TEKNOLOGI-Dominasi smartphone layar sentuh penuh mulai mendapat tantangan baru. Setelah bertahun-tahun dianggap sebagai teknologi usang, keyboard fisik ala BlackBerry kini kembali menarik perhatian pasar teknologi global.
Sejumlah perusahaan teknologi mulai menghidupkan kembali pengalaman mengetik menggunakan tombol fisik yang sempat populer sebelum era iPhone.
Dua perusahaan yang paling agresif di segmen ini adalah Clicks Technology dan Unihertz. Keduanya meluncurkan perangkat dan aksesori smartphone berkeyboard fisik untuk memenuhi permintaan pengguna yang ternyata masih cukup besar.
Nostalgia Bukan Satu-satunya Alasan
Fenomena ini muncul hampir dua dekade setelah Apple memperkenalkan iPhone pertama pada 2007 yang mengubah arah industri smartphone menuju desain layar sentuh penuh.
Meski begitu, komunitas penggemar BlackBerry ternyata tetap bertahan. Bahkan, terdapat komunitas online dengan puluhan ribu anggota yang masih aktif berbagi tips serta pengalaman menggunakan perangkat keyboard fisik.
Menurut profesor komunikasi dari Nanyang Technological University, Jung Younbo, kebangkitan tren ini menunjukkan bahwa smartphone kini juga menjadi bagian dari ekspresi gaya hidup dan mode.
“Kita cenderung menggunakan smartphone sebagai sarana untuk mengekspresikan diri,” ujarnya.
Keyboard Fisik Dinilai Lebih Fokus
Salah satu pendiri Clicks Technology, Jeff Gadway, mengatakan banyak pengguna tertarik bukan karena nostalgia, melainkan karena ingin pengalaman penggunaan yang lebih fokus.
Menariknya, sekitar 45 persen pelanggan Clicks disebut belum pernah menggunakan ponsel keyboard fisik sebelumnya.
Menurut Gadway, keyboard fisik membantu pengguna lebih terarah ketika memakai smartphone dan mengurangi distraksi dari media sosial maupun aplikasi lain.
Bantu Kurangi Screentime
Penggunaan smartphone keyboard fisik juga disebut dapat membantu mengurangi screentime atau waktu menatap layar.
Konten kreator berusia 23 tahun, Chonnie Alfonso, mengaku beralih ke perangkat keyboard fisik membuatnya lebih mudah mengontrol penggunaan media sosial.
Ia menilai aktivitas doomscrolling terasa kurang nyaman dilakukan pada ponsel berbentuk kotak ala BlackBerry.
Selain itu, perangkat keyboard fisik biasanya lebih fokus pada fungsi utama seperti pesan, telepon, dan produktivitas dibanding hiburan tanpa batas.
Fitur Lama yang Kini Dicari Lagi
Tidak hanya keyboard fisik, perangkat-perangkat ini juga membawa kembali fitur yang mulai hilang dari smartphone modern.
Beberapa fitur tersebut antara lain:
- Jack audio 3,5 mm
- Slot kartu memori eksternal
- Penutup belakang yang dapat diganti
- Dukungan headphone kabel
Bagi sebagian pengguna, fitur-fitur tersebut justru dianggap lebih praktis dibanding teknologi nirkabel modern.
Penggemar audio bernama Wei Lun menyebut headphone kabel lebih stabil dan tidak mudah hilang dibanding earbud nirkabel.
Selain itu, harga headphone kabel juga jauh lebih murah dibanding perangkat Bluetooth premium seperti AirPods milik Apple.
Ramah untuk Aksesibilitas
Keyboard fisik juga dinilai membantu pengguna dengan kebutuhan aksesibilitas tertentu.
Menurut Gadway, sebagian pengguna dengan gangguan penglihatan atau kendala motorik merasa lebih nyaman mengetik menggunakan tombol fisik dibanding layar sentuh.
Hal tersebut membuat perangkat keyboard fisik kembali relevan di tengah perkembangan smartphone modern.
Pasar Mulai Memanas
Selain Clicks dan Unihertz, perusahaan lain seperti Zinwa Technologies dan iKKO juga mulai meluncurkan smartphone berkeyboard fisik.
Minat pasar terhadap perangkat ini ternyata cukup tinggi. Kampanye Kickstarter untuk Titan 2 dari Unihertz berhasil menarik lebih dari 8.200 pendukung dan mengumpulkan dana lebih dari 4,8 juta dolar AS.
Clicks Technology juga mengaku berhasil melampaui target pemesanan awal enam bulan hanya dalam waktu 30 hari.
Meski demikian, produsen masih menghadapi tantangan berupa kenaikan harga komponen akibat tingginya permintaan infrastruktur AI global yang memengaruhi pasokan memori dan chip.
Namun, di tengah dominasi smartphone layar penuh yang seragam, kebangkitan keyboard fisik menunjukkan bahwa sebagian pengguna masih merindukan pengalaman mengetik yang lebih nyata, fokus, dan personal.









