Jakarta – Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menjadi perhatian investor di tengah tekanan pasar saham Indonesia akibat rencana perubahan klasifikasi MSCI. Koreksi harga saham perbankan besar membuka peluang bagi investor, tetapi risiko pasar masih perlu dicermati.
Pada penutupan perdagangan Senin, 19 Oktober 2026, harga saham BBRI berada di level Rp2.520 per lembar. Berdasarkan simulasi yang diberitakan Bisnis.com, saham ini memiliki estimasi imbal hasil bersih sebesar 12,26%. Angka tersebut menarik perhatian investor yang memburu saham berfundamental kuat.
Tekanan pasar muncul setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) berencana mereklasifikasi Indonesia dari kategori pasar berkembang atau emerging market menjadi pasar mandiri atau standalone market. Rencana tersebut memicu kekhawatiran mengenai aliran dana asing dan prospek pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Direktur Batavia Asset Management, Eri Kusnadi, menilai investor perlu tetap tenang menghadapi gejolak pasar. Menurutnya, koreksi saham dapat membuka peluang akumulasi, terutama pada emiten dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, serta pendapatan yang stabil.
Namun, keputusan membeli saham tetap bergantung pada profil risiko dan kondisi keuangan masing-masing investor. Strategi akumulasi bertahap dapat dipertimbangkan sambil mengamati meredanya tekanan jual dan perkembangan kebijakan pasar modal Indonesia.
Selain harga saham, potensi dividen BBRI juga menjadi perhatian. Simulasi yang dikutip Bisnis.com menyebut dividend yield sebesar 13,62%. Meski demikian, investor perlu memeriksa periode perhitungan, besaran dividen yang digunakan, serta harga saham acuan sebelum membandingkan angka tersebut dengan instrumen lain.
Sebagai pembanding, artikel tersebut menyebut imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sebesar 6,45%, SBN ritel 6,16%, dan deposito bank sekitar 4%. Perbandingan ini tidak berarti saham BBRI lebih aman karena harga saham dapat berfluktuasi dan dividen tidak selalu tetap.
Karena itu, pertanyaan apakah saham BBRI sudah layak diborong belum memiliki jawaban pasti. Investor perlu mencermati laporan keuangan, prospek laba, kebijakan dividen, valuasi, serta perkembangan keputusan MSCI. Langkah tersebut membantu investor menilai peluang dan risiko sebelum mengambil keputusan investasi. (*)
Editor : Fanda Yosephta









