Asing Borong Saham GOTO Rp238 Miliar

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 18 Juni 2026 - 02:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

EKONOMI– Minat investor asing terhadap saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terus meningkat meski harga saham perseroan masih bertahan di level gocap atau Rp50 per lembar.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing membukukan aksi beli bersih (net buy) secara konsisten sejak pertengahan Mei hingga pertengahan Juni 2026. Total akumulasi pembelian bersih asing tercatat mencapai Rp238,64 miliar.

Fenomena tersebut menarik perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah berbagai sentimen yang membayangi emiten teknologi terbesar di Indonesia tersebut, termasuk evaluasi dari penyedia indeks global dan rencana aksi korporasi yang akan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Harga Saham Masih Bertahan di Level Gocap

Meski aliran dana asing terus masuk, harga saham GOTO belum menunjukkan kenaikan signifikan. Sejak awal Mei 2026, saham perusahaan teknologi ini masih bergerak di kisaran Rp50 per saham.

Namun sejumlah analis menilai kondisi tersebut justru membuka peluang akumulasi bagi investor jangka panjang. Salah satunya berasal dari Mandiri Sekuritas yang masih mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham GOTO.

Dalam riset terbarunya, Mandiri Sekuritas memberikan target harga sebesar Rp100 per saham, atau berpotensi naik sekitar 100 persen dari posisi harga saat ini.

Baca Juga :  Dua Hari Berturut-turut Trading Halt, Purbaya: IHSG Akan Pulih 2–3 Hari

MSCI dan FTSE Russell Beri Tantangan Baru

Di tengah masuknya dana asing, GOTO juga menghadapi tantangan dari penyedia indeks global.

MSCI sebelumnya mengumumkan pembekuan perubahan jumlah saham dan faktor inklusi asing (Foreign Inclusion Factor/FIF) untuk GOTO. Kebijakan tersebut dilakukan karena likuiditas saham dinilai belum memenuhi standar yang ditetapkan.

MSCI dijadwalkan kembali melakukan evaluasi pada Agustus 2026. Jika likuiditas perdagangan tidak mengalami perbaikan, saham GOTO berpotensi dikeluarkan dari indeks MSCI.

Selain MSCI, FTSE Russell juga telah mengumumkan penghapusan GOTO dari FTSE Global Equity Index Series Mid Cap Index yang efektif berlaku mulai 22 Juni 2026.

Keputusan tersebut diambil karena status saham GOTO yang saat ini berada di papan pengembangan BEI dinilai tidak memenuhi kriteria indeks FTSE untuk kategori tersebut.

Buyback Rp3,5 Triliun Jadi Katalis Positif

Salah satu agenda penting yang menjadi perhatian investor adalah rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai hingga Rp3,5 triliun.

Rencana tersebut akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 18 Juni 2026.

Program buyback dinilai dapat menjadi katalis positif bagi saham GOTO karena berpotensi meningkatkan nilai pemegang saham sekaligus menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis perusahaan.

Baca Juga :  Bank Mandiri Buka Blokir Rekening Aktivis Botok Pati, Sampaikan Permintaan Maaf

Selain buyback, agenda rapat juga mencakup evaluasi tata kelola perusahaan, pengangkatan kembali anggota dewan komisaris, serta pembahasan strategi bisnis dan pengelolaan modal jangka panjang.

Fokus pada Profitabilitas dan Ekosistem Digital

Dalam beberapa kuartal terakhir, GoTo terus menjalankan strategi efisiensi operasional dan penguatan profitabilitas. Perseroan juga fokus mengembangkan sinergi antar lini bisnis dalam ekosistem digital yang mencakup layanan transportasi, pengiriman, perdagangan elektronik, dan teknologi keuangan.

Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, menegaskan bahwa perusahaan tetap optimistis terhadap prospek bisnis jangka panjang.

Menurutnya, manajemen berkomitmen menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham melalui penguatan fundamental bisnis dan peningkatan efisiensi operasional.

Prospek Saham GOTO Masih Menarik?

Masuknya dana asing secara berkelanjutan menunjukkan bahwa sebagian investor institusi global masih melihat potensi pertumbuhan GOTO dalam jangka panjang.

Meski menghadapi tekanan dari evaluasi indeks global dan harga saham yang belum bergerak signifikan, sejumlah analis menilai fundamental perusahaan mulai menunjukkan perbaikan.

Dengan adanya rencana buyback Rp3,5 triliun, peningkatan efisiensi operasional, serta peluang pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang masih besar, saham GOTO diperkirakan tetap menjadi salah satu emiten teknologi yang menarik untuk dicermati investor hingga akhir 2026.

Berita Terkait

Data Desil DTSEN Tidak Sesuai? Begini Cara Mengubahnya Lewat HP
Freeport Investasikan Rp25 Triliun untuk Tambang Kucing Liar, Produksi Ditargetkan 2029
Anak Kurir SPX Express Dapat Beasiswa Kuliah di UI, ITB, dan UNP
Konglomerat Jerman Klaus-Michael Kühne Wafat dan Tak Miliki Anak, Tinggalkan Harta Rp867 Triliun
Cek Bansos September 2026 Pakai NIK KTP, Begini Langkahnya
Kekayaan Fantastis 10 Miliarder Termuda Forbes 400 2026, Ada yang Baru Berusia 30 Tahun
Alasan Pergantian Purbaya dari Menteri Keuangan, Ini Penjelasan Purbaya dan Istana
Dirjen Pajak Minta Mutasi Pejabat Era Purbaya Dibatalkan, Ini Jawaban Menkeu
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 14:00 WIB

Data Desil DTSEN Tidak Sesuai? Begini Cara Mengubahnya Lewat HP

Senin, 21 September 2026 - 10:00 WIB

Freeport Investasikan Rp25 Triliun untuk Tambang Kucing Liar, Produksi Ditargetkan 2029

Minggu, 20 September 2026 - 06:00 WIB

Anak Kurir SPX Express Dapat Beasiswa Kuliah di UI, ITB, dan UNP

Sabtu, 19 September 2026 - 06:02 WIB

Konglomerat Jerman Klaus-Michael Kühne Wafat dan Tak Miliki Anak, Tinggalkan Harta Rp867 Triliun

Jumat, 18 September 2026 - 16:00 WIB

Cek Bansos September 2026 Pakai NIK KTP, Begini Langkahnya

Berita Terbaru