JAKARTA – Akses layanan kesehatan yang merata di Indonesia masih menjadi tantangan besar hingga saat ini. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, distribusi tenaga medis dan fasilitas kesehatan belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah, terutama daerah terpencil dan perbatasan.
Kondisi tersebut mendorong perusahaan teknologi kesehatan global seperti Philips untuk menghadirkan inovasi berbasis artificial intelligence (AI) guna mempercepat dan memperluas akses diagnostik di Tanah Air. Teknologi ini dinilai mampu menjadi solusi praktis di tengah keterbatasan tenaga kesehatan spesialis.
Senior Vice President and Global Business Leader for Ultrasound Philips, Jeff Cohen, mengungkapkan bahwa tantangan utama sistem kesehatan global saat ini adalah meningkatnya jumlah pasien yang tidak sebanding dengan ketersediaan tenaga medis. Bahkan, fenomena burnout di kalangan tenaga kesehatan menjadi isu serius di berbagai negara.
Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengadopsi teknologi diagnostik modern, khususnya pencitraan ultrasound, guna mempercepat pemeriksaan dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Dengan teknologi tersebut, tenaga medis dapat memperoleh hasil diagnosis secara cepat dan akurat.
Data pemerintah menunjukkan bahwa Indonesia telah mencapai Universal Health Coverage (UHC) dengan lebih dari 98 persen penduduk terdaftar dalam program jaminan kesehatan nasional. Meski demikian, tantangan masih muncul, terutama dalam penanganan penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes yang membutuhkan deteksi dini.
Organisasi World Health Organization juga mencatat bahwa rendahnya tingkat deteksi dini serta distribusi tenaga kesehatan yang belum merata menjadi kendala utama dalam sistem kesehatan Indonesia. Hal ini membuat teknologi diagnostik menjadi semakin krusial.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Philips mengembangkan sistem ultrasound berbasis AI yang mampu mengotomatiskan proses analisis dan pengukuran citra medis. Teknologi ini membantu mempercepat waktu pemeriksaan hingga 50 persen, sehingga tenaga medis dapat lebih fokus pada penanganan pasien.
Selain itu, penggunaan AI juga memungkinkan hasil diagnosis yang lebih konsisten, bahkan oleh tenaga kesehatan dengan tingkat pengalaman yang berbeda. Hal ini sangat penting terutama di daerah yang kekurangan dokter spesialis.
Tak hanya itu, Philips juga menghadirkan perangkat ultrasound genggam yang portabel dan mudah digunakan. Teknologi ini memungkinkan layanan diagnostik dilakukan langsung di lapangan, termasuk di wilayah terpencil yang minim fasilitas kesehatan.
Perangkat ini juga berperan penting dalam deteksi dini komplikasi kehamilan. Berdasarkan data Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, angka kematian ibu di Indonesia masih berada di kisaran 189 per 100.000 kelahiran hidup, sehingga teknologi diagnostik menjadi sangat dibutuhkan.
Inovasi lainnya adalah fitur tele-ultrasound yang memungkinkan tenaga medis di daerah terpencil terhubung dengan dokter spesialis di kota besar secara real-time. Dengan demikian, kualitas diagnosis tetap terjaga dan pasien bisa mendapatkan penanganan yang lebih cepat.
Langkah strategis lainnya adalah memperkuat manufaktur lokal melalui kerja sama dengan perusahaan dalam negeri. Philips menggandeng PT PHC Indonesia dan PT Graha Teknomedika untuk memproduksi perangkat kesehatan di Indonesia.
Produksi lokal ini tidak hanya mempercepat distribusi alat kesehatan, tetapi juga mendukung kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta membuka peluang transfer teknologi dan peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal.
Dengan pengalaman puluhan tahun di Indonesia, Philips kini memiliki lebih dari 3.900 karyawan yang tersebar di berbagai kota. Komitmen jangka panjang ini menunjukkan keseriusan perusahaan dalam membangun ekosistem kesehatan yang berkelanjutan.
Selain fokus pada teknologi, Philips juga mengembangkan produk yang lebih ramah lingkungan, termasuk perangkat hemat energi dan program daur ulang alat kesehatan. Hal ini menjadi bagian dari upaya menciptakan sistem kesehatan yang berkelanjutan.
Ke depan, kombinasi antara inovasi AI, kolaborasi dengan tenaga kesehatan, serta penguatan manufaktur lokal diyakini akan menjadi kunci dalam meningkatkan akses layanan kesehatan yang lebih inklusif dan merata di Indonesia. (*/Tim)









