Jakarta-Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tak lagi sebatas laboratorium dan industri teknologi. Dalam beberapa tahun terakhir, AI mulai terlihat nyata di garis depan peperangan modern. Sejumlah analis militer menyebut konflik awal dekade 2020-an sebagai titik balik, ketika algoritma, drone, dan sistem analitik data besar dipakai langsung untuk menentukan arah pertempuran.
Banyak pengamat menilai Perang antara Azerbaijan dan Armenia di kawasan Nagorno-Karabakh pada 2020 sebagai tonggak awal. Saat itu, drone bersenjata dan amunisi berkeliaran (loitering munition) digunakan secara masif. Sistem tersebut memanfaatkan pemrosesan citra dan pelacakan otomatis untuk mengenali sasaran di darat sebelum dieksekusi. Walau tetap diawasi operator manusia, peran algoritma dalam identifikasi target membuat konflik ini sering dijuluki sebagai awal “perang drone berbasis AI”.
Setahun berselang, operasi militer Israel di wilayah Palestina kembali memunculkan istilah “AI war”. Militer Israel secara terbuka menyatakan penggunaan sistem analitik cerdas untuk memetakan dan memprioritaskan target dalam waktu singkat. Integrasi data intelijen, pengintaian udara, hingga sistem pertahanan seperti Iron Dome memperlihatkan bagaimana algoritma membantu mempercepat pengambilan keputusan taktis.
Skala yang lebih luas terlihat dalam perang antara Rusia dan Ukraina sejak 2022. Di konflik ini, AI tidak hanya dipakai untuk drone tempur, tetapi juga untuk analisis citra satelit, penentuan koordinat artileri presisi, hingga perang siber dan informasi. Banyak sistem bersifat semi-otonom, meski keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
Jika ditarik garis besar, konflik Nagorno-Karabakh 2020 sering dianggap sebagai momen pertama penggunaan AI secara nyata dan terlihat dalam perang konvensional modern. Namun, penggunaan AI sebenarnya sudah berkembang sejak lama di sektor militer, terutama pada sistem pertahanan rudal dan analisis intelijen. Perbedaannya kini terletak pada integrasi teknologi secara menyeluruh dan kecepatannya dalam memproses data medan tempur.
Fenomena ini memunculkan perdebatan global soal etika dan hukum perang. Sejumlah organisasi internasional mendorong regulasi terhadap senjata otonom agar tetap melibatkan kontrol manusia. Kekhawatiran terbesar adalah munculnya sistem yang mampu mengambil keputusan mematikan tanpa intervensi manusia secara langsung.
Para pakar keamanan menilai, ke depan, AI akan semakin dominan dalam strategi militer. Negara yang mampu menguasai kecerdasan buatan dan pengolahan data kemungkinan memiliki keunggulan signifikan dalam konflik. Namun, perkembangan tersebut juga membawa risiko eskalasi yang lebih cepat dan sulit dikendalikan.
Dengan demikian, pertanyaan bukan lagi apakah AI akan digunakan dalam perang, melainkan sejauh mana perannya akan berkembang. Konflik-konflik awal dekade ini menjadi penanda bahwa era peperangan berbasis algoritma telah dimulai, dan dunia kini memasuki babak baru dalam sejarah militer modern. (*/Tim)









