Jakarta-Pasar aset kripto global kembali berada di zona merah pada perdagangan Jumat, 26 Juni 2026. Tekanan jual masih mendominasi setelah Bitcoin kehilangan level psikologis US$60.000, sementara sejumlah altcoin utama seperti Ethereum dan Binance Coin juga mencatat pelemahan. Kondisi ini dipengaruhi sentimen negatif dari pasar global, termasuk meningkatnya permintaan lindung nilai menjelang jatuh tempo kontrak opsi kripto bernilai miliaran dolar.
Bitcoin (BTC) diperdagangkan di kisaran Rp1,077 miliar atau sekitar US$59.790 per koin. Dalam 24 jam terakhir, aset digital terbesar di dunia itu turun sekitar 1,58 persen. Kapitalisasi pasarnya berada di kisaran US$1,20 triliun, meski Bitcoin masih mempertahankan dominasinya di pasar kripto global.
Ethereum (ETH) juga belum mampu keluar dari tekanan. Kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar tersebut diperdagangkan di sekitar Rp27,94 juta atau US$1.569. Dalam sehari terakhir, ETH terkoreksi sekitar 2,67 persen, sehingga kapitalisasi pasarnya turun menjadi sekitar US$189 miliar.
Sementara itu, Binance Coin (BNB) bergerak di kisaran US$559,50 setelah melemah sekitar 0,53 persen. Berbeda dengan aset berisiko lainnya, dua stablecoin utama tetap stabil. Tether (USDT) berada di sekitar Rp18.005 atau US$0,9985, sedangkan USD Coin (USDC) bertahan di level US$0,9996.
Analis menilai pelemahan pasar kali ini dipicu kombinasi beberapa faktor. Selain masih adanya arus keluar dana dari produk Bitcoin Exchange-Traded Fund (ETF), investor juga memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko menjelang kepastian arah kebijakan suku bunga global. Di sisi lain, pasar juga menantikan hasil penyelesaian kontrak opsi Bitcoin dan Ethereum senilai sekitar US$11 miliar, yang berpotensi meningkatkan volatilitas harga dalam jangka pendek.
Meski sempat muncul sentimen positif akibat meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah beberapa hari lalu, pelaku pasar masih memilih bersikap hati-hati. Aksi ambil untung dan ketidakpastian ekonomi global membuat pergerakan harga kripto cenderung fluktuatif.
Bagi investor jangka panjang, kondisi seperti ini sering dipandang sebagai fase konsolidasi. Namun, trader jangka pendek disarankan tetap memperhatikan level support dan resistance penting, terutama pada Bitcoin yang kini berada di bawah US$60.000, karena pergerakan berikutnya akan sangat dipengaruhi sentimen makro dan arus dana institusional.
FAQ
1. Mengapa harga Bitcoin turun di bawah US$60.000?
Penurunan dipicu oleh kombinasi arus keluar dana ETF Bitcoin, ketidakpastian suku bunga global, serta meningkatnya aktivitas lindung nilai menjelang jatuh tempo kontrak opsi kripto.
2. Apakah Ethereum juga mengalami penurunan?
Ya. Ethereum turun sekitar 2,67 persen dalam 24 jam terakhir dan diperdagangkan di kisaran US$1.569.
3. Mengapa stablecoin seperti USDT dan USDC tetap stabil?
Karena nilainya dipatok terhadap dolar Amerika Serikat sehingga volatilitasnya jauh lebih rendah dibanding Bitcoin atau Ethereum.
4. Apakah saat ini waktu yang tepat membeli Bitcoin?
Keputusan investasi bergantung pada profil risiko masing-masing. Banyak investor jangka panjang memanfaatkan koreksi sebagai peluang akumulasi, tetapi tetap perlu mempertimbangkan kondisi pasar.
5. Apa yang perlu diperhatikan investor selanjutnya?
Investor sebaiknya memantau kebijakan bank sentral, arus dana ETF Bitcoin, data inflasi global, serta perkembangan pasar derivatif kripto yang dapat memengaruhi volatilitas harga. Tim









