Jakarta-Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat menjadi sorotan global setelah konflik dengan Iran semakin memanas. Ketegangan di kawasan Timur Tengah berdampak langsung pada pasar energi dunia dan memicu kenaikan harga minyak secara signifikan dalam waktu singkat.
Harga bensin di Amerika kini tercatat mencapai sekitar USD 3,72 per galon. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2023. Bahkan dalam beberapa pekan terakhir, harga BBM melonjak hingga 74 sen per galon, menunjukkan tekanan besar pada sektor energi akibat konflik geopolitik yang terus berkembang.
Kenaikan ini juga menjadi yang tercepat dalam beberapa tahun terakhir. Dalam satu bulan, harga bensin meningkat hampir 27 persen. Lonjakan tersebut mengingatkan pada periode krisis energi saat Badai Katrina yang sempat mengguncang pasar minyak global.
Tak hanya bensin, harga solar di AS juga mengalami kenaikan tajam. Saat ini, harga rata-rata solar mendekati USD 5 per galon. Dampaknya mulai dirasakan sektor logistik dan transportasi, di mana banyak perusahaan mulai menerapkan biaya tambahan bahan bakar yang berpotensi dibebankan kepada konsumen.
Kondisi ini dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia. Minyak Brent kini berada di atas USD 100 per barel, sementara minyak jenis WTI juga mendekati USD 100 per barel. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi global akibat konflik yang belum mereda.
Salah satu titik krusial berada di Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan ini langsung berdampak pada stabilitas harga energi, mengingat perannya yang sangat vital bagi suplai global.
Selain itu, serangan yang terjadi di Pulau Kharg turut memperparah kekhawatiran pasar. Pulau tersebut merupakan pusat ekspor minyak utama Iran. Meskipun target serangan disebut bukan fasilitas energi, risiko gangguan distribusi tetap tinggi.
Presiden Donald Trump sebelumnya sempat menyoroti keberhasilan menekan harga BBM selama masa jabatannya. Namun dengan kondisi terbaru, tekanan harga kembali meningkat dan berpotensi memicu inflasi serta berdampak pada ekonomi global, termasuk negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Kalau mau, saya bisa lanjut buatkan versi artikel kedua (angle berbeda, lebih clickbait & viral) biar bisa publish banyak dan naikin trafik cepat. (*/Tim)









