Jakarta-Biaya operasi prostat di Indonesia tanpa menggunakan BPJS menjadi perhatian banyak masyarakat, terutama bagi pasien yang membutuhkan tindakan medis segera. Berdasarkan berbagai sumber medis, biaya tindakan ini sangat bervariasi, mulai dari jutaan hingga ratusan juta rupiah tergantung metode dan fasilitas rumah sakit yang dipilih.
Metode yang paling umum digunakan adalah TURP atau Transurethral Resection of the Prostate. Prosedur ini menjadi standar karena relatif aman dan efektif, dengan kisaran biaya antara Rp30 juta hingga Rp60 juta. Banyak rumah sakit di Indonesia masih menjadikan metode ini sebagai pilihan utama untuk pasien pembesaran prostat jinak.
Selain itu, terdapat metode operasi dengan teknologi laser seperti HoLEP dan GreenLight yang semakin populer. Teknik ini dinilai lebih modern dan minim risiko pendarahan. Namun, biaya yang harus disiapkan juga lebih tinggi, yakni sekitar Rp45 juta hingga Rp80 juta tergantung fasilitas dan dokter spesialis yang menangani.
Untuk pasien dengan kondisi tertentu, operasi prostat terbuka masih menjadi opsi medis. Biaya tindakan ini berkisar antara Rp40 juta hingga Rp75 juta. Meski tergolong metode lama, prosedur ini tetap digunakan pada kasus prostat berukuran besar atau komplikasi tertentu.
Sementara itu, metode terbaru seperti Rezum yang menggunakan terapi uap air menawarkan prosedur minim invasif dengan waktu pemulihan lebih cepat. Namun, teknologi ini masih terbatas di beberapa rumah sakit besar dengan biaya mulai dari Rp85 juta atau bahkan lebih tinggi.
Dalam kasus kanker prostat, tindakan prostatektomi radikal menjadi solusi utama. Biaya operasi ini jauh lebih mahal karena tingkat kompleksitasnya tinggi, yakni mulai dari Rp70 juta hingga lebih dari Rp150 juta, tergantung tingkat keparahan dan teknologi yang digunakan.
Perlu diketahui, biaya operasi tersebut belum termasuk berbagai komponen tambahan seperti konsultasi dokter urologi, pemeriksaan laboratorium, obat-obatan, hingga biaya rawat inap. Untuk konsultasi awal saja, pasien biasanya perlu mengeluarkan biaya sekitar Rp250 ribu hingga Rp400 ribu.
Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk menyiapkan dana tambahan sekitar 20 hingga 30 persen dari estimasi biaya utama guna mengantisipasi kebutuhan medis lain yang tidak terduga. Konsultasi dengan dokter spesialis urologi juga menjadi langkah penting agar pasien mendapatkan metode operasi yang paling sesuai dengan kondisi kesehatan mereka. (*/Tim)









