TEKNOLOGI – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa kebutuhan infrastruktur komputasi yang semakin besar. Namun, di balik kemajuan tersebut, terdapat persoalan lingkungan yang perlu mendapat perhatian, salah satunya meningkatnya kebutuhan air untuk mendinginkan pusat data atau data center.
Penggunaan air dalam skala besar untuk operasional pusat data berpotensi menambah tekanan terhadap ketersediaan air bersih. Karena itu, pemanfaatan air daur ulang yang telah melalui proses pengolahan sesuai standar teknis dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber air layak konsumsi.
Dosen Program Studi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan, Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga (UNAIR), Yutika Amelia Effendi, menjelaskan bahwa air memiliki kemampuan menyerap panas yang tinggi sehingga banyak dimanfaatkan dalam sistem pendinginan pusat data.
Menurutnya, kebutuhan komputasi AI yang terus meningkat turut mendorong penggunaan listrik dan air dalam jumlah besar. Kondisi tersebut membuat efisiensi sumber daya perlu menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi digital.
Mengapa pusat data AI membutuhkan banyak air?
Pusat data merupakan fasilitas yang menampung server dan perangkat komputasi untuk menjalankan berbagai layanan digital. Dalam operasionalnya, perangkat seperti prosesor dan graphics processing unit (GPU) menghasilkan panas ketika memproses data dalam jumlah besar.
Panas yang dihasilkan harus dikendalikan secara terus-menerus agar perangkat tetap bekerja stabil dan tidak mengalami gangguan akibat suhu berlebih.
Yutika menjelaskan, hubungan antara operasional pusat data dan konsumsi air berlangsung melalui tiga jalur utama.
Pertama, penggunaan air secara langsung untuk sistem pendinginan. Kedua, konsumsi air tidak langsung yang berkaitan dengan proses pembangkitan listrik untuk memasok kebutuhan energi pusat data. Ketiga, penggunaan air dalam rantai produksi perangkat keras yang digunakan di fasilitas tersebut.
Dengan demikian, kebutuhan air pusat data tidak hanya berasal dari sistem pendingin di dalam gedung, tetapi juga berkaitan dengan proses penyediaan energi dan pembuatan perangkat teknologi.
Yutika mengingatkan bahwa pembangunan pusat data perlu memperhatikan kondisi lingkungan di wilayah yang menjadi lokasi operasionalnya.
Menurutnya, dampak terhadap sumber daya air dapat berbeda-beda, bergantung pada teknologi pendinginan, lokasi fasilitas, serta ketersediaan air di daerah tersebut.
Ia menegaskan bahwa kebutuhan dasar masyarakat harus tetap menjadi prioritas dalam pengelolaan sumber daya air.
Air daur ulang bisa menjadi alternatif pendinginan data center
Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi tekanan terhadap sumber air bersih adalah menggunakan air daur ulang yang telah diolah sesuai kebutuhan teknis.
Air hasil pengolahan tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan industri, termasuk sistem pendinginan pusat data, sepanjang kualitasnya memenuhi spesifikasi dan persyaratan keselamatan operasional.
Selain pemanfaatan air daur ulang, terdapat sejumlah pendekatan lain yang dapat diterapkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.
Di antaranya mengoptimalkan model komputasi agar kebutuhan pemrosesan lebih efisien, menggunakan teknologi closed-loop cooling, serta menerapkan sistem direct-to-chip liquid cooling.
Teknologi closed-loop cooling memungkinkan cairan pendingin bersirkulasi dalam sistem tertutup sehingga kebutuhan penggantian air dapat ditekan. Sementara itu, direct-to-chip liquid cooling bekerja dengan mengalirkan cairan pendingin langsung ke komponen penghasil panas, seperti prosesor.
Pemilihan lokasi pembangunan pusat data juga perlu mempertimbangkan daya dukung lingkungan, terutama ketersediaan air dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya.
Penggunaan air data center berpotensi bersaing dengan kebutuhan warga
Persoalan konsumsi air pusat data juga menjadi perhatian Asosiasi Pengusaha TIK Nasional (APTIKNAS).
Sekretaris Jenderal APTIKNAS, Fanky Christian, sebelumnya menjelaskan bahwa pusat data yang menjalankan beban kerja AI menghasilkan panas lebih tinggi dibandingkan server konvensional yang digunakan untuk aktivitas seperti menjelajahi internet.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan sistem pendinginan semakin besar, termasuk kebutuhan air pada teknologi pendingin yang menggunakannya.
Fanky menyebut sebagian besar pusat data di Indonesia masih menggunakan sistem pendinginan berbasis udara atau air cooling konvensional. Meski demikian, perkembangan kapasitas komputasi AI dapat meningkatkan tantangan pengelolaan energi dan air.
Ia juga mengingatkan adanya potensi persaingan pemanfaatan sumber air antara industri pusat data dan masyarakat.
Menurut Fanky, perbedaan nilai ekonomi penggunaan air untuk kebutuhan industri dan rumah tangga dapat memunculkan persoalan tersendiri apabila pengelolaannya tidak diatur secara tepat.
Ia mencontohkan perkembangan industri pusat data di kawasan Johor Bahru, Malaysia, yang menurutnya memunculkan keluhan warga terkait akses air akibat penggunaan sumber air oleh sektor industri.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur digital perlu memperhatikan dampaknya terhadap masyarakat sekitar.
Pemerintah, industri, dan akademisi perlu bekerja sama
Tantangan pengembangan pusat data di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan air, tetapi juga kemampuan sistem pendinginan menghadapi peningkatan suhu lingkungan.
Perubahan iklim yang berpotensi meningkatkan suhu dapat membuat kebutuhan pendinginan fasilitas semakin besar. Karena itu, perencanaan infrastruktur pusat data perlu memperhitungkan kondisi lingkungan dalam jangka panjang.
Yutika menilai pengembangan AI yang lebih efisien membutuhkan kerja sama antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi.
Pemerintah dapat berperan melalui penyusunan standar efisiensi dan kebijakan pengelolaan sumber daya. Sementara itu, perguruan tinggi dapat mendukung melalui penelitian lintas bidang untuk mengembangkan teknologi yang lebih ramah lingkungan.
Di sisi lain, masyarakat juga dapat membangun kebiasaan digital yang bijak dengan memanfaatkan AI sesuai kebutuhan.
Pengembangan kecerdasan buatan tidak harus dipandang semata-mata sebagai ancaman bagi lingkungan. Dengan teknologi yang tepat, tata kelola yang baik, serta pengawasan terhadap penggunaan sumber daya, AI juga berpotensi membantu pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, pertumbuhan industri pusat data perlu berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Kemajuan teknologi digital seharusnya tidak mengorbankan akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar, termasuk air bersih.
FAQ: Konsumsi Air Pusat Data AI
1. Mengapa pusat data AI membutuhkan banyak air?
Pusat data AI menjalankan server, prosesor, dan GPU yang menghasilkan panas tinggi. Air dapat digunakan dalam sistem pendinginan untuk menjaga suhu perangkat tetap stabil.
2. Apakah semua pusat data menggunakan air untuk pendinginan?
Tidak. Pusat data dapat menggunakan berbagai teknologi pendinginan, termasuk sistem berbasis udara dan cairan. Kebutuhan air bergantung pada teknologi yang diterapkan.
3. Apa yang dimaksud air daur ulang untuk pusat data?
Air daur ulang merupakan air bekas yang telah melalui proses pengolahan sehingga kualitasnya dapat memenuhi persyaratan untuk penggunaan tertentu, termasuk kebutuhan industri.
4. Apa itu teknologi closed-loop cooling?
Closed-loop cooling adalah sistem pendinginan dengan cairan yang bersirkulasi dalam jalur tertutup. Sistem ini dapat membantu mengurangi kebutuhan penggantian air.
5. Apakah pusat data AI dapat mengganggu pasokan air bersih warga?
Potensi dampaknya bergantung pada lokasi, teknologi pendinginan, sumber air, serta tata kelola pemanfaatannya. Risiko perlu diperhitungkan terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan air.
6. Bagaimana cara mengurangi konsumsi air pusat data?
Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah menggunakan air daur ulang, menerapkan sistem pendinginan yang lebih efisien, mengoptimalkan komputasi, dan memilih lokasi pembangunan dengan mempertimbangkan ketersediaan air.









