SUNGAIPENUH – Saat ini musim buah tengah berlangsung di wilayah Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci. Durian, rambutan, serta duku tampak mudah dijumpai di pasar tradisional hingga lapak pinggir jalan. Kerinci sendiri dikenal sebagai salah satu sentra durian lokal unggulan, seperti durian Pulau Tengah serta varietas Musang King yang banyak dibudidayakan di Kecamatan Gunung Raya dan Batang Merangin.
Melimpahnya pasokan membuat masyarakat semakin tergoda untuk menikmati durian dalam jumlah banyak.
Durian memang memiliki daya tarik kuat karena rasanya yang legit, teksturnya lembut, serta aromanya yang khas. Buah ini juga dikenal mengandung kalori tinggi yang mampu memberikan energi cepat bagi tubuh. Tak heran, saat musim tiba, durian kerap dikonsumsi berlebihan tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan masing-masing, termasuk bagi mereka yang memiliki riwayat gangguan pencernaan.
Namun di balik kenikmatannya, durian tidak selalu aman untuk semua orang. Bagi penderita asam lambung, maag, atau GERD, konsumsi durian justru berpotensi memicu keluhan serius. Kandungan tertentu dalam durian membuat lambung bekerja lebih keras, sehingga produksi asam lambung dapat meningkat dan memicu kekambuhan gejala.
Asam lambung sendiri merupakan cairan alami yang berfungsi membantu proses pencernaan. Dalam kondisi normal, asam lambung tidak menimbulkan masalah. Akan tetapi pada penderita maag atau GERD, produksi asam bisa berlebihan atau naik ke kerongkongan. Gejala yang sering muncul antara lain perih di ulu hati, sensasi panas di dada, mual, perut kembung, hingga rasa asam atau pahit di mulut.
Durian mengandung lemak, gula, dan karbohidrat yang relatif tinggi. Kombinasi ini memperlambat pengosongan lambung sehingga makanan bertahan lebih lama di dalam lambung. Akibatnya, tekanan di lambung meningkat dan asam lebih mudah naik ke kerongkongan. Selain itu, durian juga menghasilkan gas alami yang dapat menyebabkan perut terasa begah dan tidak nyaman, terutama pada lambung yang sensitif.
Mengonsumsi durian dalam jumlah banyak dapat memicu produksi asam lambung berlebih dan menimbulkan nyeri di ulu hati. Pada sebagian orang, durian juga memicu mual bahkan muntah, terlebih jika dikonsumsi saat perut kosong. Konsumsi di malam hari dinilai lebih berisiko karena posisi berbaring memudahkan asam lambung naik, sehingga dapat mengganggu kualitas tidur.
Jika kebiasaan ini terus berlanjut, dampak jangka panjangnya tidak bisa diabaikan. Frekuensi kambuh asam lambung dapat meningkat, peradangan lambung berpotensi menjadi kronis, bahkan bisa menyebabkan iritasi atau luka pada dinding lambung dan kerongkongan. Kondisi tersebut pada akhirnya menurunkan kualitas hidup karena nyeri yang berulang.
Penderita maag kronis, GERD, atau mereka yang memiliki lambung sensitif sebaiknya menghindari atau sangat membatasi konsumsi durian. Jika tetap ingin mencicipi, disarankan hanya dalam porsi sangat kecil, tidak dikonsumsi saat perut kosong, serta menghindari waktu malam hari. Langkah sederhana ini penting agar kenikmatan musim durian tidak berujung pada gangguan kesehatan yang serius. (***)
Editor : Fanda Yosephta









