JAKARTA — Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat, 25 September 2026. Rupiah ditutup di level Rp17.903 per dolar AS.
Data Traze Andalan Futures menunjukkan rupiah menguat 13 poin atau 0,07 persen. Pergerakan tersebut terjadi ketika mayoritas mata uang Asia juga menguat terhadap dolar AS.
Penguatan rupiah berlangsung di tengah beragam sentimen pasar global. Pelaku pasar mencermati data ekonomi Amerika Serikat, kebijakan Federal Reserve, serta perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
PMI Komposit AS tercatat mencapai 58,4. Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang menunjukkan aktivitas ekonomi Amerika masih kuat. Klaim pengangguran AS juga turun menjadi 197.000.
Kondisi tersebut membuat arah kebijakan suku bunga The Fed tetap menjadi perhatian investor. Perubahan ekspektasi suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan dolar, imbal hasil obligasi, pasar saham, dan nilai tukar negara berkembang.
Di sisi lain, perkembangan diplomasi Amerika Serikat dan Iran ikut diperhatikan pasar. Upaya membuka kembali Selat Hormuz dapat memengaruhi sentimen terhadap energi dan pasar keuangan global.
Bagi masyarakat Indonesia, perubahan kurs dolar memiliki dampak terhadap berbagai kebutuhan. Kurs USD/IDR dapat memengaruhi biaya impor, pembayaran pendidikan di luar negeri, perjalanan internasional, remitansi, serta transaksi perusahaan dengan mitra asing.
Pergerakan rupiah juga penting bagi investor yang memiliki aset dalam dolar atau instrumen investasi berbasis mata uang asing. Perubahan kurs dapat memengaruhi nilai investasi ketika dikonversikan kembali ke rupiah.
Dari dalam negeri, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar. Pengelolaan likuiditas dan pendalaman pasar keuangan dapat mendukung stabilitas nilai tukar.
Untuk perdagangan Senin, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS. Sementara itu, proyeksi rentang pekan depan berada di sekitar Rp17.800 hingga Rp18.100.
Investor dan pelaku usaha tetap perlu memperhatikan perkembangan The Fed, data ekonomi AS, harga energi, kondisi geopolitik, serta kebijakan Bank Indonesia. Faktor tersebut dapat memengaruhi arah kurs dolar dan rupiah dalam jangka pendek. (*)
Editor : Fanda Yosephta









