JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Selasa dengan pelemahan signifikan. Berdasarkan data RTI Infokom yang dikutip Bisnis.com, indeks berada di level 5.266,13 atau turun 1,99%.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 5.182 hingga 5.418. Mayoritas saham berakhir di zona merah. Sebanyak 611 saham melemah, sedangkan 100 saham menguat dan 82 saham stagnan.
Tekanan juga terlihat pada saham perbankan berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) turun 0,34% menjadi Rp2.900 per saham. Sementara itu, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) melemah 1,02% ke Rp3.870 per saham.
Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) mencatat penurunan lebih dalam. Emiten milik Prajogo Pangestu tersebut terkoreksi 5,88% ke Rp1.360 per saham. Pergerakan saham-saham besar menjadi salah satu perhatian investor saat indeks mengalami tekanan.
Tim riset Pilarmas Investindo Sekuritas menyoroti harga minyak mentah yang bertahan di atas US$110 per barel sebagai salah satu faktor pelemahan IHSG. Harga energi yang tinggi berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi pemerintah ketika harga sejumlah produk energi tetap dijaga.
Kondisi tersebut juga memunculkan risiko pelebaran defisit anggaran. Selain itu, investor perlu mencermati perkembangan harga minyak, nilai tukar rupiah, dan sentimen pasar global untuk menilai arah perdagangan berikutnya.
Di tengah tekanan tersebut, terdapat sentimen yang relatif positif. Bursa Efek Indonesia menyampaikan bahwa FTSE Russell tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori Secondary Emerging Market. Indonesia juga tidak masuk dalam daftar pemantauan atau watchlist FTSE Russell. Namun, sentimen tersebut belum mampu mencegah IHSG ditutup melemah.
Investor kini perlu memperhatikan pergerakan IHSG dan saham-saham unggulan pada sesi perdagangan berikutnya. Pelemahan harian tidak otomatis menunjukkan tren jangka panjang. Karena itu, keputusan investasi perlu mempertimbangkan fundamental emiten, kondisi pasar, dan profil risiko masing-masing.
Disclaimer: Artikel ini bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. (*)
Editor : FANDA YOSEPHTA









