EKONOMI-Pergerakan saham emiten batu bara milik konglomerat Low Tuck Kwong kembali menjadi sorotan pasar. Saham BYAN milik PT Bayan Resources Tbk tercatat mengalami penurunan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan data perdagangan, saham BYAN turun hingga 14,46% dalam kurun waktu sepekan, yakni sejak 26 Maret hingga 2 April 2026. Bahkan, dalam periode tersebut, pergerakan saham cenderung berada di zona merah.
Pada penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026), saham BYAN terkoreksi sebesar 6,78% ke level Rp 10.650 per saham. Volume transaksi tercatat sekitar 134,9 ribu saham dengan frekuensi 350 kali dan nilai transaksi mencapai Rp 1,49 miliar.
Penurunan Lebih Dalam dalam Setahun
Jika dilihat dalam jangka waktu lebih panjang, tekanan terhadap saham BYAN terbilang cukup dalam. Dalam satu tahun terakhir, harga sahamnya telah turun hingga 46,82%. Kondisi ini membuat valuasi perusahaan dinilai lebih murah dibandingkan rata-rata historisnya.
Data dari aplikasi sekuritas menunjukkan bahwa rasio price to book value (PBV) BYAN berada di level 8,26 kali. Angka ini lebih rendah dibandingkan standar deviasi PBV tiga tahun terakhir yang berada di kisaran 12,2 kali.
Sementara itu, rasio price earning ratio (PER) tercatat sebesar 28,06 kali, juga berada di bawah rata-rata historis sekitar 34,82 kali. Hal ini mengindikasikan bahwa saham BYAN mulai berada pada level valuasi yang relatif lebih rendah.
Fundamental Tetap Kuat
Meski harga saham mengalami tekanan, kinerja fundamental perusahaan masih menunjukkan hasil yang solid. Sepanjang tahun 2025, Bayan Resources mencatatkan pendapatan sebesar US$ 3,42 miliar atau setara sekitar Rp 57,5 triliun.
Dari sisi laba, perusahaan membukukan keuntungan bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 767,91 juta, atau sekitar Rp 12,8 triliun.
Dengan capaian tersebut, Bayan Resources tetap menjadi salah satu emiten batu bara dengan kinerja keuangan yang kuat di Indonesia.
Struktur Kepemilikan
Sebagai informasi, saham Bayan Resources sebagian besar masih dikendalikan oleh Low Tuck Kwong dengan kepemilikan langsung sekitar 40,22%.
Selain itu, anaknya, Elaine Low, juga tercatat memiliki sekitar 22,002% saham perusahaan. Struktur kepemilikan ini menunjukkan bahwa kendali terhadap perusahaan masih berada dalam lingkup keluarga.
Kesimpulan
Penurunan harga saham BYAN dalam beberapa waktu terakhir membuka peluang bagi investor untuk mencermati kembali valuasi emiten ini. Dengan fundamental yang tetap kuat dan laba besar, saham Bayan Resources dinilai masih memiliki daya tarik, meskipun tetap perlu memperhatikan risiko pergerakan harga komoditas global.









