Jakarta-Harga Bitcoin menghadapi tekanan di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Investor kini menantikan laporan inflasi AS yang dijadwalkan rilis pada 14 Oktober 2026. Kedua faktor tersebut berpotensi menentukan arah pergerakan pasar kripto dalam waktu dekat.
Berdasarkan analisis pasar Bitunix yang dikutip BeInCrypto pada Senin (12/10/2026), imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun menembus 5,35%. Pada saat yang sama, harga Bitcoin turun di bawah US$82.000. Tekanan jual juga menyebar ke sejumlah aset kripto lainnya.
Kenaikan imbal hasil obligasi membuat aset pemerintah AS semakin menarik bagi investor. Instrumen tersebut menawarkan pembayaran bunga dengan risiko kredit yang relatif rendah. Sebaliknya, Bitcoin tidak memberikan bunga tetap dan memiliki volatilitas harga yang tinggi. Kondisi ini dapat mendorong sebagian investor mengalihkan modal dari kripto ke obligasi.
Tekanan tersebut juga berpotensi memengaruhi pasar saham, terutama sektor teknologi dan perusahaan yang berkaitan dengan aset digital. Biaya pinjaman yang meningkat dapat mengurangi minat investor terhadap aset berisiko. Karena itu, arah pergerakan imbal hasil Treasury menjadi salah satu indikator penting bagi pelaku pasar kripto.
Sepanjang 3–9 Oktober 2026, sejumlah aset kripto mencatatkan penurunan. Bitcoin melemah 3,80%, Ethereum turun 8,39%, sedangkan XRP terkoreksi 7,09%. Dari 300 aset kripto teratas yang dipantau Bitunix, hanya sekitar 20% yang berhasil mencatatkan kenaikan. Median imbal hasil mingguan tercatat minus 5,18%.
Tekanan juga melanda sektor keuangan terdesentralisasi atau decentralized finance (DeFi). Token UNI milik Uniswap turun 18,37%, sementara CAKE dari PancakeSwap melemah 15,92%. Namun, tidak semua aset mengalami penurunan. Token SAND dari The Sandbox justru melonjak 57,71%, meskipun Bitunix tidak menemukan bukti peningkatan fundamental proyek yang menjelaskan reli tersebut.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk September 2026, yang menurut laporan tersebut dijadwalkan rilis pada 14 Oktober. Bitunix memperkirakan inflasi tahunan mencapai 3,6%, naik dari 3,4% pada periode sebelumnya. Jika inflasi melampaui ekspektasi, imbal hasil obligasi berpotensi kembali naik dan menambah tekanan terhadap Bitcoin.
Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat meredakan tekanan pada pasar obligasi dan memperbaiki sentimen investor terhadap aset berisiko. Meski demikian, arah harga Bitcoin tetap bergantung pada berbagai faktor, termasuk kebijakan Federal Reserve, arus modal, dan kondisi likuiditas global. Investor perlu mencermati volatilitas pasar serta mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan transaksi. (*)
Editor : Fanda Yosephta









