JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026, di zona merah. Tekanan melanda sejumlah saham unggulan, termasuk Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Telkom Indonesia (TLKM).
Berdasarkan data RTI Infokom yang dilaporkan Bisnis.com, IHSG berada pada level 5.249,06 pukul 09.00 WIB. Indeks bergerak dalam rentang 5.242 hingga 5.255 pada awal perdagangan. Sebanyak 203 saham menguat, 190 saham melemah, sementara 229 saham tidak mengalami perubahan harga.
Pelemahan turut menghantam saham perbankan berkapitalisasi besar. Saham BMRI turun 2,07 persen menjadi Rp3.790 per lembar. Sementara itu, BBRI melemah 2,07 persen ke Rp2.840. Saham TLKM juga terkoreksi 1,40 persen menjadi Rp2.110 per saham.
Tekanan pasar muncul ketika investor menghadapi ketidakpastian ekonomi domestik dan global. Phintraco Sekuritas menyoroti proyeksi Fitch Ratings mengenai perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester kedua 2026. Pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun diperkirakan maksimal 5,2 persen, lebih rendah daripada target pemerintah sebesar 5,4 persen.
Selain perlambatan ekonomi, harga minyak yang tinggi dan pelemahan rupiah turut membayangi perdagangan saham. Investor juga mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat. Potensi kenaikan suku bunga dapat meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan negara berkembang.
Di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan risiko kredit Indonesia menjadi perhatian pelaku pasar. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi minat investor terhadap aset berisiko. Akibatnya, sebagian investor dapat memilih strategi perdagangan jangka pendek sambil menunggu kepastian ekonomi.
Pasar juga mengantisipasi penyesuaian komposisi indeks MSCI pada November 2026. Perubahan bobot saham berpotensi memengaruhi aliran dana investor institusi. Namun, dampaknya terhadap saham tertentu masih bergantung pada hasil evaluasi resmi MSCI.
Dengan berbagai tekanan tersebut, investor perlu mencermati perkembangan IHSG sepanjang sesi perdagangan. Pergerakan rupiah, keputusan The Fed, dan sentimen global berpotensi memengaruhi arah pasar berikutnya. Investor sebaiknya mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Disclaimer: Artikel ini merupakan informasi pasar, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham.
Editor : FANDA YOSEPHTA









