Jakarta – Lonjakan harga minyak dunia dalam beberapa pekan terakhir justru membawa keuntungan tersendiri bagi Amerika Serikat. Di tengah konflik geopolitik yang memanas dan gangguan pasokan energi global, minyak acuan Brent melesat tajam, sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) cenderung tertahan.
Selisih harga antara Brent dan WTI bahkan melebar hingga US$12,05 per barel. Ini menjadi level tertinggi sejak 2015 dan menciptakan peluang besar bagi pelaku pasar energi. Kondisi tersebut dipicu oleh meningkatnya risiko global akibat konflik di Timur Tengah yang memengaruhi pasokan minyak dunia.
Brent sebagai acuan global sangat sensitif terhadap gejolak geopolitik, sehingga harganya terdorong naik lebih cepat. Sebaliknya, WTI lebih dipengaruhi kondisi domestik Amerika Serikat yang saat ini mengalami kelebihan pasokan minyak.
Data menunjukkan stok minyak di Cushing, Oklahoma, meningkat hingga 27,52 juta barel. Selain itu, pemerintah Amerika Serikat juga bersiap melepas cadangan minyak strategis dalam jumlah besar guna menstabilkan pasar domestik.
Perbedaan ini membuka peluang arbitrase. Trader membeli minyak WTI dengan harga lebih murah, lalu menjualnya ke pasar internasional dengan acuan harga Brent yang lebih tinggi. Meski biaya pengiriman naik, selisih harga masih memberikan keuntungan yang signifikan.
Dampaknya, ekspor minyak Amerika Serikat meningkat pesat. Pengiriman minyak ke Eropa mengalami lonjakan, seiring meningkatnya permintaan akibat berkurangnya pasokan dari kawasan lain.
Sepanjang 2025, ekspor minyak AS mencapai hampir 4 miliar barel. Belanda menjadi salah satu tujuan utama, disusul negara-negara Amerika Latin seperti Meksiko dan Brasil, serta Kanada yang masih bergantung pada pasokan energi dari AS.
Asia juga tetap menjadi pasar penting, termasuk Korea Selatan, India, dan China meskipun terjadi perubahan pola impor. Indonesia sendiri tercatat mengimpor sekitar 57 juta barel minyak dari AS, menunjukkan peran strategisnya dalam perdagangan energi global.
Kondisi ini menunjukkan bahwa di tengah krisis global, Amerika Serikat justru mampu memanfaatkan peluang dari selisih harga minyak. Namun, jika biaya logistik meningkat atau selisih harga menyempit, peluang keuntungan ini bisa berkurang dalam waktu dekat. (*/Tim)









