Warga Sungai Penuh Mulai Pakai Masker, Mata Perih di Tengah Kabut: Ada Apa Hari Ini?

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 23 Agustus 2026 - 16:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131074

Oplus_131074

SUNGAI PENUH — Kondisi udara di sejumlah kawasan Sungai Penuh dan Kerinci menjadi perhatian warga, Minggu (23/8/2026). Sejumlah warga mulai menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah.

Keluhan lain juga mulai dirasakan sebagian warga. Mata terasa perih ketika berada di luar rumah dalam kondisi udara yang dianggap kurang nyaman.

Kondisi tersebut membuat warga bertanya-tanya apakah kabut yang terlihat berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan. Namun, kesimpulan tersebut belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan dan verifikasi lapangan.

“Selama ini saya tidak memakai masker, hari ini kabutnya beda dan saya mengalami batuk – batuk,” ujar Hasril warga Sungai Penuh.

Data BMKG yang diperbarui pukul 16.20 WIB menunjukkan kondisi di Sungai Penuh berada dalam kategori berawan. Suhu tercatat 23 derajat Celsius dengan kelembapan 69 persen.

BMKG juga mencatat kecepatan angin hanya sekitar 2,3 kilometer per jam. Pada titik pemantauan tersebut, jarak pandang tercatat lebih dari 10 kilometer.

Di sisi lain, BMKG menyebut kondisi kemarau masih mendominasi sebagian wilayah Indonesia. Dalam analisis terbarunya, BMKG juga mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan berdasarkan citra satelit Himawari-9 pada 19 Agustus 2026.

Baca Juga :  Pelaku Ditangkap di Sungaipenuh ! Ini Jejak Pengungkapan Penculikan Anak dari Makassar

Karena itu, warga Sungai Penuh dan Kerinci tetap perlu meningkatkan kewaspadaan. Terutama jika muncul bau asap, jarak pandang menurun, atau keluhan mata dan saluran pernapasan semakin banyak.

Bagi pengendara, penggunaan masker dan pengurangan kecepatan dapat dipertimbangkan ketika kondisi udara berubah. Warga juga sebaiknya mengikuti informasi BMKG dan pemerintah daerah sebelum menyimpulkan sumber kabut.

Masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan yang semakin berat sebaiknya mencari bantuan medis. Jangan mengabaikan gejala yang muncul setelah terpapar udara yang diduga mengandung asap atau polutan.

FAQ

Mengapa warga Sungai Penuh mulai memakai masker?

Sebagian warga menggunakan masker karena merasa kondisi udara kurang nyaman. Penggunaan masker juga dapat menjadi langkah perlindungan ketika terdapat dugaan paparan asap atau partikel udara.

Apakah kabut di Sungai Penuh pasti berasal dari karhutla?

Belum dapat dipastikan. Kabut dapat terjadi karena kondisi atmosfer, sementara asap karhutla membutuhkan verifikasi melalui data dan pemeriksaan lapangan.

Mengapa mata bisa terasa perih saat udara berkabut atau berasap?

Baca Juga :  Rapat Gabungan, Komisi-Komisi Sampaikan Laporan Hasil Pembahasan LKPJ 2025

Mata dapat mengalami iritasi ketika terpapar asap, debu, atau partikel tertentu di udara. Namun, penyebab keluhan setiap orang dapat berbeda.

Apakah kondisi Sungai Penuh saat ini sudah berbahaya?

Data BMKG pada pukul 16.20 WIB menunjukkan jarak pandang lebih dari 10 kilometer dan cuaca berawan di titik pemantauan Sungai Penuh. Kondisi lokal dapat berbeda sehingga warga tetap perlu memperhatikan perubahan udara.

Apa yang harus dilakukan jika mata mulai perih?

Kurangi paparan udara luar jika keluhan muncul dan hindari mengucek mata. Jika keluhan berat atau menetap, pertimbangkan pemeriksaan tenaga kesehatan.

Apakah masker diperlukan ketika muncul kabut?

Masker dapat digunakan sebagai langkah perlindungan ketika terdapat dugaan paparan asap atau partikel. Pilihan perlindungan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi udara.

Apakah ada indikasi asap di Sumatra?

BMKG melaporkan sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan berdasarkan citra Himawari-9 pada 19 Agustus 2026. Namun, hal tersebut tidak otomatis membuktikan kabut di Sungai Penuh berasal dari sumber yang sama. (*)

Penulis : Fanda Yosephta

Editor : Fanda Yosephta

Berita Terkait

Usai Dilantik Wako Alfin, Pensiunan PNS Soroti Dana BAZNAS: “Sebaiknya Diumumkan”
Kebakaran Hanguskan Bangunan di Pasar Baru, Wako Alfin Datangi Korban dan Bawa Bantuan
Raperwako Remunerasi RSUD Mayjen H.A. Thalib Dibahas, Tunjangan Nakes Menunggu Dasar Hukum
Dilantik Wako Alfin, Apakah Pimpinan BAZNAS Sungai Penuh Digaji Atau Kerja Amal Ibadah ?
Biaya Bimtek BPD Sungai Penuh Rp2,5 Juta per Orang, Jika Buat Bimbingan Yang Sama Ini Estimasi Biayanya?
Siapa Masuk Tiga Besar? Nilai 20 Peserta Seleksi Kepala OPD Sungai Penuh Segera Dirangking
Warga Dusun Baru Puas, Adharianto Bawa Aspirasi Jalan hingga UMKM ke DPRD
Bimtek BPD Sungai Penuh Bayar Rp2,5 Juta, Satu Kamar Diisi 3 Orang: Ini Tarif Hotel di Jambi
Berita ini 48 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:00 WIB

Usai Dilantik Wako Alfin, Pensiunan PNS Soroti Dana BAZNAS: “Sebaiknya Diumumkan”

Rabu, 7 Oktober 2026 - 17:27 WIB

Kebakaran Hanguskan Bangunan di Pasar Baru, Wako Alfin Datangi Korban dan Bawa Bantuan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:57 WIB

Raperwako Remunerasi RSUD Mayjen H.A. Thalib Dibahas, Tunjangan Nakes Menunggu Dasar Hukum

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:56 WIB

Dilantik Wako Alfin, Apakah Pimpinan BAZNAS Sungai Penuh Digaji Atau Kerja Amal Ibadah ?

Senin, 5 Oktober 2026 - 04:02 WIB

Biaya Bimtek BPD Sungai Penuh Rp2,5 Juta per Orang, Jika Buat Bimbingan Yang Sama Ini Estimasi Biayanya?

Berita Terbaru

Uncategorized

KUR Mandiri 2026: Apakah Bisa Tanpa Jaminan? Ini Ketentuannya

Kamis, 8 Okt 2026 - 01:02 WIB