KERINCI-Peningkatan aktivitas kegempaan Gunung Kerinci mendorong pengelola kawasan konservasi mengambil langkah tegas. Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) secara resmi menutup seluruh jalur pendakian Gunung Kerinci terhitung mulai 6 Januari 2026 demi alasan keselamatan.
Penutupan diberlakukan tanpa pengecualian bagi seluruh wisatawan, pendaki, maupun masyarakat umum. Akses pendakian yang ditutup meliputi jalur R10 Kersik Tuo di Kabupaten Kerinci, Jambi, serta jalur Camping Ground Bukit Bontak di Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat.
Kebijakan tersebut merujuk pada surat edaran Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang mencatat adanya peningkatan aktivitas vulkanik pada Gunung Kerinci, gunung api aktif tertinggi di Pulau Sumatra.
Kepala Bidang Teknis Konservasi BBTNKS, Delfi Andra, menegaskan bahwa keputusan penutupan diambil sebagai langkah pencegahan dini. Menurutnya, keselamatan pendaki dan masyarakat sekitar menjadi pertimbangan utama di tengah dinamika aktivitas gunung api yang sulit diprediksi.
“Dengan meningkatnya aktivitas kegempaan, kami menghentikan sementara seluruh kegiatan pendakian. Ini langkah antisipasi untuk mencegah risiko yang tidak diinginkan,” ujar Delfi, Selasa (6/1/2026).
BBTNKS juga menetapkan larangan beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Kerinci. Zona tersebut dinilai rawan apabila terjadi letusan freatik atau lonjakan aktivitas vulkanik secara mendadak.
Penutupan jalur pendakian ini bersifat sementara dan akan dievaluasi secara berkala. Aktivitas pendakian baru akan dibuka kembali setelah kondisi Gunung Kerinci dinyatakan aman berdasarkan rekomendasi resmi dari Badan Geologi.
BBTNKS mengimbau masyarakat, pendaki, serta pelaku usaha pariwisata agar mematuhi ketentuan yang berlaku dan hanya mengacu pada informasi resmi dari instansi berwenang.
Masyarakat juga diminta tetap tenang namun waspada, mengingat status Gunung Api Kerinci saat ini berada pada Level II atau Waspada.









