Jakarta-Sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami tekanan sepanjang perdagangan 21–25 September 2026. Beberapa saham yang terafiliasi dengan Hary Tanoesoedibjo bahkan masuk daftar top losers.
Tekanan tersebut terjadi ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 3,09 persen dalam sepekan. IHSG ditutup pada level 6.241,89 pada Jumat, 25 September 2026.
Saham PT MNC Digital Entertainment Tbk. (MSIN) menjadi salah satu saham dengan penurunan terbesar. Harga MSIN turun 31,03 persen menjadi Rp200 per saham dari Rp290 pada pekan sebelumnya.
Penurunan juga terjadi pada PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNCN). Saham perusahaan tersebut melemah 27,66 persen menjadi Rp136 per saham dari posisi sebelumnya Rp188.
Sementara itu, PT MNC Tourism Indonesia Tbk. (KPIG) turun 26,47 persen. Harga saham KPIG berakhir di Rp50 per saham, dibandingkan Rp68 pada pekan sebelumnya.
PT Global Mediacom Tbk. (BMTR) juga masuk daftar saham dengan penurunan terbesar. Saham BMTR melemah 25,22 persen menjadi Rp86 dari sebelumnya Rp115 per saham.
Di luar kelompok saham tersebut, PT Steady Safe Tbk. (SAFE) menjadi top loser terbesar selama periode tersebut. Saham SAFE anjlok 40,19 persen dari Rp1.045 menjadi Rp625 per saham.
Saham lain yang masuk daftar top losers antara lain SDMU yang turun 26,09 persen menjadi Rp68, JGLE melemah 25 persen menjadi Rp54, COCO turun 23,31 persen menjadi Rp102, YPAS turun 22,39 persen menjadi Rp1.040, serta TRIN turun 22,35 persen menjadi Rp278 per saham.
Tekanan pasar juga terlihat dari kapitalisasi pasar BEI yang menyusut 3,20 persen menjadi Rp10.905 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian turun 21,32 persen menjadi Rp11,98 triliun, sedangkan volume transaksi harian naik 2,04 persen menjadi 29,20 miliar saham.
Pada perdagangan Jumat, investor asing mencatatkan net sell Rp559,16 miliar. Secara akumulatif, penjualan bersih investor asing sepanjang 2026 mencapai Rp77,52 triliun.
Pergerakan saham pada pekan terakhir menunjukkan tekanan cukup luas di pasar saham. Investor dapat mencermati kinerja emiten, kondisi pasar, serta keterbukaan informasi sebelum mengambil keputusan investasi. (*)
Editor : Fanda Yosephta









