JAKARTA – Ledakan penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah peta industri digital Indonesia. Permintaan terhadap pusat data (data center) meningkat tajam seiring kebutuhan komputasi yang semakin besar dari berbagai sektor, mulai dari perbankan, e-commerce, cloud computing, hingga teknologi generatif berbasis AI.
Perkembangan tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar data center paling menjanjikan di Asia Tenggara. Dalam acara yang digelar oleh Schneider Electric dan didukung oleh Indonesia Data Center Provider Organization, para pelaku industri mengungkapkan bahwa kebutuhan daya komputasi meningkat drastis dibanding satu dekade lalu.
Ketua IDPRO, Hendra Suryakusuma, menjelaskan bahwa pada 2012 satu rak server hanya membutuhkan sekitar 3 kilowatt daya listrik. Namun saat ini, beban kerja AI mampu mengonsumsi hingga 120 kilowatt per rak. Bahkan dalam beberapa tahun ke depan, konsumsi daya diperkirakan dapat mencapai 600 hingga 1.000 kilowatt per rak seiring penggunaan GPU berperforma tinggi untuk AI generatif dan machine learning.
Kondisi tersebut membuat teknologi pendinginan konvensional berbasis udara mulai menghadapi keterbatasan. Industri kini beralih ke teknologi liquid cooling atau pendinginan cair yang dinilai lebih efektif menjaga suhu perangkat komputasi berdaya tinggi. Teknologi ini juga mampu meningkatkan efisiensi energi sekaligus menjaga stabilitas operasional pusat data yang beroperasi 24 jam tanpa henti.
Berdasarkan proyeksi industri, kapasitas data center Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 1,6 gigawatt pada akhir 2026. Sementara itu, total beban teknologi informasi nasional diprediksi meningkat dari 1.717 megawatt pada 2026 menjadi 4.145 megawatt pada 2031. Pertumbuhan tersebut mencerminkan laju ekspansi industri digital yang sangat agresif dan menjadi peluang besar bagi investor, penyedia cloud, serta perusahaan teknologi global.
Besarnya potensi tersebut didukung oleh jumlah pengguna internet Indonesia yang mencapai ratusan juta orang. Aktivitas digital masyarakat yang terus meningkat melalui media sosial, layanan streaming, transaksi digital, dan aplikasi berbasis AI menjadi faktor utama yang mendorong kebutuhan infrastruktur data center nasional. Tak heran jika berbagai perusahaan teknologi dunia mulai melirik Indonesia sebagai lokasi investasi strategis untuk pusat data regional.
Wakil Presiden Bisnis Data Center Schneider Electric Indonesia, Ellya Cen, menilai era AI memaksa industri mengubah cara membangun pusat data. Infrastruktur yang sebelumnya hanya berfokus pada kapasitas ruang dan konektivitas kini harus mampu menangani kebutuhan listrik yang jauh lebih besar, panas yang lebih tinggi, serta tuntutan uptime yang semakin kritis bagi layanan digital modern.
Selain menghadirkan solusi pendinginan cair, Schneider Electric juga mengembangkan berbagai sistem pendukung seperti UPS, PDU, sistem penyimpanan energi baterai, manajemen gedung pintar, hingga digital twin untuk meningkatkan efisiensi operasional. Perusahaan tersebut bahkan telah mengakuisisi perusahaan spesialis liquid cooling asal Amerika Serikat, Motivair, guna memperkuat posisinya dalam industri pusat data berbasis AI.
Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi pusat data dan AI terbesar di kawasan Asia Tenggara. Namun para pelaku industri menilai pemerintah perlu mempercepat regulasi pendukung, memberikan insentif fiskal yang kompetitif, serta memperluas pemanfaatan energi terbarukan agar daya saing nasional semakin kuat. Jika langkah tersebut berhasil dilakukan, Indonesia berpotensi menjadi magnet investasi teknologi bernilai miliaran dolar dalam beberapa tahun mendatang.
FAQ
Apa itu data center?
Data center adalah fasilitas yang digunakan untuk menyimpan, mengelola, dan memproses data digital menggunakan server, jaringan, dan sistem penyimpanan berkapasitas besar.
Mengapa AI meningkatkan kebutuhan data center?
AI memerlukan daya komputasi tinggi, terutama untuk melatih dan menjalankan model kecerdasan buatan yang membutuhkan ribuan GPU dan server berperforma tinggi.
Apa itu liquid cooling?
Liquid cooling adalah teknologi pendinginan menggunakan cairan khusus untuk menyerap panas dari perangkat komputasi sehingga lebih efisien dibanding pendinginan udara tradisional.
Mengapa Indonesia menarik bagi investasi data center?
Indonesia memiliki populasi besar, pengguna internet yang tinggi, ekonomi digital yang berkembang pesat, dan posisi strategis di Asia Tenggara.
Apa manfaat data center bagi ekonomi digital?
Data center mendukung layanan cloud, AI, e-commerce, fintech, streaming, hingga transformasi digital perusahaan sehingga menjadi fondasi utama ekonomi digital modern. (Tim)
Editor : Fanda Yosephta
Sumber Berita: IDPRO, Schneider Electric Indonesia, laporan industri data center Asia Tenggara, IDN Financials.









