JAKARTA-Cuaca ekstrem kembali melanda Amerika Serikat. Sebuah badai musim dingin raksasa bernama Winter Storm Fern diperkirakan menghantam wilayah luas dari Texas hingga New England, mengancam lebih dari 180 juta penduduk dengan hujan es berbahaya, salju tebal, dan suhu Arktik yang sangat ekstrem.
Badai ini menjadi sorotan dunia internasional karena dampaknya yang sangat luas dan berpotensi melumpuhkan aktivitas ekonomi, transportasi, hingga pasokan listrik di banyak negara bagian. Wilayah Selatan AS yang jarang menghadapi cuaca musim dingin ekstrem justru masuk dalam zona risiko tertinggi.
Menurut laporan The Weather Channel, kombinasi hujan beku dan salju lebat dapat membuat jalanan tidak bisa dilalui, memicu kecelakaan lalu lintas, serta menyebabkan pemadaman listrik massal akibat pohon tumbang dan kabel listrik tertutup es.
Salju tebal juga diperkirakan menyelimuti kota-kota besar di Pantai Timur seperti Washington DC, New York, dan Boston. Kondisi ini berpotensi mengganggu penerbangan internasional dan domestik, yang berdampak pada arus perjalanan global, termasuk penumpang dari dan menuju Asia.
Situasi semakin mengkhawatirkan karena badai ini disertai dorongan udara Arktik ekstrem. Setelah badai berlalu, suhu di sejumlah wilayah diprediksi tetap berada di bawah titik beku selama beberapa hari, meningkatkan risiko hipotermia, terutama bagi warga yang kehilangan listrik dan pemanas.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa perubahan iklim global berdampak nyata dan semakin ekstrem di berbagai belahan dunia. Para ahli menilai frekuensi cuaca ekstrem seperti badai musim dingin hebat, gelombang panas, dan banjir besar cenderung meningkat.
Kementerian dan lembaga meteorologi internasional terus memantau perkembangan badai ini, terutama terkait dampaknya terhadap penerbangan, perdagangan, dan mobilitas warga negara asing, termasuk warga Indonesia yang berada di Amerika Serikat.
Masyarakat Indonesia diimbau untuk mengikuti informasi resmi jika memiliki keluarga atau rencana perjalanan ke wilayah terdampak, serta memahami bahwa dinamika iklim global dapat memberi efek tidak langsung pada ekonomi dan transportasi internasional.
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Fanda Yosephta
Sumber Berita: The Weather Channel








