NEWYORK — Sejarah baru terukir di kancah politik Amerika Serikat. Zohran Mamdani, politisi muda berusia 34 tahun, resmi terpilih sebagai Wali Kota New York City, menjadikannya Muslim pertama, keturunan Asia Selatan pertama, dan wali kota termuda dalam lebih dari satu abad terakhir yang memimpin kota metropolitan terbesar di AS itu.
Mamdani memenangkan pemilihan pada 4 November 2025, mengalahkan mantan Gubernur New York Andrew Cuomo dan kandidat Partai Republik Curtis Sliwa. Ia akan dilantik pada 1 Januari 2026 menggantikan Eric Adams.
Kemenangannya menandai pergeseran signifikan dalam lanskap politik New York, sekaligus menjadi dorongan bagi sayap progresif Partai Demokrat yang mendukung kebijakan ekonomi dan sosial yang lebih berkeadilan.
Dari Uganda ke Balai Kota New York
Zohran Kwame Mamdani lahir di Kampala, Uganda, pada 18 Oktober 1991 dari pasangan akademisi ternama — Mahmood Mamdani, seorang intelektual Muslim Syiah asal Gujarat, dan Mira Nair, pembuat film asal India.
Masa kecilnya diwarnai perpindahan antarnegara — dari Uganda, India, hingga akhirnya menetap di New York City sejak usia tujuh tahun. Ia resmi menjadi warga negara Amerika pada 2018.
Mamdani merupakan lulusan Bronx High School of Science dan meraih gelar sarjana studi Africana dari Bowdoin College, Maine, tahun 2014. Pada 2025, ia menikah dengan Rama Duwaji, seniman Suriah-Amerika.
Dari Aktivis Akar Rumput ke Kursi Wali Kota
Sebelum terjun ke politik, Mamdani pernah bekerja sebagai konselor perumahan dan musisi hip-hop.
Karier politiknya dimulai ketika ia terpilih sebagai anggota Majelis Negara Bagian New York pada 2020, mewakili distrik ke-36 (Astoria dan Long Island City, Queens). Ia berhasil menumbangkan petahana lima periode dari Partai Demokrat.
Setelah terpilih kembali tanpa lawan pada 2022 dan 2024, ia mengumumkan pencalonan sebagai Wali Kota New York pada Oktober 2024. Kampanyenya, yang didorong gerakan akar rumput dan dukungan komunitas minoritas, menjadi fenomena politik baru di kota itu.
Visi Progresif untuk Kota New York
Mamdani dikenal sebagai sosialis demokratis yang bergabung dengan Democratic Socialists of America (DSA) sejak 2017.
Ia mengusung program ambisius: transportasi bus gratis, penitipan anak publik, toko kelontong milik kota, dan kenaikan upah minimum hingga USD 30 pada 2030.
Untuk mendukung pembiayaan program, ia mendorong kenaikan pajak bagi korporasi dan individu berpenghasilan tinggi.
Selain itu, Mamdani vokal membela hak-hak Palestina dan menentang kebijakan Israel di Gaza, menyerukan pembentukan negara dengan hak setara bagi semua warga.
Kemenangan Akar Rumput dan Tantangan Baru
Kemenangan Mamdani disebut sebagai hasil dari kampanye akar rumput yang kuat dan strategi media sosial yang efektif, terutama di kalangan pemilih muda dan imigran.
Dalam pidato kemenangannya di Brooklyn, Mamdani menegaskan tekadnya untuk melawan politik perpecahan dan membangun New York yang inklusif dan terjangkau bagi semua.
“New York tidak akan lagi menjadi tempat di mana Islamofobia bisa diperdagangkan demi kemenangan politik,” ujarnya tegas.
Dengan latar belakang yang beragam dan visi progresif, Mamdani dipandang sebagai simbol generasi baru kepemimpinan Demokrat, sekaligus penantang potensial terhadap arus konservatif nasional menjelang pemilihan presiden mendatang.(***)









