JAKARTA- Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak hanya mengubah sektor bisnis dan teknologi sipil, tetapi juga menggeser peta kekuatan pertahanan global. Sejumlah negara kini berlomba mengintegrasikan AI ke sistem persenjataan, drone tempur, hingga analisis intelijen real-time. Pada 2026, persaingan tersebut semakin terbuka dan strategis.
Berdasarkan tren investasi, kemampuan riset, hingga implementasi di lapangan, ada beberapa negara yang menempati posisi teratas dalam pengembangan AI militer. Urutan ini disusun dari kombinasi anggaran, kesiapan teknologi, serta tingkat adopsi dalam sistem pertahanan aktif.
1. Amerika Serikat
Amerika Serikat masih menjadi pemimpin global dalam AI militer. Dengan anggaran pertahanan terbesar di dunia, Washington mampu mengembangkan sistem drone otonom, AI untuk jet tempur, hingga sistem analisis intelijen berbasis machine learning. Pentagon juga mendorong integrasi AI dalam operasi siber dan pengambilan keputusan taktis.
Keunggulan AS terletak pada kolaborasi erat antara militer dan perusahaan teknologi besar. Integrasi AI tidak hanya sebatas riset, tetapi sudah diuji dalam simulasi tempur dan pengoperasian drone canggih.
2. China
Di posisi kedua, China tampil sebagai penantang utama. Negeri Tirai Bambu ini agresif dalam mengembangkan drone swarm—ratusan drone yang dapat dikendalikan oleh satu sistem AI. Selain itu, China mengembangkan teknologi pengawasan militer dan sistem perang elektronik berbasis kecerdasan buatan.
Target jangka panjang China adalah menjadi pemimpin global dalam AI sebelum 2030. Dukungan negara yang terpusat membuat pengembangan teknologi dapat dilakukan dalam skala besar dan cepat.
3. Israel
Meski wilayahnya kecil, Israel dikenal sangat maju dalam teknologi militer berbasis AI. Sistem pertahanan udara seperti Iron Dome memanfaatkan analitik cerdas untuk menentukan prioritas ancaman.
Israel juga unggul dalam drone intelijen, sistem target otomatis, serta operasi siber. Pendekatannya lebih taktis dan presisi, menjadikannya salah satu pemain paling efektif dalam integrasi AI di medan konflik nyata.
4. Rusia
Rusia juga mengembangkan AI untuk kebutuhan tempur darat dan drone. Beberapa sistem robot tempur dan drone semi-otonom telah diperkenalkan dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, keterbatasan akses teknologi global dan sanksi ekonomi membuat perkembangan AI Rusia dinilai belum secepat dua negara teratas.
Secara keseluruhan, peta kekuatan AI militer dunia saat ini masih dipimpin Amerika Serikat, diikuti China sebagai pesaing terdekat. Israel tampil sebagai spesialis teknologi presisi, sementara Rusia fokus pada penguatan sistem tempur berbasis robotik.
Perkembangan ini memunculkan pertanyaan baru tentang masa depan peperangan. Dengan semakin canggihnya sistem otonom dan analitik berbasis AI, banyak analis memperkirakan perang masa depan akan lebih mengandalkan mesin cerdas dibandingkan pasukan manusia. (*/Tim)









