Prabowo Segera Resmikan Pabrik Baterai EV, Investasi Tembus Rp21 Triliun

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KAYONEWS.CO.ID – Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan fasilitas produksi baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Karawang, Jawa Barat, dalam waktu dekat. Pabrik yang dikelola PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) ini menjadi bagian dari upaya Indonesia memperkuat industri baterai dan hilirisasi mineral.

Rencana peresmian tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia di Istana Negara pada Senin (19/10/2026). Menurut Bahlil, pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik di Karawang merupakan hasil kerja sama perusahaan Indonesia dengan mitra asal China.

Proyek tersebut sebelumnya memulai pembangunan melalui peletakan batu pertama yang dilakukan Prabowo pada 29 Juni 2025. Meski seremoni peresmian masih direncanakan, fasilitas produksinya dilaporkan telah mulai beroperasi sejak Juli 2026.

Pabrik Baterai CATIB Sudah Beroperasi Sejak Juli 2026

PT CATIB merupakan perusahaan patungan antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dan CBL, anak usaha Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), produsen baterai asal China.

Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif sebelumnya menyampaikan bahwa fasilitas di Karawang tersebut telah menjalankan kegiatan produksi sejak Juli 2026. Produk yang dihasilkan mencakup baterai untuk kendaraan listrik serta sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS).

Keberadaan fasilitas ini menjadi bagian dari pengembangan rantai pasok baterai di dalam negeri. Selain mendukung industri kendaraan listrik, produksi BESS berpotensi menunjang kebutuhan penyimpanan energi untuk berbagai keperluan.

Pabrik tersebut berlokasi di kawasan industri Artha Industrial Hill (AIH) dan Karawang New Industry City (KNIC), Karawang, Jawa Barat, sebagaimana disebutkan dalam laporan mengenai proyek tersebut.

Kapasitas Awal 6,9 GWh, Ditargetkan Naik Menjadi 15 GWh

Pada tahap awal, pabrik CATIB dibangun dengan kapasitas produksi 6,9 gigawatt-jam (GWh). Kapasitas itu direncanakan meningkat hingga sedikitnya 15 GWh melalui pengembangan lanjutan.

Menurut keterangan IBC yang dikutip dalam laporan CNBC Indonesia, kapasitas 15 GWh diperkirakan dapat mendukung kebutuhan baterai untuk sekitar 250.000 kendaraan listrik. Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan kapasitas yang direncanakan, bukan jumlah kendaraan yang sudah diproduksi atau menggunakan baterai dari fasilitas itu.

Pengembangan hingga kapasitas tersebut diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$1,2 miliar atau setara Rp21,19 triliun, berdasarkan asumsi kurs Rp17.662 per dolar AS yang digunakan dalam laporan sumber.

Baca Juga :  Nothing Phone 4a Pro Resmi Rilis, Pakai Snapdragon 7 Gen 4 dan Layar 144Hz

Investasi tersebut mencakup pengembangan fasilitas untuk mendukung produksi baterai. Besarnya kapasitas dan nilai investasi membuat proyek CATIB menjadi salah satu bagian penting dari upaya membangun industri baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Proses Produksi Baterai Terintegrasi

Fasilitas CATIB dirancang dengan alur produksi yang mencakup pembuatan sel baterai atau battery cell hingga pengemasan menjadi paket baterai atau battery pack.

Dalam penjelasan IBC, area produksi sel baterai disebut membentang sekitar satu kilometer dari ujung ke ujung. Material yang masuk diproses terlebih dahulu menjadi sel, kemudian dilanjutkan ke tahap pengemasan di fasilitas terkait.

Model produksi tersebut memungkinkan beberapa tahapan penting dilakukan dalam satu kawasan industri. Meski demikian, rincian mengenai jenis kimia baterai, pembagian produksi berdasarkan tipe kendaraan, dan tingkat penggunaan kapasitas pabrik perlu merujuk pada keterangan teknis resmi perusahaan.

IBC Latih 600 Pegawai di China

Untuk mendukung operasional pabrik, IBC menjalankan program transfer pengetahuan atau knowledge transfer. Dalam program tersebut, sebanyak 600 pegawai dikirim mengikuti pelatihan di China.

Pelatihan ini menjadi bagian dari persiapan sumber daya manusia untuk mendukung proses produksi dan penguasaan teknologi. Ketersediaan tenaga kerja terampil menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan industri baterai, terutama ketika fasilitas produksi menggunakan teknologi yang memerlukan keahlian khusus.

Selain pengembangan sumber daya manusia, IBC juga merencanakan pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 18 megawatt-peak (MWp) pada 2027.

Rencana tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan energi operasional pabrik. Namun, realisasi pemasangan dan kontribusi PLTS terhadap total konsumsi listrik fasilitas masih menunggu perkembangan proyek.

Proyek Material Baterai di Halmahera

Pengembangan ekosistem baterai Indonesia tidak hanya berlangsung di Karawang. IBC bersama CATL juga mengembangkan proyek material baterai di Halmahera dengan nilai investasi yang dilaporkan mencapai US$600 juta atau sekitar Rp10,59 triliun.

Proyek tersebut melengkapi pengembangan fasilitas produksi baterai di Jawa Barat. Secara umum, pembangunan rantai pasok dari material hingga produk baterai menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri.

Indonesia memiliki sumber daya nikel yang menjadi bahan penting bagi sejumlah jenis baterai kendaraan listrik. Pengembangan industri hilir diharapkan dapat memperluas aktivitas manufaktur, menciptakan kebutuhan tenaga kerja terampil, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Baca Juga :  Simulasi Biaya Polytron Fox 350: Sewa Baterai vs Beli Putus, Pilih yang Mana?

Namun, dampak ekonomi jangka panjang tetap bergantung pada realisasi investasi, kemampuan bersaing, permintaan pasar, serta pengelolaan lingkungan dan energi.

Pabrik Baterai Kedua Setelah Fasilitas Hyundai-LG

Pabrik CATIB di Karawang disebut menjadi fasilitas baterai kendaraan listrik kedua yang beroperasi di Indonesia setelah PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power. Fasilitas HLI Green Power diresmikan pada Juli 2024.

Kehadiran lebih dari satu fasilitas produksi dapat memperkuat kapasitas manufaktur baterai nasional. Meski begitu, perbandingan kapasitas, jenis produk, tingkat produksi aktual, dan kontribusi masing-masing fasilitas perlu dilakukan berdasarkan data yang sebanding.

Dengan rencana peresmian oleh Prabowo, proyek CATIB kembali menjadi sorotan dalam agenda hilirisasi industri. Tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan kapasitas berjalan sesuai rencana, sumber daya manusia terus berkembang, dan hasil investasi memberikan manfaat nyata bagi industri nasional.

FAQ Pabrik Baterai EV Karawang

1. Siapa yang mengelola pabrik baterai EV di Karawang?

Pabrik tersebut dikelola PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), perusahaan patungan antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dan CBL, anak usaha CATL.

2. Apakah pabrik baterai CATIB sudah beroperasi?

Menurut keterangan IBC yang dikutip dalam laporan sumber, fasilitas tersebut mulai beroperasi pada Juli 2026.

3. Berapa kapasitas produksi pabrik baterai Karawang?

Kapasitas tahap awal dilaporkan mencapai 6,9 GWh, dengan rencana ekspansi hingga sedikitnya 15 GWh.

4. Berapa nilai investasi proyek tersebut?

Pengembangan fasilitas hingga kapasitas 15 GWh diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$1,2 miliar atau Rp21,19 triliun berdasarkan asumsi kurs dalam laporan sumber.

5. Apa produk yang dihasilkan pabrik CATIB?

Pabrik tersebut dilaporkan memproduksi baterai untuk kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi atau BESS.

6. Apa manfaat proyek ini bagi Indonesia?

Proyek ini berpotensi memperkuat industri manufaktur baterai, mendorong transfer teknologi, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan menambah nilai ekonomi dari pengembangan rantai pasok mineral di dalam negeri. Besarnya manfaat aktual akan bergantung pada realisasi dan perkembangan operasional proyek.

Berita Terkait

POCO X8s Punya Baterai 6.330 mAh dan Kamera 50 MP, Kapan Masuk Indonesia?
5 Alasan Mac mini Lebih Menarik daripada MacBook, Harga Mulai Rp16 Jutaan
Tablet untuk Editing Foto Profesional, Ini 5 Pilihan pada 2026
Vivo V80 Lite 5G Tahan Banting, Baterai 10.000 mAh dan Garansi 7 Tahun
ASUS ProArt P14 dan P16 Resmi Hadir di Indonesia, Laptop AI Lokal Dibanderol hingga Rp113 Juta
Pemerintah Siapkan Aturan Data Center, Investor Asing Diminta Gandeng Pengusaha Lokal
Elon Musk Siapkan Saham SpaceX untuk Anak-Anak Amerika, Ini Rencananya
Gaji PNS Tetap Ditransfer ke Rekening, Ini Penjelasan Menkeu Suahasil
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:00 WIB

Prabowo Segera Resmikan Pabrik Baterai EV, Investasi Tembus Rp21 Triliun

Kamis, 22 Oktober 2026 - 19:00 WIB

POCO X8s Punya Baterai 6.330 mAh dan Kamera 50 MP, Kapan Masuk Indonesia?

Kamis, 22 Oktober 2026 - 18:00 WIB

5 Alasan Mac mini Lebih Menarik daripada MacBook, Harga Mulai Rp16 Jutaan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Tablet untuk Editing Foto Profesional, Ini 5 Pilihan pada 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:00 WIB

Vivo V80 Lite 5G Tahan Banting, Baterai 10.000 mAh dan Garansi 7 Tahun

Berita Terbaru