5 Sampah Jadi Harta Karun Dunia, 3 Diantaranya Banyak di Provinsi Jambi

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 17 Desember 2025 - 20:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI-Limbah pertanian dan perikanan selama ini kerap dipandang sebagai sisa produksi yang tidak bernilai dan hanya menjadi persoalan lingkungan. Padahal, di balik tumpukan kulit kopi, daun nanas, sabut kelapa, hingga kulit ikan, tersimpan potensi ekonomi besar yang mampu mendorong nilai tambah sektor agribisnis dan perikanan, bahkan berorientasi ekspor.

Provinsi Jambi menjadi salah satu daerah yang memiliki modal kuat dalam pemanfaatan limbah pertanian tersebut. Daun nanas banyak dihasilkan di Kota Jambi dan Kabupaten Muaro Jambi, limbah kelapa melimpah di Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, sementara kulit kopi berasal dari sentra kopi Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Jika dikelola secara tepat, limbah ini dapat berubah menjadi komoditas bernilai tinggi.

Kulit kopi atau cascara menjadi salah satu contoh paling menonjol. Limbah ini mencapai hampir setengah dari total komposisi buah kopi dan mengandung protein kasar, serat, serta senyawa fenolik yang bersifat antioksidan dan antimikroba. Penelitian menunjukkan ekstrak kulit kopi mampu menghambat enzim pemicu alergi dan peradangan, sehingga membuka peluang pemanfaatan sebagai minuman fungsional hingga bahan pangan bernilai tambah. Pengolahan menjadi teh cascara juga terbukti mampu menekan volume limbah hingga 90 persen.

Baca Juga :  Disaksikan Prabowo, Satgas PKH Kuasai Kembali 4 Juta Hektare Hutan dan Selamatkan Rp6,6 Triliun

Dari sisi pasar, teh cascara tidak hanya diminati di dalam negeri dengan harga sekitar Rp40 ribu per kemasan, tetapi juga menembus pasar ekspor seperti Singapura, Hongkong, hingga Amerika Serikat. Di pasar internasional, harga cascara bahkan dilaporkan bisa mencapai hingga 70 dolar AS, menjadikannya komoditas limbah bernilai tinggi.

Limbah daun nanas juga menyimpan potensi besar melalui pengolahan Pineapple Leaf Fiber atau PALF. Serat ini dikenal sebagai material berkelanjutan yang dapat dimanfaatkan untuk industri tekstil, material komposit, hingga produk ramah lingkungan lainnya. Dengan fleksibilitas pemanfaatan yang luas, serat daun nanas di pasar dilaporkan memiliki harga lebih dari Rp200 ribu per kilogram.

Dari sektor perkebunan sawit, palm kernel expeller atau PKE menjadi limbah padat bernilai strategis. Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia mencatat produksi PKE Indonesia mencapai sekitar 4,6 juta ton per tahun. Ironisnya, sebagian besar PKE justru diekspor ke negara-negara seperti Belanda, Selandia Baru, China, dan Korea Selatan sebagai bahan baku pakan ternak, menandakan potensi pemanfaatan domestik yang belum optimal.

Baca Juga :  BNI Buka Lowongan Officer Development Program 2026, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

Sektor perikanan juga menyumbang potensi melalui limbah kulit ikan pari. Kulit eksotis ini hanya mencakup sekitar satu persen industri kulit global, namun memiliki kekuatan tarik tinggi dan pola unik. Kulit pari banyak digunakan sebagai bahan baku tas, dompet, dan sepatu premium dengan harga mencapai puluhan hingga ratusan dolar AS, tergantung kualitas dan proses finishing.

Sementara itu, sabut kelapa yang diolah menjadi cocofiber telah lama dikenal sebagai bahan baku karpet, matras, dan produk kerajinan ramah lingkungan. Cocofiber dari kelapa organik bahkan dihargai lebih tinggi di pasar ekspor dengan kisaran harga 200 hingga 400 dolar AS per ton. Selain bernilai ekonomi, pengembangan cocofiber juga membuka peluang pendapatan tambahan bagi petani kelapa.

Potensi besar limbah pertanian dan perikanan ini menunjukkan bahwa pengelolaan yang tepat tidak hanya mampu mengurangi masalah lingkungan, tetapi juga menjadi sumber ekonomi baru. Bagi Jambi, penguatan inovasi, teknologi pengolahan, dan dukungan kebijakan menjadi kunci agar “limbah” benar-benar naik kelas menjadi harta karun berdaya saing global. (fyo)

Editor : Fanda Yosephta

Berita Terkait

Dolar AS Nyaris Rp18.000! Rupiah Melemah, Ini Dampaknya bagi Cicilan, Investasi, dan Harga Barang Impor
Harga Emas Antam Hari Ini 6 Juni 2026 Naik atau Turun? Cek Harga Terbaru, Buyback, dan Prospek Investasi
Why Cyber Insurance Is Becoming Essential for Modern Businesses
Harga Kripto Hari Ini Jumat 5 Juni 2026: Bitcoin Rp1,14 Miliar, Saat Tepat Investasi atau Tunggu Lagi?
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Turun, Cek Rincian 0,5 Gram hingga 50 Gram Sebelum Investasi
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 29 Mei 2026: Cek Update Terbaru, Investor Ramai Pantau Peluang Cuan
OPPO Find X9 Ultra Resmi Meluncur di Indonesia, HP Kamera Hasselblad Rp 31 Juta Jadi Buruan Pecinta Flagship
Malaysia Cemas Kebijakan Baru Ekspor Sawit RI, Bisa Picu Lonjakan Harga Global
Berita ini 43 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 17:30 WIB

Dolar AS Nyaris Rp18.000! Rupiah Melemah, Ini Dampaknya bagi Cicilan, Investasi, dan Harga Barang Impor

Sabtu, 6 Juni 2026 - 06:40 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 6 Juni 2026 Naik atau Turun? Cek Harga Terbaru, Buyback, dan Prospek Investasi

Jumat, 5 Juni 2026 - 08:45 WIB

Why Cyber Insurance Is Becoming Essential for Modern Businesses

Jumat, 5 Juni 2026 - 07:41 WIB

Harga Kripto Hari Ini Jumat 5 Juni 2026: Bitcoin Rp1,14 Miliar, Saat Tepat Investasi atau Tunggu Lagi?

Jumat, 5 Juni 2026 - 05:41 WIB

Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Turun, Cek Rincian 0,5 Gram hingga 50 Gram Sebelum Investasi

Berita Terbaru

Teknologi

Mudah! Ini Cara Melacak HP dan Lokasi Orang Pakai WhatsApp

Sabtu, 13 Jun 2026 - 08:00 WIB