Jakarta-Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. Bank Indonesia (BI) memastikan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas mata uang nasional. Perkembangan ini menjadi perhatian karena dapat memengaruhi biaya impor, harga barang, dan kondisi ekonomi masyarakat.
Mengutip laporan Bisnis.com, rupiah ditutup pada level Rp18.133 per dolar AS. Nilai tersebut melemah 35 poin atau 0,29 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pada pembukaan perdagangan hari yang sama, rupiah masih berada di posisi Rp18.084 per dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bahwa bank sentral terus memantau pergerakan nilai tukar. BI juga mempertahankan langkah intervensi sesuai perkembangan kondisi pasar. Menurut Destry, pergerakan rupiah turut dipengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran valuta asing. Karena itu, otoritas moneter terus mencermati penyebab tekanan terhadap mata uang Garuda.
Tekanan terhadap rupiah juga berkaitan dengan sentimen pasar keuangan global dan domestik. Salah satu faktor yang disorot adalah konsultasi MSCI mengenai usulan reklasifikasi pasar saham Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market. Sentimen tersebut berpotensi memengaruhi keputusan investor asing. Arus modal keluar dari pasar saham juga dapat merambat ke Surat Berharga Negara dan instrumen keuangan lainnya.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75 persen pada rapat Oktober 2026. BI memilih mengoptimalkan berbagai instrumen moneter untuk menjaga stabilitas rupiah. Salah satunya melalui penguatan insentif lindung nilai atau hedging pada instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Firman Mochtar menjelaskan bahwa insentif hedging melengkapi kebijakan suku bunga, bukan menggantikannya. BI juga mempertimbangkan perkembangan inflasi, prospek ekonomi domestik, dan kondisi global. Menurut data yang disampaikan dalam laporan tersebut, inflasi tahunan Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen, masih berada dalam sasaran BI sebesar 1,5–3,5 persen.
Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, bahan bakar, barang elektronik, dan sejumlah produk yang menggunakan komponen dari luar negeri. Dampaknya terhadap harga konsumen bergantung pada besarnya ketergantungan impor, biaya distribusi, serta kebijakan harga masing-masing perusahaan. Sebaliknya, eksportir yang menerima pembayaran dalam dolar AS berpotensi memperoleh nilai rupiah lebih besar, meskipun hasil akhirnya tetap bergantung pada biaya produksi dan transaksi mereka.
Ke depan, arah rupiah akan dipengaruhi oleh arus modal asing, kondisi pasar global, kebutuhan dolar AS, serta respons kebijakan Bank Indonesia. Masyarakat dan pelaku usaha perlu mencermati perkembangan kurs karena perubahan nilai tukar dapat memengaruhi anggaran, biaya operasional, dan harga barang. Namun, pelemahan rupiah tidak otomatis membuat seluruh harga naik pada saat yang sama. Kecepatan dan besarnya dampak bergantung pada kondisi masing-masing sektor ekonomi. (*)
Editor : FANDA YOSEPHTA









