BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50%, Rupiah Tertekan! Deposito, Emas, atau Dolar yang Paling Untung?

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Jakarta – Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Keputusan ini diambil di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang masih bergerak di level tinggi terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

Kenaikan suku bunga tersebut langsung menjadi perhatian pelaku pasar dan masyarakat. Pasalnya, perubahan BI-Rate tidak hanya memengaruhi biaya pinjaman dan kredit perbankan, tetapi juga berdampak pada pilihan instrumen investasi yang dianggap paling menguntungkan dalam kondisi ekonomi saat ini.

Salah satu instrumen yang berpotensi mendapatkan keuntungan dari kenaikan suku bunga adalah deposito. Ketika BI menaikkan suku bunga acuan, bank-bank umumnya akan menyesuaikan bunga simpanan secara bertahap. Kondisi ini membuat deposito kembali menarik bagi investor yang mengutamakan keamanan dan pendapatan tetap dengan risiko relatif rendah.

Di sisi lain, penguatan dolar AS masih menjadi sorotan utama. Tekanan terhadap rupiah membuat aset berbasis dolar menjadi pilihan bagi sebagian investor yang ingin melindungi nilai kekayaan mereka dari fluktuasi mata uang domestik. Namun, investasi dolar tetap memiliki risiko karena sangat bergantung pada arah kebijakan suku bunga global dan kondisi ekonomi Amerika Serikat.

Baca Juga :  Bank Indonesia menaikkan BI-Rate Jadi 5,50%, Rupiah Tertekan dan Investasi Asing Jadi Sorotan

Sementara itu, emas masih mempertahankan posisinya sebagai aset lindung nilai atau safe haven. Ketidakpastian ekonomi global, volatilitas pasar keuangan, dan kekhawatiran terhadap inflasi membuat logam mulia tetap diminati. Meski kenaikan suku bunga biasanya dapat menekan harga emas dalam jangka pendek, permintaan terhadap aset aman sering kali mampu menjaga daya tarik investasi ini.

Pengamat pasar menilai pilihan instrumen terbaik saat ini bergantung pada profil risiko masing-masing investor. Deposito cocok bagi mereka yang mengutamakan kepastian imbal hasil, emas lebih sesuai untuk perlindungan jangka panjang terhadap inflasi, sedangkan dolar AS dapat menjadi alternatif diversifikasi aset ketika nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan.

Bagi investor yang memiliki horizon investasi menengah hingga panjang, strategi diversifikasi dinilai lebih bijak dibandingkan menempatkan seluruh dana pada satu instrumen. Kombinasi deposito, emas, dan aset berbasis dolar dapat membantu menyeimbangkan potensi keuntungan dan risiko di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Baca Juga :  Harga BBM Pertamina Terbaru 22 Maret 2026: Pertamax, Dexlite, dan Turbo Naik

Dengan BI-Rate kini berada di level 5,50 persen, perhatian pasar akan tertuju pada perkembangan inflasi, pergerakan rupiah, dan arah kebijakan moneter global dalam beberapa bulan ke depan. Ketiga faktor tersebut akan menjadi penentu utama apakah deposito, emas, atau dolar akan memberikan keuntungan terbesar bagi investor sepanjang 2026.

FAQ

Mengapa BI menaikkan suku bunga menjadi 5,50 persen?
Untuk menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, dan menjaga kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia.

Apakah bunga deposito akan naik?
Biasanya bank akan menyesuaikan bunga deposito secara bertahap setelah kenaikan BI-Rate.

Apakah emas masih menarik saat suku bunga naik?
Ya. Emas tetap menjadi aset lindung nilai yang diminati saat ketidakpastian ekonomi meningkat.

Apakah membeli dolar AS menguntungkan?
Potensinya ada jika rupiah masih melemah, tetapi tetap memiliki risiko fluktuasi nilai tukar.

Instrumen mana yang paling aman?
Deposito umumnya dianggap paling aman karena menawarkan imbal hasil tetap dengan risiko relatif rendah.

Berita Terkait

Rupiah Tembus Rp18.184 per Dolar AS, BI Intervensi Pasar dan Serap SBN
IHSG Menguat ke 5.282, Saham ASII dan BBCA Melonjak pada Penutupan 28 Oktober 2026
The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga Oktober 2026, Rupiah dan IHSG Jadi Sorotan
Harga Emas Pegadaian 28 Oktober 2026: Antam Rp2,589 Juta, UBS dan Galeri 24 Lebih Murah
Rupiah Hari Ini 28 Oktober 2026 Melemah ke Rp18.156, Pasar Menanti The Fed
Laba Antam Tembus Rp9,66 Triliun hingga September 2026, Naik 46 Persen
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 28 Oktober 2026, 1 Gram Rp2,589 Juta
IHSG Anjlok ke 5.249 Pagi Ini, Saham BBRI, BMRI dan TLKM Kompak Merah
Berita ini 36 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:33 WIB

Rupiah Tembus Rp18.184 per Dolar AS, BI Intervensi Pasar dan Serap SBN

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:16 WIB

IHSG Menguat ke 5.282, Saham ASII dan BBCA Melonjak pada Penutupan 28 Oktober 2026

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:00 WIB

The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga Oktober 2026, Rupiah dan IHSG Jadi Sorotan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 10:24 WIB

Harga Emas Pegadaian 28 Oktober 2026: Antam Rp2,589 Juta, UBS dan Galeri 24 Lebih Murah

Rabu, 28 Oktober 2026 - 10:01 WIB

Rupiah Hari Ini 28 Oktober 2026 Melemah ke Rp18.156, Pasar Menanti The Fed

Berita Terbaru