Jakarta-Investasi Bitcoin atau BTC semakin menarik perhatian masyarakat seiring perkembangan pasar aset kripto. Banyak investor ingin mengetahui berapa keuntungan yang bisa diperoleh dari investasi Bitcoin. Namun, menghitung potensi keuntungan tidak cukup hanya melihat kenaikan harga BTC.
Investor perlu memahami harga pembelian, jumlah Bitcoin yang diperoleh, harga penjualan, serta biaya transaksi. Perhitungan tersebut membantu investor mengetahui keuntungan bersih sebelum memutuskan menjual aset kripto.
Cara menghitung keuntungan investasi Bitcoin sebenarnya cukup sederhana. Investor dapat menggunakan rumus selisih antara nilai penjualan dan modal pembelian. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan modal awal untuk mengetahui persentase keuntungan atau Return on Investment (ROI).
Sebagai contoh, seseorang membeli Bitcoin dengan modal Rp1 juta ketika harga BTC berada di level Rp1,5 miliar per keping. Jika harga Bitcoin kemudian meningkat menjadi Rp1,8 miliar, nilai investasinya bertambah menjadi sekitar Rp1,2 juta. Artinya, investor memperoleh keuntungan kotor Rp200.000 atau sekitar 20 persen.
Perhitungan tersebut berlaku dengan asumsi tidak ada biaya transaksi dan potongan lainnya. Dalam praktiknya, keuntungan bersih bisa lebih kecil karena platform perdagangan mengenakan biaya pembelian dan penjualan. Karena itu, investor perlu memperhitungkan seluruh biaya sebelum mengambil keputusan.
Lantas, bagaimana jika seseorang menginvestasikan modal Rp5 juta, Rp10 juta, hingga Rp50 juta? Dengan asumsi harga Bitcoin naik 20 persen, modal Rp5 juta berpotensi menghasilkan keuntungan kotor Rp1 juta. Sementara itu, investasi Rp10 juta berpotensi menghasilkan Rp2 juta. Modal Rp50 juta berpotensi menghasilkan keuntungan Rp10 juta.
Meski demikian, kenaikan harga Bitcoin tidak selalu terjadi. Harga BTC dapat bergerak sangat fluktuatif dalam waktu singkat. Jika harga turun 20 persen, investasi Rp10 juta juga berpotensi mengalami kerugian sekitar Rp2 juta sebelum biaya transaksi. Kondisi ini menunjukkan pentingnya memahami risiko sebelum membeli aset kripto.
Investor pemula dapat mempertimbangkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA), yaitu membeli Bitcoin secara berkala dengan nominal yang telah ditentukan. Strategi ini membantu investor mengurangi ketergantungan pada satu harga pembelian. Namun, DCA tidak menjamin keuntungan dan tetap memiliki risiko kerugian ketika harga Bitcoin melemah.
Pada akhirnya, menghitung keuntungan investasi Bitcoin harus mempertimbangkan modal, harga beli, harga jual, biaya transaksi, dan pajak yang berlaku. Investor sebaiknya tidak hanya mengejar keuntungan besar, tetapi juga menyiapkan strategi pengelolaan risiko. Dengan perhitungan yang tepat, keputusan investasi BTC dapat dilakukan secara lebih terukur.
Simulasi keuntungan Bitcoin dari berbagai modal
Asumsi kenaikan harga BTC sebesar 20 persen:
| Modal awal | Nilai akhir | Profit kotor |
| ———- | ———– | ———— |
| Rp1 juta | Rp1,2 juta | Rp200 ribu |
| Rp5 juta | Rp6 juta | Rp1 juta |
| Rp10 juta | Rp12 juta | Rp2 juta |
| Rp25 juta | Rp30 juta | Rp5 juta |
| Rp50 juta | Rp60 juta | Rp10 juta |
Cara menghitung ROI Bitcoin
Investor dapat menggunakan rumus berikut:
ROI=\\frac{Harga\\ Jual-Harga\\ Beli}{Harga\\ Beli}\\times100\\%
Contohnya, harga BTC naik dari Rp1,5 miliar menjadi Rp1,8 miliar.
Hasilnya adalah ROI sebesar 20 persen.
Pajak investasi Bitcoin di Indonesia
Investor juga perlu memperhatikan ketentuan pajak transaksi kripto.
Berdasarkan PMK Nomor 50 Tahun 2025 yang berlaku sejak 1 Agustus 2025, transaksi penjualan aset kripto dikenai PPh Pasal 22 final.
Platform perdagangan dalam negeri: 0,21 persen dari nilai transaksi.
Platform luar negeri: 1 persen dari nilai transaksi sesuai ketentuan pemungutan pajak.
Ketentuan tersebut perlu diperhatikan ketika menghitung keuntungan bersih investasi Bitcoin. JDIH Kementerian Keuangan +2
FAQ: Pertanyaan seputar keuntungan investasi Bitcoin
1. Bagaimana cara menghitung keuntungan investasi Bitcoin?
Kurangi nilai penjualan Bitcoin dengan modal pembelian. Setelah itu, kurangi biaya transaksi dan pajak yang berlaku untuk mendapatkan estimasi keuntungan bersih.
2. Modal Rp1 juta investasi Bitcoin bisa untung berapa?
Jika harga BTC naik 10 persen, keuntungan kotor mencapai Rp100.000. Jika naik 50 persen, keuntungan kotor mencapai Rp500.000.
3. Apakah membeli Bitcoin Rp100 ribu bisa menghasilkan keuntungan?
Bisa. Investor dapat membeli pecahan Bitcoin sesuai nominal yang tersedia di platform perdagangan.
4. Berapa keuntungan investasi Bitcoin jika naik 100 persen?
Jika modal awal Rp10 juta, kenaikan 100 persen menghasilkan keuntungan kotor Rp10 juta. Total nilai investasi menjadi Rp20 juta.
5. Apakah harga Bitcoin bisa turun dan menyebabkan kerugian?
Bisa. Bitcoin memiliki volatilitas tinggi. Penurunan harga dapat membuat nilai investasi berkurang, bahkan menyebabkan kerugian besar.
6. Apa itu ROI dalam investasi Bitcoin?
ROI atau Return on Investment merupakan persentase keuntungan atau kerugian dibandingkan modal awal.
7. Kapan waktu terbaik membeli Bitcoin?
Tidak ada waktu yang selalu tepat. Investor perlu mempertimbangkan kondisi pasar, tujuan investasi, toleransi risiko, dan kemampuan keuangan.
8. Apa strategi investasi Bitcoin untuk pemula?
Pemula dapat mempelajari strategi DCA, mengatur modal secara bertahap, dan menghindari penggunaan uang kebutuhan sehari-hari.
9. Apakah keuntungan Bitcoin langsung masuk ke rekening?
Tidak. Investor biasanya perlu menjual BTC terlebih dahulu melalui platform perdagangan, kemudian melakukan penarikan rupiah ke rekening bank.
10. Apakah investasi Bitcoin cocok untuk jangka panjang?
Bitcoin dapat dipertimbangkan sebagai aset berisiko tinggi untuk strategi jangka panjang. Namun, tidak ada jaminan harga akan selalu meningkat. (*)
Editor : FANDA YOSEPHTA








