JAMBI-Limbah pertanian dan perikanan selama ini kerap dipandang sebagai sisa produksi yang tidak bernilai dan hanya menjadi persoalan lingkungan. Padahal, di balik tumpukan kulit kopi, daun nanas, sabut kelapa, hingga kulit ikan, tersimpan potensi ekonomi besar yang mampu mendorong nilai tambah sektor agribisnis dan perikanan, bahkan berorientasi ekspor.
Provinsi Jambi menjadi salah satu daerah yang memiliki modal kuat dalam pemanfaatan limbah pertanian tersebut. Daun nanas banyak dihasilkan di Kota Jambi dan Kabupaten Muaro Jambi, limbah kelapa melimpah di Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, sementara kulit kopi berasal dari sentra kopi Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Jika dikelola secara tepat, limbah ini dapat berubah menjadi komoditas bernilai tinggi.
Kulit kopi atau cascara menjadi salah satu contoh paling menonjol. Limbah ini mencapai hampir setengah dari total komposisi buah kopi dan mengandung protein kasar, serat, serta senyawa fenolik yang bersifat antioksidan dan antimikroba. Penelitian menunjukkan ekstrak kulit kopi mampu menghambat enzim pemicu alergi dan peradangan, sehingga membuka peluang pemanfaatan sebagai minuman fungsional hingga bahan pangan bernilai tambah. Pengolahan menjadi teh cascara juga terbukti mampu menekan volume limbah hingga 90 persen.
Dari sisi pasar, teh cascara tidak hanya diminati di dalam negeri dengan harga sekitar Rp40 ribu per kemasan, tetapi juga menembus pasar ekspor seperti Singapura, Hongkong, hingga Amerika Serikat. Di pasar internasional, harga cascara bahkan dilaporkan bisa mencapai hingga 70 dolar AS, menjadikannya komoditas limbah bernilai tinggi.
Limbah daun nanas juga menyimpan potensi besar melalui pengolahan Pineapple Leaf Fiber atau PALF. Serat ini dikenal sebagai material berkelanjutan yang dapat dimanfaatkan untuk industri tekstil, material komposit, hingga produk ramah lingkungan lainnya. Dengan fleksibilitas pemanfaatan yang luas, serat daun nanas di pasar dilaporkan memiliki harga lebih dari Rp200 ribu per kilogram.
Dari sektor perkebunan sawit, palm kernel expeller atau PKE menjadi limbah padat bernilai strategis. Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia mencatat produksi PKE Indonesia mencapai sekitar 4,6 juta ton per tahun. Ironisnya, sebagian besar PKE justru diekspor ke negara-negara seperti Belanda, Selandia Baru, China, dan Korea Selatan sebagai bahan baku pakan ternak, menandakan potensi pemanfaatan domestik yang belum optimal.
Sektor perikanan juga menyumbang potensi melalui limbah kulit ikan pari. Kulit eksotis ini hanya mencakup sekitar satu persen industri kulit global, namun memiliki kekuatan tarik tinggi dan pola unik. Kulit pari banyak digunakan sebagai bahan baku tas, dompet, dan sepatu premium dengan harga mencapai puluhan hingga ratusan dolar AS, tergantung kualitas dan proses finishing.
Sementara itu, sabut kelapa yang diolah menjadi cocofiber telah lama dikenal sebagai bahan baku karpet, matras, dan produk kerajinan ramah lingkungan. Cocofiber dari kelapa organik bahkan dihargai lebih tinggi di pasar ekspor dengan kisaran harga 200 hingga 400 dolar AS per ton. Selain bernilai ekonomi, pengembangan cocofiber juga membuka peluang pendapatan tambahan bagi petani kelapa.
Potensi besar limbah pertanian dan perikanan ini menunjukkan bahwa pengelolaan yang tepat tidak hanya mampu mengurangi masalah lingkungan, tetapi juga menjadi sumber ekonomi baru. Bagi Jambi, penguatan inovasi, teknologi pengolahan, dan dukungan kebijakan menjadi kunci agar “limbah” benar-benar naik kelas menjadi harta karun berdaya saing global. (fyo)
Editor : Fanda Yosephta








