Kampus di China Suruh Mahasiswa Jatuh Cinta, Ternyata Ini Alasannya

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 27 Maret 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Kebijakan tak biasa datang dari dunia pendidikan di China. Sebuah kampus justru mengimbau mahasiswanya untuk tidak fokus belajar selama libur, melainkan mencoba jatuh cinta dan menikmati masa muda.

Kampus tersebut adalah Sichuan Southwest Vocational College of Aviation. Lewat pengumuman resmi, pihak kampus meminta mahasiswa untuk “menikmati bunga dan romansa” saat libur tengah semester musim semi yang berlangsung pada 1 hingga 6 April.

Imbauan ini disampaikan melalui platform WeChat kampus. Dalam pesannya, mahasiswa diminta untuk meletakkan buku sejenak, keluar rumah, menikmati alam, dan membuka diri terhadap peluang menjalin hubungan asmara.

Kebijakan ini muncul tak lama setelah pemerintah China menambah jadwal libur musim semi dan musim gugur di sekolah dan perguruan tinggi. Penambahan ini melengkapi libur panjang musim panas dan musim dingin yang sudah lebih dulu diterapkan.

Baca Juga :  Gold Gala 2026 Diramaikan Artis Indonesia, Penampilan Joe Taslim dan Agnez Mo Curi Perhatian

Beberapa wilayah seperti Sichuan, Jiangsu, hingga kota Suzhou dan Nanjing mulai menyusun jadwal libur musim semi. Umumnya, libur ini berlangsung pada April hingga awal Mei.

Di balik kebijakan tersebut, pemerintah memiliki tujuan ekonomi. Dengan waktu libur lebih banyak, masyarakat diharapkan meningkatkan konsumsi domestik, termasuk di sektor pariwisata, hiburan, dan gaya hidup.

Namun, alasan yang lebih besar adalah krisis demografi. Populasi China dilaporkan terus menurun dalam beberapa tahun terakhir, sementara angka kelahiran juga mencapai titik terendah sepanjang sejarah.

Baca Juga :  Daftar 10 Asuransi Terbesar di AS, Referensi Pasar Global Termasuk Indonesia

Dalam konteks ini, hubungan sosial dan waktu luang dianggap penting untuk mendorong generasi muda menikah dan memiliki anak. National Development and Reform Commission bahkan mendorong pembangunan “kota ramah anak” dengan peningkatan fasilitas publik.

Pakar demografi sekaligus pendiri Trip.com, James Liang, menilai generasi muda membutuhkan waktu, biaya, dan dukungan untuk membangun keluarga. Edukasi terkait manfaat berkeluarga juga dinilai penting.

Ajakan untuk jatuh cinta ini memang terdengar sederhana. Namun di China, kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi besar yang menghubungkan pendidikan, gaya hidup, ekonomi, hingga masa depan populasi. (*/Tim)

Berita Terkait

Netanyahu Unggul dalam Pemilu Israel 2026, tetapi Gagal Raih Mayoritas
Mengapa Taiwan Penting bagi Dunia? Ini Peran TSMC dalam Industri Chip Global
Marc Marquez Menggila di Sepang, Jorge Martin Terancam Kehilangan Poin Penting
Hack Binance Terbesar? Ini Kronologi Dugaan Pencurian Aset Kripto Rp114 Triliun
Hasil Pemilu Israel Terbaru: Netanyahu Belum Tentu Jadi PM, Ini Alasannya
Meta Siapkan Saham Khusus Mark Zuckerberg, Antisipasi Pajak Miliarder
Elon Musk Prediksi 200 Perusahaan AI Bangkrut, SpaceX Siapkan Utang Rp 640 Triliun
Bill Gates Soroti Dampak AI hingga 20 Tahun ke Depan, Pemerintah Diminta Bersiap
Berita ini 69 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Netanyahu Unggul dalam Pemilu Israel 2026, tetapi Gagal Raih Mayoritas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 04:00 WIB

Mengapa Taiwan Penting bagi Dunia? Ini Peran TSMC dalam Industri Chip Global

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 02:00 WIB

Marc Marquez Menggila di Sepang, Jorge Martin Terancam Kehilangan Poin Penting

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 00:05 WIB

Hack Binance Terbesar? Ini Kronologi Dugaan Pencurian Aset Kripto Rp114 Triliun

Kamis, 29 Oktober 2026 - 02:00 WIB

Hasil Pemilu Israel Terbaru: Netanyahu Belum Tentu Jadi PM, Ini Alasannya

Berita Terbaru