Sungai Penuh – Kelangkaan uang pecahan kecil Rp5.000 hingga Rp20.000 dikeluhkan pedagang pasar tradisional di Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci. Kondisi ini disebut berdampak langsung terhadap penurunan omzet pedagang hingga 50 persen.
Minimnya peredaran uang kecil, baik uang baru maupun uang lama, membuat aktivitas jual beli tersendat. Pedagang kesulitan menyediakan uang kembalian, sementara mayoritas transaksi di pasar masih menggunakan nominal kecil.
“Sejak langkanya uang pecahan Rp5 ribu sampai Rp20 ribu, omzet kami turun lebih dari 50 persen,” kata Adek, pedagang ikan asin di pasar tradisional, Selasa (17/3/2026).
Adek menyebut, sebagian besar pembeli hanya berbelanja dengan nilai Rp5.000 hingga Rp10.000. Namun, banyak di antara mereka membayar menggunakan uang pecahan besar seperti Rp50.000 hingga Rp100.000.
“Karena tidak ada kembalian, kami terpaksa menolak. Dalam sehari bisa sampai 50 orang yang tidak jadi belanja,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Nesiati, pedagang sayur di Pasar Tanjung Bajure. Ia mengatakan, kondisi ini sangat merugikan pedagang kecil yang mengandalkan transaksi harian.
“Pembeli bawa uang besar, padahal harga sayur paling Rp5 ribu. Kalau tidak ada uang kecil, terpaksa kami tolak,” katanya.
Para pedagang berharap pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kelangkaan uang pecahan kecil di daerah tersebut. Mereka meminta distribusi uang kecil ditingkatkan agar roda ekonomi pasar tradisional kembali normal.
“Kami harap pemerintah memperhatikan kondisi ini. Semoga Pak Purbaya bisa mendengar keluhan kami,” ujar Nesiati. (fyo)
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Fanda Yosephta









