JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berakhir di zona merah pada perdagangan Senin (22/6/2026). Tekanan dari ketidakpastian global membuat indeks acuan Bursa Efek Indonesia terkoreksi 60,45 poin atau 0,98 persen ke level 6.116,69.
Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi geopolitik dunia. Konflik di Timur Tengah serta ketidakjelasan arah kebijakan ekonomi global membuat pelaku pasar memilih bersikap hati-hati.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak cukup volatil. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.226,72 sebelum akhirnya tertekan hingga level terendah 6.052,94. Kondisi ini menunjukkan tingginya tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia mencapai Rp13,27 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 20,69 miliar saham. Sementara frekuensi transaksi tercatat mencapai 1,7 juta kali. Sebanyak 471 saham ditutup melemah, 227 saham menguat, dan 261 saham bergerak stagnan.
Saham-saham yang menjadi pemberat utama IHSG antara lain MBMA yang anjlok 6,48 persen ke Rp505. Kemudian BRPT turun 6,47 persen menjadi Rp1.590 dan DEWA terkoreksi 5,43 persen ke level Rp348 per saham.
Tekanan juga terjadi pada sektor perbankan. Saham BBNI melemah 4,90 persen ke Rp3.490. Sementara CPIN ikut turun hingga berada di level Rp3.170. Aksi jual pada saham-saham besar tersebut membuat indeks sulit mempertahankan momentum penguatan.
Meski pasar secara keseluruhan melemah, sejumlah saham justru tampil perkasa. AMRT memimpin penguatan dengan kenaikan 4,44 persen ke Rp1.410. Saham AKRA naik 3,27 persen menjadi Rp1.265, sedangkan ADRO menguat 3,15 persen ke level Rp2.290.
Selain itu, AADI naik 2,86 persen menjadi Rp8.100 dan INCO menguat 1,97 persen ke Rp5.175. Kinerja positif beberapa emiten tersebut menunjukkan masih adanya peluang keuntungan bagi investor yang selektif memilih saham.
Analis menilai perhatian pasar saat ini tertuju pada perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, khususnya terkait Selat Hormuz yang merupakan jalur penting distribusi minyak dunia. Setiap perkembangan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi sentimen pasar global.
Dari dalam negeri, investor juga menunggu rilis data uang beredar Indonesia pada 23 Juni 2026. Namun perhatian terbesar tertuju pada pengumuman MSCI Annual Market Classification Review yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026.
Keputusan MSCI dinilai sangat penting karena dapat memengaruhi aliran dana asing ke pasar saham Indonesia. Jika hasilnya positif, pasar berpotensi mendapatkan sentimen kuat yang mampu mendorong pemulihan IHSG dalam jangka menengah.
Bagi investor, kondisi saat ini menjadi momentum untuk mencermati saham-saham berfundamental kuat yang masih mampu mencatat kenaikan meski pasar sedang bergejolak. Strategi selektif dan disiplin manajemen risiko tetap menjadi kunci menghadapi volatilitas pasar.
FAQ
1. Berapa posisi IHSG hari ini?
IHSG ditutup melemah 0,98 persen atau turun 60,45 poin ke level 6.116,69 pada Senin, 22 Juni 2026.
2. Mengapa IHSG turun hari ini?
Pelemahan dipicu ketidakpastian geopolitik global, terutama perkembangan konflik Timur Tengah dan sikap investor menjelang keputusan MSCI.
3. Saham apa yang naik saat IHSG melemah?
AMRT, AKRA, ADRO, AADI, dan INCO menjadi beberapa saham yang berhasil mencatat penguatan.
4. Apa itu MSCI Annual Market Classification Review?
MSCI adalah lembaga indeks global yang mengevaluasi status pasar saham suatu negara. Hasil evaluasi dapat memengaruhi masuk atau keluarnya dana investor asing.
5. Kapan keputusan MSCI diumumkan?
MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026. (Tim)
Editor : Fanda Yosephta









