Rupiah Terancam Tembus Rp18.300 per Dolar AS, Wacana MSCI Picu Arus Modal Keluar US$4,3 Miliar

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta-Nilai tukar rupiah menghadapi tekanan setelah MSCI membuka konsultasi publik terkait usulan perubahan status Indonesia dari pasar berkembang atau Emerging Market menjadi Standalone Market. Wacana tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap prospek pasar keuangan domestik.

Dalam skenario dasar, Tim Ekonom Bank Danamon memperkirakan potensi arus modal keluar dari pasar saham Indonesia mencapai US$4,3 miliar. Angka tersebut dapat menambah tekanan terhadap rupiah jika investor asing mengurangi kepemilikan saham domestik.

Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk., Irman Faiz, menilai usulan MSCI berpotensi meningkatkan premi risiko investasi di Indonesia. Namun, tekanan tersebut masih bergantung pada perkembangan konsultasi dan keputusan MSCI selanjutnya.

Pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, rupiah ditutup melemah 87 poin atau 0,49 persen ke level Rp18.025 per dolar AS. Pelemahan ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada perdagangan tersebut.

Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia justru menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menguat 0,66 persen, baht Thailand naik 0,31 persen, sedangkan dolar Singapura menguat 0,14 persen. Perbedaan pergerakan ini menunjukkan tekanan yang dihadapi rupiah di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar.

Baca Juga :  Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.632 per Dolar AS Hari Ini, Pasar Pantau Inflasi AS dan The Fed

Tim Ekonom Danamon memperkirakan rupiah berpotensi bergerak pada kisaran Rp18.100 hingga Rp18.300 per dolar AS dalam jangka pendek. Meski demikian, rupiah berpeluang pulih menuju Rp17.900 hingga Rp18.000 pada akhir 2026 apabila tekanan pasar mereda.

Selain sentimen MSCI, defisit transaksi berjalan turut menjadi perhatian. Danamon memperkirakan defisit tersebut mencapai 1,5 persen dari produk domestik bruto pada 2026. Kondisi ini dapat menambah tantangan bagi stabilitas eksternal Indonesia.

Untuk meredam tekanan, Danamon memperkirakan Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga acuan hingga 6,25 persen pada akhir 2026. Namun, proyeksi tersebut bukan keputusan resmi BI. Perkembangan nilai tukar, inflasi, dan kondisi ekonomi global tetap menjadi faktor penting dalam kebijakan moneter.

Risiko jangka panjang juga perlu diperhatikan jika perubahan status MSCI benar-benar terjadi. Penurunan minat investor institusi dapat meningkatkan biaya modal, membatasi penggalangan dana perusahaan, serta memengaruhi investasi. Meski demikian, investor perlu membedakan antara wacana reklasifikasi dan keputusan final MSCI sebelum mengambil keputusan investasi.

Baca Juga :  Ancaman PHK Massal PPPK , Aturan Belanja Pegawai 30 Persen Picu Kekhawatiran

FAQ SEO

1. Mengapa rupiah tertekan akibat wacana MSCI?

Wacana perubahan klasifikasi pasar Indonesia dapat meningkatkan persepsi risiko dan mendorong investor asing mengurangi eksposur terhadap saham domestik.

2. Berapa proyeksi pelemahan rupiah menurut Danamon?

Dalam proyeksi yang dikutip, rupiah berpotensi bergerak pada kisaran Rp18.100–Rp18.300 per dolar AS dalam jangka pendek.

3. Berapa potensi arus modal keluar akibat wacana MSCI?

Skenario dasar Danamon memperkirakan potensi arus modal keluar dari pasar saham domestik mencapai US$4,3 miliar. Angka ini merupakan proyeksi, bukan arus keluar yang sudah dipastikan terjadi.

4. Apakah BI akan menaikkan suku bunga menjadi 6,25 persen?

Danamon memperkirakan BI Rate berpotensi mencapai 6,25 persen pada akhir 2026. Angka tersebut merupakan proyeksi ekonom, bukan keputusan resmi Bank Indonesia.

5. Apakah perubahan status MSCI Indonesia sudah final?

Belum berdasarkan informasi dalam materi tersebut. MSCI baru membuka konsultasi publik terkait usulan reklasifikasi sehingga investor perlu menunggu perkembangan dan keputusan resmi. (*)

Editor : Fanda Yosephta

Berita Terkait

Harga Emas Antam Hari Ini 17 Oktober 2026 Naik Rp7.000, Buyback Tembus Rp2,387 Juta
Prudential Syariah Luncurkan PRUCare 360 Syariah, Perlindungan Jiwa hingga Usia 80 Tahun
KUR Mandiri Tanpa Agunan Oktober 2026, UMKM Bisa Pinjam hingga Rp100 Juta
Harga BBM Hari Ini 17 Oktober 2026 di Jambi, Sumbar, dan Sumut, Pertamax Tembus Rp16.650
The Fed Beri Sinyal Suku Bunga Bisa Naik Lagi, Keputusan Oktober Jadi Sorotan
Wall Street 16 Oktober 2026 : Nasdaq Tertekan, Saham AI dan Chip Berguguran
IHSG Anjlok 11,57% ke 5.185, MSCI Picu Kekhawatiran Dana Asing Kabur Rp132 Triliun
IHSG Ambruk 11,57% ke 5.185, Saham Bank dan Emiten Besar Berguguran Usai Peringatan MSCI
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 22:00 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 17 Oktober 2026 Naik Rp7.000, Buyback Tembus Rp2,387 Juta

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 21:00 WIB

Rupiah Terancam Tembus Rp18.300 per Dolar AS, Wacana MSCI Picu Arus Modal Keluar US$4,3 Miliar

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Prudential Syariah Luncurkan PRUCare 360 Syariah, Perlindungan Jiwa hingga Usia 80 Tahun

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:07 WIB

KUR Mandiri Tanpa Agunan Oktober 2026, UMKM Bisa Pinjam hingga Rp100 Juta

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Harga BBM Hari Ini 17 Oktober 2026 di Jambi, Sumbar, dan Sumut, Pertamax Tembus Rp16.650

Berita Terbaru

Otomotif

Yamaha XSR900 2027 Warna Neon White, Ini Perubahan Terbarunya

Sabtu, 17 Okt 2026 - 18:00 WIB