SUNGAIPENUH – Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Sungai Penuh hingga kini belum juga digelar. Di balik penundaan tersebut, muncul indikasi kuat adanya persaingan ketat antar elite politik lokal yang tengah berebut kursi strategis di tubuh partai.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, Musda kali ini tidak sekadar agenda rutin organisasi, melainkan menjadi ajang pertarungan dua tokoh kuat yang memiliki pengaruh besar di Kota Sungai Penuh. Keduanya disebut tengah melakukan manuver politik secara intens untuk mengamankan dukungan.
Sumber internal menyebutkan bahwa pertarungan akan berlangsung secara head to head. “Dua orang kuat ini masih terus melakukan lobi-lobi dan pertemuan dengan pemilik suara,” ujarnya.
Lobi politik yang dilakukan tidak hanya bersifat formal, tetapi juga mencakup komunikasi intens dengan berbagai elemen penting di struktur partai. Hal ini membuat dinamika internal Golkar Sungai Penuh semakin memanas menjelang Musda.
Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor utama molornya jadwal Musda. Masing-masing kubu disebut masih berupaya mengunci dukungan mayoritas sebelum pelaksanaan pemilihan ketua digelar.
Persaingan ini juga menjadi sorotan karena posisi Ketua DPD Golkar dinilai memiliki peran strategis dalam menentukan arah politik daerah, termasuk menghadapi agenda politik ke depan.
Sejumlah pengamat menilai bahwa situasi ini merupakan bagian dari strategi politik yang lazim terjadi di internal partai besar. Penundaan Musda bisa dimanfaatkan sebagai momentum konsolidasi kekuatan oleh masing-masing kandidat.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Golkar terkait jadwal terbaru Musda. Namun satu hal yang pasti, pertarungan dua kekuatan besar ini diprediksi akan menjadi salah satu momen politik paling menarik di Sungai Penuh dalam waktu dekat. (fyo)
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Fanda Yosephta









