Jakarta-Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi dari Pertamina kembali mengalami penyesuaian per Jumat, 8 Mei 2026. Kenaikan harga ini berlaku di sejumlah wilayah Indonesia seperti Sumatera Barat, Jambi hingga DKI Jakarta. Penyesuaian harga BBM tersebut menjadi perhatian masyarakat karena berdampak langsung terhadap biaya transportasi, logistik hingga pengeluaran rumah tangga.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi disebut mengikuti fluktuasi harga minyak mentah dunia yang dalam beberapa pekan terakhir mengalami tekanan cukup tinggi. Selain itu, situasi geopolitik global juga turut memicu lonjakan harga energi, terutama setelah terganggunya jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Kondisi tersebut membuat pasokan energi global menjadi lebih ketat.
Di wilayah Provinsi Sumatera Barat, harga Pertamax kini berada di level Rp12.900 per liter. Sementara Pertamax Turbo tercatat mencapai Rp20.750 per liter. Untuk jenis solar nonsubsidi seperti Dexlite dijual Rp27.150 per liter dan Pertamina Dex menyentuh Rp29.100 per liter. Adapun BBM subsidi seperti Pertalite masih bertahan di angka Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Sementara itu di Provinsi Jambi, harga Pertamax dijual Rp12.600 per liter. Pertamax Turbo mencapai Rp20.350 per liter, sedangkan Dexlite berada di angka Rp26.600 per liter dan Pertamina Dex Rp28.500 per liter. Harga Pertalite dan Biosolar di wilayah ini masih stabil mengikuti ketetapan pemerintah untuk BBM subsidi.
Untuk wilayah DKI Jakarta, harga Pertamax menjadi yang termurah dibanding Sumbar dan Jambi yakni Rp12.300 per liter. Kemudian Pertamax Green dipasarkan Rp12.900 per liter, Pertamax Turbo Rp19.900 per liter, Dexlite Rp26.000 per liter dan Pertamina Dex Rp27.900 per liter. Harga tersebut berlaku di seluruh SPBU Pertamina mulai 4 Mei 2026 hingga ada penyesuaian berikutnya.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi diperkirakan akan memberikan dampak terhadap sektor transportasi dan distribusi barang. Biaya operasional kendaraan pribadi maupun kendaraan logistik diprediksi ikut meningkat sehingga berpotensi memengaruhi harga kebutuhan pokok di pasaran. Meski demikian, pemerintah memastikan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar masih dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam penggunaan bahan bakar kendaraan. Penggunaan BBM sesuai spesifikasi mesin juga dinilai dapat membantu menjaga efisiensi konsumsi bahan bakar dan memperpanjang usia kendaraan. Banyak pengendara kini mulai mempertimbangkan penggunaan BBM ramah lingkungan seperti Pertamax Green yang diklaim lebih rendah emisi.
Perubahan harga BBM Pertamina selalu menjadi topik yang banyak dicari masyarakat karena berkaitan erat dengan pengeluaran harian. Selain memengaruhi biaya transportasi, harga BBM juga sering menjadi indikator pergerakan inflasi nasional. Oleh sebab itu, masyarakat disarankan rutin memantau informasi resmi terkait update harga BBM terbaru di wilayah masing-masing.
Daftar Harga BBM Pertamina 8 Mei 2026
Sumatera Barat
Pertamax: Rp12.900
Pertamax Turbo: Rp20.750
Pertamina Dex: Rp29.100
Dexlite: Rp27.150
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
Jambi
Pertamax: Rp12.600
Pertamax Turbo: Rp20.350
Pertamina Dex: Rp28.500
Dexlite: Rp26.600
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
DKI Jakarta
Pertamax: Rp12.300
Pertamax Turbo: Rp19.900
Pertamax Green: Rp12.900
Pertamina Dex: Rp27.900
Dexlite: Rp26.000
Pertalite: Rp10.000
Biosolar: Rp6.800
FAQ
Apakah harga Pertalite naik pada Mei 2026?
Tidak. Harga Pertalite masih tetap Rp10.000 per liter dan belum mengalami perubahan.
Mengapa harga BBM nonsubsidi naik?
Kenaikan dipengaruhi harga minyak dunia, nilai tukar rupiah dan kondisi geopolitik global yang mengganggu distribusi energi.
Wilayah mana yang memiliki Pertamax termurah?
DKI Jakarta menjadi wilayah dengan harga Pertamax termurah dibanding Sumbar dan Jambi, yakni Rp12.300 per liter.
Apakah harga Biosolar berubah?
Tidak. Harga Biosolar subsidi masih tetap Rp6.800 per liter.
Kapan harga BBM Pertamina diperbarui?
Harga BBM nonsubsidi biasanya diperbarui secara berkala mengikuti kondisi pasar energi global dan kebijakan pemerintah.









