Kemenkes Pastikan Hantavirus di Indonesia Berbeda dengan Kasus MV Hondius

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 12 Mei 2026 - 00:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KESEHATAN-Kementerian Kesehatan menegaskan kasus hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan virus yang menyerang penumpang kapal pesiar MV Hondius. Pemerintah memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) di Indonesia seperti yang terjadi pada kapal pesiar tersebut.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan bahwa kasus hantavirus di Indonesia didominasi tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang disebabkan strain Seoul virus.

“HPS banyak ditemukan di Amerika Selatan dan belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus,” ujar Andi dalam konferensi pers, Senin (11/5/2026).

Menurut Kemenkes, tipe HFRS yang ditemukan di Indonesia sudah terdeteksi sejak 1991. Sementara itu, kasus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius dikaitkan dengan strain Andes virus yang dapat memicu HPS dan menyerang sistem pernapasan.

Baca Juga :  Waspada Hantavirus di Indonesia, Kenali Gejala, Cara Penularan, dan Pencegahannya

Kemenkes mencatat selama periode 2024 hingga 2026 terdapat 23 kasus HFRS di Indonesia. Namun, hingga kini belum ditemukan indikasi penyebaran tipe HPS di dalam negeri.

Andi juga menegaskan bahwa hantavirus tipe HFRS yang ditemukan di Asia, termasuk Indonesia, belum memiliki bukti penularan antar-manusia. Penularan lebih banyak terjadi akibat kontak dengan tikus atau hewan pengerat lain melalui urin, feses, gigitan, maupun debu yang telah terkontaminasi.

Baca Juga :  Kabar Terbaru Tender Pembangunan RSUD Kerinci Masuk Tahap Evaluasi Harga, PP Urban Tawar Rp137,5 Miliar

Kelompok pekerjaan yang memiliki risiko lebih tinggi antara lain petugas kebersihan, pengelola sampah, petani, hingga masyarakat yang beraktivitas di area lembap atau terdampak banjir.

Selain itu, lokasi seperti gedung lama, ruang bawah tanah, serta area dengan populasi tikus tinggi juga disebut menjadi faktor risiko penularan hantavirus.

Kemenkes mengimbau masyarakat tetap menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam, nyeri tubuh, sakit kepala, hingga gangguan pernapasan.

Pemerintah juga memastikan pemantauan terhadap perkembangan kasus hantavirus global terus dilakukan guna mengantisipasi potensi penyebaran penyakit menular dari luar negeri.

Berita Terkait

BPJS Kesehatan Dapat Suntikan Rp20 Triliun, Kapan Cair dan Apa Dampaknya?
Influenza A 2026: Kenali 6 Gejala yang Sering Muncul dan Cara Mencegahnya
Influenza A Terdeteksi Lebih Awal, Kasus Pertama Musim Flu 2026-2027 Dikonfirmasi
Kabar Baik ! RSUD A Thalib Sungai Penuh Segera Naik Jadi Tipe B, CT Scan dan Mamografi Sudah Disiapkan
CT-Scan Segera Hadir di RSUD Mayjen H.A. Thalib, Warga Sungai Penuh dan Kerinci Dapat Kabar Baik
Gula Darah Tinggi Bisa Merusak Ginjal, Ini Tanda Awal yang Sering Tidak Disadari
Kabut Asap Kebakaran Hutan Menyebabkan Penyakit Apa? Kenali 8 Dampak Berbahaya bagi Kesehatan
Biaya MRI 2026: Apakah Ditanggung BPJS? Cek Syarat dan Prosedurnya
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 03:02 WIB

BPJS Kesehatan Dapat Suntikan Rp20 Triliun, Kapan Cair dan Apa Dampaknya?

Rabu, 23 September 2026 - 05:00 WIB

Influenza A 2026: Kenali 6 Gejala yang Sering Muncul dan Cara Mencegahnya

Sabtu, 19 September 2026 - 01:05 WIB

Influenza A Terdeteksi Lebih Awal, Kasus Pertama Musim Flu 2026-2027 Dikonfirmasi

Selasa, 8 September 2026 - 21:19 WIB

Kabar Baik ! RSUD A Thalib Sungai Penuh Segera Naik Jadi Tipe B, CT Scan dan Mamografi Sudah Disiapkan

Jumat, 4 September 2026 - 07:00 WIB

CT-Scan Segera Hadir di RSUD Mayjen H.A. Thalib, Warga Sungai Penuh dan Kerinci Dapat Kabar Baik

Berita Terbaru