TEKNOLOGI – Lama penggunaan nomor telepon seluler ternyata dapat menjadi salah satu data alternatif yang dipertimbangkan perusahaan pinjaman daring atau Pindar ketika menilai kelayakan calon peminjam.
Nomor HP yang telah digunakan dalam jangka panjang, misalnya hingga 10 tahun, dapat memberikan gambaran mengenai keberlangsungan identitas dan aktivitas seseorang. Namun, lamanya nomor telepon digunakan bukan berarti otomatis membuat seseorang mendapatkan pembiayaan.
Ketua Bidang Hubungan Masyarakat Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Kuseryansyah, menjelaskan bahwa perusahaan Pindar dapat menggunakan sejumlah data alternatif untuk membantu menilai calon nasabah yang belum memiliki rekam jejak kredit yang memadai.
Data tersebut dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk sektor telekomunikasi dan aktivitas digital.
Nomor HP Lama Bisa Menjadi Data Alternatif
Menurut Kuseryansyah, data telekomunikasi menjadi salah satu informasi yang dapat dimanfaatkan dalam proses penilaian calon peminjam.
Ia mencontohkan, usia penggunaan sebuah nomor telepon dapat menjadi salah satu indikator dalam sistem penilaian risiko.
“Data telko, kami lihat satu nomor saja, nomor HP sudah 10 tahun. Dari sana sudah punya scoring minimum,” kata Kuseryansyah dalam sebuah acara di Jakarta, dikutip Sabtu (29/8/2026).
Ia menjelaskan, penggunaan nomor telepon dalam jangka panjang dapat memberikan informasi tambahan mengenai keberadaan dan konsistensi seseorang dalam menggunakan layanan telekomunikasi.
Sebaliknya, nomor yang baru saja aktif dalam waktu sangat singkat dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan lebih lanjut oleh penyedia pembiayaan.
Meski demikian, data tersebut sebaiknya dipahami sebagai salah satu komponen penilaian, bukan sebagai pengganti mutlak skor kredit.
Penilaian Calon Peminjam Tak Hanya Berdasarkan Skor Kredit
Dalam sistem pembiayaan, penilaian terhadap calon nasabah dapat menggunakan berbagai informasi untuk mengukur kemampuan dan risiko pembayaran.
Pada pembiayaan konvensional, riwayat kredit menjadi salah satu informasi penting. Namun, calon peminjam yang belum mempunyai riwayat kredit panjang dapat menghadapi keterbatasan ketika mengajukan pembiayaan.
Di sinilah data alternatif dapat berperan.
Selain data telekomunikasi, Kuseryansyah menyebut aktivitas calon nasabah di media sosial sebagai salah satu informasi yang berpotensi digunakan dalam penilaian.
Penggunaan data alternatif memungkinkan penyedia pembiayaan mendapatkan gambaran yang lebih luas mengenai calon peminjam, terutama bagi masyarakat yang selama ini belum banyak memiliki akses terhadap produk kredit formal.
Nomor HP Aktif 10 Tahun Tidak Menjamin Pinjaman Disetujui
Informasi mengenai nomor HP yang telah digunakan selama 10 tahun perlu dipahami secara proporsional.
Artinya, seseorang yang telah menggunakan nomor telepon selama satu dekade tidak otomatis mendapatkan pinjaman atau pembiayaan.
Keputusan pemberian pembiayaan tetap bergantung pada kebijakan masing-masing penyelenggara, hasil penilaian risiko, kemampuan pembayaran, serta persyaratan lain yang berlaku.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menganggap usia nomor HP sebagai “pengganti skor kredit” secara langsung.
Data telekomunikasi lebih tepat dipahami sebagai data alternatif yang dapat membantu proses credit assessment ketika informasi kredit konvensional belum cukup.
Potensi Pasar Pindar di Indonesia Masih Besar
Pemanfaatan data alternatif juga berkaitan dengan upaya memperluas akses pembiayaan masyarakat.
Kuseryansyah menilai Indonesia memiliki potensi besar sebagai pasar Pindar karena jumlah penduduknya sangat besar dan kebutuhan terhadap pembiayaan masih tinggi.
Menurutnya, akses pinjaman tidak hanya dibutuhkan masyarakat kelas menengah dan atas. Masyarakat dengan pendapatan lebih rendah juga membutuhkan akses terhadap pembiayaan, sepanjang diberikan melalui mekanisme yang bertanggung jawab.
“Yang berhak mendapatkan akses pinjaman bukan hanya kelas menengah dan atas. Tapi masyarakat bawah berhak dapat pinjaman,” ujarnya.
Pembiayaan Pindar Tumbuh Signifikan
Data yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan outstanding pembiayaan Pindar mencapai Rp94,85 triliun pada November 2025.
Nilai tersebut tumbuh sekitar 25,45 persen secara tahunan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa industri Pindar telah menjadi salah satu bagian dari ekosistem pembiayaan nonbank di Indonesia. Kendati demikian, nilainya masih relatif kecil dibandingkan dengan keseluruhan kebutuhan pembiayaan nasional.
Sejumlah kajian memperkirakan kebutuhan pembiayaan nasional mencapai sekitar Rp2.650 triliun, sedangkan lembaga jasa keuangan konvensional disebut baru mampu menopang sekitar Rp1.000 triliun.
Dengan demikian, masih terdapat kesenjangan pembiayaan yang cukup besar.
Kebutuhan Pembiayaan UMKM Diperkirakan Terus Meningkat
Kebutuhan pembiayaan juga semakin besar di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Riset EY MSME Market Study and Policy Advocacy memperkirakan kebutuhan pembiayaan UMKM Indonesia pada 2026 dapat mencapai sekitar Rp4.300 triliun.
Dalam riset tersebut, credit gap atau kesenjangan pembiayaan UMKM diperkirakan mencapai sekitar Rp2.400 triliun.
Kondisi ini menjadi salah satu alasan berkembangnya berbagai inovasi dalam industri jasa keuangan, termasuk penggunaan data alternatif untuk menilai kelayakan calon peminjam.
Namun, perluasan akses pembiayaan tetap harus diimbangi dengan perlindungan konsumen, transparansi biaya, pengelolaan risiko, dan kemampuan masyarakat dalam membayar kembali pinjaman.
Apa yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengajukan Pinjaman Online?
Masyarakat yang ingin menggunakan layanan Pindar sebaiknya tidak hanya melihat kemudahan memperoleh pembiayaan.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan antara lain:
- Pastikan penyelenggara memiliki legalitas yang sesuai.
- Periksa total biaya pinjaman, bukan hanya jumlah dana yang diterima.
- Pahami tenor dan jadwal pembayaran.
- Hitung kemampuan membayar sebelum mengajukan pinjaman.
- Jangan memberikan data pribadi kepada pihak yang tidak jelas.
- Baca seluruh syarat dan ketentuan sebelum menyetujui pembiayaan.
- Hindari menggunakan pinjaman untuk menutup pinjaman lain secara terus-menerus.
Dengan demikian, keberadaan data alternatif seperti usia penggunaan nomor HP dapat membantu proses penilaian pembiayaan, tetapi keputusan finansial tetap harus dilakukan secara hati-hati.
Kesimpulan
Nomor HP yang telah aktif dan digunakan selama bertahun-tahun dapat menjadi salah satu data alternatif dalam penilaian calon nasabah Pindar. Informasi tersebut dapat membantu penyedia pembiayaan menilai seseorang yang belum mempunyai rekam jejak kredit yang panjang.
Namun, nomor HP aktif selama 10 tahun bukan jaminan seseorang pasti mendapatkan pinjaman. Data tersebut hanyalah salah satu indikator yang dapat digunakan bersama informasi lainnya dalam proses penilaian risiko.
Bagi masyarakat, yang paling penting adalah memahami seluruh biaya, risiko, serta kemampuan membayar sebelum mengambil pembiayaan.









