Jakarta-Lonjakan investasi di sektor kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) ternyata tidak hanya membuka peluang bagi programmer, tetapi juga memicu permintaan besar terhadap tenaga kerja teknis non-digital. Di tengah kekhawatiran AI akan menggantikan pekerjaan manusia, justru profesi seperti teknisi, insinyur, hingga pekerja konstruksi kini menjadi yang paling diburu di era transformasi digital.
Empat raksasa teknologi dunia yakni Alphabet, Microsoft, Meta, dan Amazon tercatat menggelontorkan hampir US$700 miliar untuk membangun infrastruktur AI, terutama pusat data. Investasi jumbo ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan teknologi AI global.
Salah satu proyek besar datang dari Amazon yang menginvestasikan US$12 miliar untuk membangun pusat data AI baru di Louisiana. Proyek ini diproyeksikan membuka ratusan lapangan kerja tetap serta ribuan pekerjaan tambahan, mulai dari teknisi listrik, teknisi mesin, hingga tenaga keamanan.
Sementara itu, Meta juga tak kalah agresif dengan investasi US$27 miliar melalui kerja sama dengan Blue Owl Capital. Mereka membangun pusat data Hyperion raksasa yang bahkan disebut akan mengonsumsi listrik lebih besar dibandingkan kota New Orleans, menandakan besarnya skala infrastruktur AI yang tengah dibangun.
Di balik masifnya pembangunan ini, permintaan tenaga kerja terampil melonjak tajam. Data dari Randstad menunjukkan permintaan teknisi robotika meningkat hingga 107% dalam periode 2022–2026. Selain itu, insinyur HVAC atau sistem pendingin naik 67%, dan teknisi otomatisasi industri tumbuh 51%.
Tak hanya itu, pekerjaan tradisional seperti pekerja konstruksi dan teknisi listrik juga ikut terdongkrak hingga 27%. Hal ini menunjukkan bahwa revolusi AI tidak hanya soal software, tetapi juga membutuhkan infrastruktur fisik yang besar dan kompleks.
Lonjakan permintaan ini berdampak langsung pada kenaikan gaji. CEO Nvidia, Jensen Huang, bahkan memprediksi banyak pekerjaan di sektor ini akan menawarkan gaji hingga enam digit dolar AS. Perusahaan rekrutmen juga mencatat adanya kenaikan gaji hingga 25–30% bagi pekerja yang beralih ke sektor pusat data AI.
Meski peluang terbuka lebar, industri ini juga menghadapi tantangan serius seperti kekurangan tenaga kerja terampil dan populasi pekerja yang menua. Kondisi ini membuat perusahaan harus bersaing ketat dalam merekrut talenta, sekaligus mendorong investasi besar dalam pelatihan agar kebutuhan tenaga kerja di era AI dapat terpenuhi. (*/Tim)









