatan yang tercantum dalam paket. Stabilitas koneksi, kualitas perangkat router, jumlah pengguna, kondisi jaringan, dan kapasitas server layanan yang diakses juga berpengaruh.

Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kualitas layanan secara keseluruhan, bukan sekadar mengejar angka 100 Mbps.

Jaringan Fiber Optik Perlu Diperluas hingga Rumah Tangga

Salah satu tantangan dalam mewujudkan internet murah adalah pemerataan infrastruktur. Jaringan fiber optik belum tentu tersedia di seluruh kawasan permukiman, terutama di wilayah yang jauh dari pusat ekonomi dan perkotaan.

Pemerintah menilai pembangunan jaringan hingga rumah tangga menjadi langkah penting agar layanan internet berkecepatan tinggi dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

Perluasan infrastruktur juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk operator telekomunikasi dan penyelenggara layanan internet.

Ketersediaan jaringan di suatu wilayah akan menentukan apakah masyarakat dapat berlangganan layanan fixed broadband. Dengan demikian, target harga murah perlu berjalan beriringan dengan peningkatan cakupan jaringan.

Bagi masyarakat di daerah yang belum terjangkau fiber optik, pemerataan infrastruktur menjadi faktor penting agar mereka tidak tertinggal dalam pemanfaatan teknologi digital.

Pemerintah Bidik Adopsi 5G hingga 40 Persen

Selain mengembangkan jaringan internet tetap, Komdigi juga menargetkan peningkatan pemanfaatan teknologi 5G dalam beberapa tahun mendatang.

Nezar Patria menyebut adopsi 5G di Indonesia saat ini masih berada di bawah 10 persen. Pemerintah ingin meningkatkan angka tersebut hingga mendekati 30–40 persen dalam kurun waktu tiga sampai lima tahun ke depan.

Peningkatan adopsi 5G diharapkan dapat memperkuat konektivitas seluler dan mendukung perkembangan berbagai layanan berbasis teknologi digital.

Teknologi ini memiliki potensi untuk mendukung komunikasi berkecepatan tinggi, pengembangan industri, layanan berbasis data, serta berbagai kebutuhan masyarakat yang membutuhkan koneksi seluler dengan latensi rendah.

Meski demikian, perluasan 5G membutuhkan dukungan infrastruktur, termasuk jaringan pendukung, pembangunan dan peningkatan kapasitas BTS, serta ketersediaan perangkat yang kompatibel.

Apakah Internet 100 Mbps Rp140 Ribu Sudah Bisa Dipasang?

Masyarakat perlu memahami bahwa target yang disampaikan Komdigi bukan berarti seluruh penyedia layanan internet sudah menyediakan paket 100 Mbps dengan tarif Rp140 ribu.

Baca Juga :  HP Star Book Air 14 Resmi Meluncur, Laptop OLED Touchscreen Bobot 1,16 Kg

Realisasinya masih bergantung pada kebijakan pemerintah, kesiapan infrastruktur, kerja sama dengan operator, dan skema layanan yang akan diterapkan.

Sebelum berlangganan, calon pelanggan sebaiknya memeriksa cakupan jaringan di alamat masing-masing, biaya pemasangan, pajak, ketentuan kontrak, batas pemakaian jika ada, serta biaya tambahan lainnya.

Informasi resmi mengenai paket dan wilayah layanan perlu diperoleh langsung dari penyedia internet.

Jika target tersebut dapat diwujudkan secara luas, internet rumah berkecepatan 100 Mbps dengan harga terjangkau berpotensi membuka akses digital bagi lebih banyak keluarga Indonesia.

Kebijakan ini juga diharapkan membantu mengurangi kesenjangan akses internet antara kawasan perkotaan dan daerah yang selama ini belum mendapatkan konektivitas memadai.

FAQ Internet Rumah 100 Mbps

1. Berapa target harga internet rumah 100 Mbps dari pemerintah?

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyampaikan target biaya sekitar Rp140 ribu per bulan atau di bawah Rp200 ribu.

2. Apakah internet 100 Mbps seharga Rp140 ribu sudah tersedia?

Pernyataan tersebut merupakan target pemerintah. Ketersediaan paket dan harga aktual masih perlu menunggu realisasi serta pengumuman penyedia layanan.

3. Apa yang dimaksud fixed broadband?

Fixed broadband adalah layanan internet tetap yang disalurkan ke rumah atau bangunan pelanggan, umumnya melalui jaringan fiber optik.

4. Apakah kecepatan 100 Mbps cukup untuk satu keluarga?

Kecepatan tersebut dapat mendukung berbagai aktivitas digital keluarga, seperti belajar daring, rapat video, streaming, dan bekerja. Kualitas pengalaman tetap bergantung pada jumlah perangkat, stabilitas jaringan, dan kebutuhan pengguna.

5. Apa keuntungan internet fiber optik?

Fiber optik memungkinkan transmisi data berkecepatan tinggi dan dapat memberikan koneksi yang stabil jika jaringan serta perangkat pendukungnya bekerja dengan baik.

6. Apakah target internet murah berlaku untuk seluruh Indonesia?

Pemerintah mendorong pemerataan akses. Namun, penerapan layanan tetap bergantung pada ketersediaan infrastruktur dan cakupan jaringan di masing-masing wilayah.

7. Berapa target adopsi 5G di Indonesia?

Komdigi menargetkan adopsi 5G meningkat hingga mendekati 30–40 persen dalam tiga sampai lima tahun mendatang, dari tingkat yang disebut masih di bawah 10 persen.

8. Apa yang harus diperiksa sebelum memasang internet rumah?

Periksa ketersediaan jaringan, kecepatan aktual, biaya pemasangan, tarif bulanan, ketentuan kontrak, kualitas layanan pelanggan, dan kemungkinan biaya tambahan.

Berita Terkait

AI Diprediksi Ciptakan 170 Juta Lapangan Kerja Baru pada 2030, Ini Tantangannya
POCO X8 dan C95 Pro Resmi di Indonesia, Baterai 8.340 mAh dan Harga Mulai Rp3 Jutaan
MacBook Pro Layar Sentuh Resmi Meluncur, Harga Tertinggi Tembus Rp230 Juta
Kacamata Pintar XReal Aura Tawarkan Netflix hingga Game XR, Harganya Tembus Rp27 Juta
Mengapa Taiwan Penting bagi Dunia? Ini Peran TSMC dalam Industri Chip Global
Rekomendasi Tablet Kasir Murah untuk UMKM, Harga di Bawah Rp1 Juta
Ukuran GTA 6 Disebut 12 Kali Lebih Besar dari GTA 5, Ini Faktanya
Nothing Headphone (1) Pro Meluncur di Indonesia, Ini Fitur Unggulan dan Harganya
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 06:08 WIB

Pemerintah Bidik Internet 100 Mbps di Bawah Rp200 Ribu, Kapan Bisa Dinikmati?

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 20:00 WIB

AI Diprediksi Ciptakan 170 Juta Lapangan Kerja Baru pada 2030, Ini Tantangannya

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:00 WIB

POCO X8 dan C95 Pro Resmi di Indonesia, Baterai 8.340 mAh dan Harga Mulai Rp3 Jutaan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 12:00 WIB

MacBook Pro Layar Sentuh Resmi Meluncur, Harga Tertinggi Tembus Rp230 Juta

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:01 WIB

Kacamata Pintar XReal Aura Tawarkan Netflix hingga Game XR, Harganya Tembus Rp27 Juta

Berita Terbaru