BYD Flash Charging Bisa 1.500 kW, Apa Bedanya dengan Fast Charging?

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 27 September 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OTOMOTIF – Teknologi pengisian daya menjadi salah satu fokus utama dalam perkembangan mobil listrik. Produsen kendaraan listrik berlomba menghadirkan sistem yang mampu memangkas waktu pengisian baterai, termasuk BYD melalui teknologi Flash Charging.

Teknologi tersebut dikembangkan bersama Blade Battery generasi kedua dan menawarkan kemampuan pengisian dengan output infrastruktur hingga 1.500 kW.

Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan fast charging yang umum digunakan pada mobil listrik. Namun, Flash Charging sebenarnya bukan sekadar fast charging dengan angka daya yang lebih besar.

Apa Itu Fast Charging?

Secara umum, fast charging merupakan metode pengisian baterai mobil listrik menggunakan arus searah atau DC dengan daya lebih tinggi dibandingkan pengisian AC biasa.

Besarnya daya fast charging berbeda-beda, tergantung kemampuan charger dan kendaraan. Mobil dengan batas penerimaan daya tertentu tidak otomatis dapat menerima daya lebih besar hanya karena menggunakan charger dengan kapasitas tinggi.

Misalnya, sebuah mobil hanya mampu menerima daya maksimal 100 kW. Ketika kendaraan tersebut disambungkan ke charger berkapasitas 1.500 kW, daya yang masuk tetap dibatasi oleh kemampuan sistem mobil.

Karena itu, kemampuan charger dan kemampuan baterai harus sama-sama diperhatikan.

BYD Flash Charging Bisa Sampai 1.500 kW

BYD mengembangkan Flash Charging sebagai ekosistem pengisian berdaya sangat tinggi.

Infrastruktur tersebut memiliki kemampuan output hingga 1.500 kW melalui single connector. Sistemnya juga memiliki tegangan DC maksimum 1.000 volt serta kapasitas input hingga 2.100 kW untuk mendukung pengelolaan beban listrik.

Namun, angka 1.500 kW merupakan kemampuan maksimum infrastruktur, bukan berarti seluruh mobil yang terhubung akan selalu mendapatkan daya sebesar itu.

Daya aktual tetap dipengaruhi oleh kapasitas baterai, sistem kelistrikan kendaraan, kemampuan menerima daya dan kondisi pengisian.

Klaim Isi 10-70 Persen Hanya 5 Menit

Salah satu keunggulan yang ditawarkan BYD adalah waktu pengisian yang sangat singkat.

BYD mengklaim kendaraan yang kompatibel dengan Flash Charging dapat mengisi baterai dari 10 persen menjadi 70 persen dalam sekitar lima menit.

Sementara itu, pengisian hingga 97 persen disebut membutuhkan sekitar sembilan menit.

Teknologi tersebut juga dirancang untuk tetap bekerja pada kondisi suhu ekstrem. Dalam pengujian yang disebut BYD, pada suhu minus 30 derajat Celsius, pengisian dari 20 persen hingga 97 persen hanya membutuhkan tambahan waktu sekitar tiga menit dibandingkan kondisi suhu normal.

Baca Juga :  Mobil REEV Jadi Tren Baru 2026, Lebih Hemat BBM dan Cocok untuk Perjalanan Jauh

BYD juga mengklaim Flash Charging dapat menambah jarak tempuh hingga 400 kilometer dalam sekitar lima menit, tergantung kendaraan dan kondisi pengisian.

Flash Charging Dipadukan dengan Blade Battery Generasi Kedua

Teknologi pengisian berdaya tinggi tidak dapat dipisahkan dari kemampuan baterai.

BYD mengembangkan Flash Charging bersama Blade Battery generasi kedua. Baterai tersebut dikembangkan melalui penelitian selama enam tahun.

Menurut BYD, kepadatan energinya meningkat sekitar 5 persen dibandingkan generasi sebelumnya.

Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia, Eagle Zhao, mengatakan baterai generasi kedua tersebut juga menjalani berbagai pengujian keselamatan.

Salah satunya adalah under body impact test. Dalam pengujian tersebut, BYD menyebut baterai mampu menahan benturan hingga 1.500 joule pada bagian bawah kendaraan.

Sistem Pendingin Baterai Ikut Berperan

Pengisian dengan daya sangat tinggi menghasilkan panas yang perlu dikendalikan. Karena itu, sistem manajemen temperatur menjadi bagian penting dari Flash Charging.

BYD menggunakan Lithium-Ion High-Speed Channel dan Full-Spectrum Intelligent Thermal Management System.

Sistem tersebut dirancang untuk membantu mengurangi panas di dalam baterai sekaligus mempercepat pelepasan panas selama proses pengisian.

Pengelolaan temperatur menjadi faktor penting karena kemampuan mengisi baterai dengan daya tinggi harus tetap diimbangi dengan pengendalian suhu.

Flash Charging Menggunakan Dual-Gun

Salah satu perbedaan lain terletak pada desain infrastrukturnya.

Flash Charging menggunakan konfigurasi dual-gun berbentuk huruf T, kabel dengan sistem pendingin cair serta distribusi daya secara cerdas.

BYD juga menggabungkan stasiun pengisian dengan sistem penyimpanan energi berkapasitas besar.

Langkah tersebut ditujukan untuk membantu mengurangi beban terhadap jaringan listrik lokal ketika stasiun membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar.

Dengan demikian, Flash Charging bukan hanya soal membuat charger memiliki output besar. Infrastruktur listrik, sistem penyimpanan energi, kabel, manajemen daya dan kemampuan baterai juga menjadi bagian dari ekosistemnya.

BYD Targetkan 20.000 Stasiun Flash Charging

Untuk memperluas teknologi tersebut, BYD berencana membangun sekitar 20.000 Flash Charging Stations di China hingga akhir 2026.

Setelah itu, perusahaan menargetkan ekspansi jaringan pengisian tersebut ke berbagai negara.

Jika infrastruktur dan kendaraan yang kompatibel tersedia secara luas, teknologi seperti Flash Charging berpotensi mengubah pola pengisian mobil listrik yang selama ini identik dengan waktu tunggu lebih lama dibandingkan mengisi bahan bakar.

Baca Juga :  Mulai Juni 2026, WhatsApp Tidak Bisa Dipakai di iPhone dan Android Ini

Namun, penerapannya tetap bergantung pada kompatibilitas kendaraan, kapasitas baterai dan kesiapan jaringan listrik.

Perbedaan Flash Charging dan Fast Charging

Aspek Fast Charging BYD Flash Charging
Sistem Pengisian cepat DC Ekosistem pengisian berdaya sangat tinggi
Daya Bervariasi Hingga 1.500 kW
Tegangan Bergantung sistem Hingga 1.000V DC
Teknologi baterai Bergantung kendaraan Dikembangkan bersama Blade Battery generasi kedua
Manajemen panas Bergantung kendaraan/charger Sistem thermal management khusus
Kabel Bergantung charger Menggunakan kabel liquid-cooled
Distribusi daya Bergantung infrastruktur Sistem distribusi daya cerdas
Penyimpanan energi Tidak selalu tersedia Dipadukan dengan penyimpanan energi berkapasitas besar

Jadi, Apakah Flash Charging Sama dengan Fast Charging?

Tidak persis sama.

Fast charging merupakan istilah umum untuk pengisian DC berdaya lebih tinggi dibandingkan pengisian AC standar. Sementara Flash Charging merupakan sistem pengisian berdaya sangat tinggi yang dikembangkan BYD bersama teknologi baterai dan infrastruktur pendukungnya.

Hal terpenting adalah charger 1.500 kW tidak berarti semua mobil akan menerima daya 1.500 kW. Kemampuan aktual tetap ditentukan oleh sistem kendaraan dan baterainya.


FAQ

1. Apa itu BYD Flash Charging?

Flash Charging merupakan teknologi pengisian berdaya sangat tinggi yang dikembangkan BYD dan dirancang bekerja bersama Blade Battery generasi kedua serta infrastruktur pendukung khusus.

2. Berapa daya maksimum Flash Charging?

BYD menyebut infrastruktur Flash Charging mampu menghasilkan output hingga 1.500 kW.

3. Berapa lama mengisi mobil dengan Flash Charging?

BYD mengklaim pengisian dari 10 persen hingga 70 persen dapat dilakukan sekitar lima menit, sedangkan hingga 97 persen sekitar sembilan menit pada kondisi pengujian tertentu.

4. Apakah semua mobil listrik bisa menggunakan charger 1.500 kW?

Tidak. Daya yang diterima kendaraan tetap dibatasi oleh kemampuan baterai, sistem kelistrikan dan spesifikasi kendaraan.

5. Apa fungsi Blade Battery generasi kedua?

Baterai tersebut dikembangkan untuk mendukung kemampuan pengisian berdaya tinggi sekaligus meningkatkan kepadatan energi dan aspek pengelolaan temperatur.

6. Apakah Flash Charging sudah tersedia di Indonesia?

Pengembangan dan ekspansi infrastrukturnya dilakukan secara bertahap. Ketersediaan untuk kendaraan tertentu bergantung pada kompatibilitas kendaraan dan infrastruktur yang tersedia.

Berita Terkait

Logitech G Pro X2 Rapid dan G Pro X Control Hadir untuk Gamer Kompetitif
Perbedaan Redmi Note 17 Series: Pro Max, Pro 5G, 17 5G dan 4G
Pengganti Freon Mulai Dikembangkan, Teknologi Garam Bisa Ubah AC dan Kulkas
Wuling Darion EV vs Darion PHEV, Dua MPV 7-Seater untuk Keluarga Modern
Duel Flagship 2nm, Ini Perbedaan OPPO Find X10 Pro Max dan Xiaomi 18 Pro Max
Infinix Xbook 14 Neo Resmi di Indonesia, Harga Mulai Rp7 Jutaan
Punya Kekayaan Rp4.518 Triliun, Mark Zuckerberg Tetap Gunakan Galaxy S24 Ultra
Huawei MatePad Air Z Standar dan Enjoy Edition, Ini Perbedaan Spesifikasi dan Harganya
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 16:00 WIB

BYD Flash Charging Bisa 1.500 kW, Apa Bedanya dengan Fast Charging?

Minggu, 27 September 2026 - 15:00 WIB

Logitech G Pro X2 Rapid dan G Pro X Control Hadir untuk Gamer Kompetitif

Sabtu, 26 September 2026 - 22:00 WIB

Perbedaan Redmi Note 17 Series: Pro Max, Pro 5G, 17 5G dan 4G

Sabtu, 26 September 2026 - 20:00 WIB

Pengganti Freon Mulai Dikembangkan, Teknologi Garam Bisa Ubah AC dan Kulkas

Sabtu, 26 September 2026 - 18:09 WIB

Wuling Darion EV vs Darion PHEV, Dua MPV 7-Seater untuk Keluarga Modern

Berita Terbaru