Rupiah Hari Ini Anjlok ke Rp17.916, Dolar AS Makin Kuat: Apa Dampaknya?

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 24 September 2026 - 16:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta-Rupiah hari ini kembali menjadi perhatian pasar. Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke Rp17.916 per dolar AS pada Kamis, 24 September 2026.

Data perdagangan menunjukkan rupiah melemah sekitar 0,55 persen atau 98 poin. Tekanan tersebut terjadi ketika dolar AS menguat dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat meningkat.

Pelemahan rupiah juga terjadi setelah Bank Indonesia mempertahankan BI Rate 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur September 2026. BI menyatakan kebijakan tersebut tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah kenaikan yield US Treasury 10 tahun hingga sekitar 5,11 persen. Level tersebut disebut menjadi yang tertinggi sejak 2007. Kondisi ini meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS.

Baca Juga :  Kurs Ringgit Malaysia ke Rupiah Malam Ini 3 Agustus 2026, 1 MYR Berapa Rupiah?

Tekanan lainnya datang dari pasar minyak. Harga Brent kembali berada di atas US$100 per barel. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan kebutuhan valuta asing untuk impor.

Bank Indonesia menyebut tekanan rupiah juga berkaitan dengan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS, kondisi geopolitik, serta kebutuhan valuta asing domestik. BI menyiapkan berbagai instrumen stabilisasi pasar valuta asing.

Bagi masyarakat, kurs dolar hari ini penting diperhatikan karena perubahan USD/IDR dapat memengaruhi harga barang impor, perjalanan ke luar negeri, pembayaran dalam dolar, serta biaya sejumlah produk dan jasa yang bergantung pada komponen impor.

Baca Juga :  Obligasi Pemerintah 2026: Investasi Aman dengan Imbal Hasil Menarik untuk Pemula

Bagi investor dan pelaku usaha, pergerakan rupiah juga menjadi salah satu indikator penting. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor, sementara perusahaan yang memperoleh pendapatan dolar dapat menghadapi kondisi berbeda.

Pergerakan berikutnya akan bergantung pada perkembangan dolar AS, yield obligasi Amerika, harga minyak, kebijakan The Fed, serta langkah stabilisasi Bank Indonesia. Karena itu, kurs USD/IDR masih menjadi salah satu perhatian utama pasar keuangan.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat yang membutuhkan dolar untuk transaksi atau perjalanan sebaiknya memperhatikan kurs jual dan kurs beli bank, karena angkanya dapat berbeda dari kurs pasar. Bank Indonesia sendiri menerbitkan kurs transaksi sebagai referensi transaksi tertentu. (*)

Editor : Fanda Yosephta

Berita Terkait

Mortgage Rates in Norway: What Homebuyers Need to Know
Cara Pinjam Uang di DANA 2026, Cek Syarat DANA Cicil, Cara Ajukan dan Limitnya
Norway Mortgage: How Home Loans Work in Norway
BI Rate September 2026 Tetap 5,75 Persen, Rupiah Jadi Perhatian Utama
Harga Emas Pegadaian Hari Ini 24 September 2026 Stabil, Cek Antam, UBS, Galeri 24 dan Buyback
Harga BBM Hari Ini 24 September 2026 Jambi, Sumbar dan Sumut, Cek Pertamax hingga Dexlite
Best Credit Cards in Australia 2026: Rewards, Fees and Benefits
KUR BNI 2026: Syarat, Bunga, Limit dan Cara Pengajuan
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 16:11 WIB

Rupiah Hari Ini Anjlok ke Rp17.916, Dolar AS Makin Kuat: Apa Dampaknya?

Kamis, 24 September 2026 - 15:00 WIB

Mortgage Rates in Norway: What Homebuyers Need to Know

Kamis, 24 September 2026 - 11:00 WIB

Norway Mortgage: How Home Loans Work in Norway

Kamis, 24 September 2026 - 09:18 WIB

BI Rate September 2026 Tetap 5,75 Persen, Rupiah Jadi Perhatian Utama

Kamis, 24 September 2026 - 09:00 WIB

Harga Emas Pegadaian Hari Ini 24 September 2026 Stabil, Cek Antam, UBS, Galeri 24 dan Buyback

Berita Terbaru

Bisnis

Mortgage Rates in Norway: What Homebuyers Need to Know

Kamis, 24 Sep 2026 - 15:00 WIB