JAKARTA-Ketegangan geopolitik kembali menyita perhatian pasar energi global setelah muncul kabar penutupan sementara Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu dikenal sebagai nadi utama distribusi minyak mentah dunia. Meski pembatasan dilaporkan berlangsung singkat, sentimen pasar langsung bereaksi, memicu volatilitas harga minyak internasional.
Selat Hormuz memiliki peran krusial karena menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak global serta sebagian besar ekspor LNG dari kawasan Timur Tengah. Gangguan kecil sekalipun dapat memicu kenaikan risk premium, yaitu tambahan harga akibat meningkatnya persepsi risiko. Investor dan pelaku industri energi cenderung merespons cepat setiap perkembangan yang berpotensi menghambat arus pasokan.
Dalam sejumlah peristiwa serupa sebelumnya, harga minyak biasanya mengalami lonjakan jangka pendek. Untuk penutupan singkat, kenaikan cenderung terbatas dan bersifat sementara. Namun jika gangguan berlanjut hingga mingguan atau bulanan, dampaknya bisa meluas ke biaya logistik, premi asuransi kapal tanker, hingga tekanan inflasi global.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi perhatian serius. Posisi Indonesia sebagai net importir minyak membuat perekonomian domestik sensitif terhadap fluktuasi harga energi dunia. Kenaikan harga minyak mentah otomatis meningkatkan biaya impor BBM dan bahan bakar industri, yang pada akhirnya dapat menekan stabilitas harga dalam negeri.
Dampak paling nyata berpotensi terasa pada sektor energi dan fiskal. Jika harga minyak global melonjak signifikan, beban subsidi serta kompensasi energi dalam APBN bisa meningkat. Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit antara menjaga harga BBM tetap stabil atau melakukan penyesuaian untuk menahan tekanan anggaran negara.
Efek lanjutan juga dapat menjalar ke inflasi. Harga energi berkontribusi langsung terhadap biaya transportasi dan distribusi barang. Kenaikan biaya logistik berisiko mendorong harga kebutuhan pokok. Kondisi ini menjadi tantangan tambahan bagi upaya menjaga daya beli masyarakat dan kestabilan ekonomi makro.
Nilai tukar rupiah turut menjadi variabel yang perlu dicermati. Lonjakan harga minyak meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi, yang berpotensi menambah tekanan terhadap mata uang domestik. Pelemahan rupiah dapat memperbesar dampak kenaikan harga energi melalui kenaikan harga barang impor lainnya.
Meski demikian, analis menilai dampak ekstrem masih dapat dihindari jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung singkat dan jalur pelayaran cepat kembali normal. Cadangan devisa, kebijakan energi nasional, serta diversifikasi sumber impor menjadi bantalan penting bagi Indonesia dalam meredam gejolak jangka pendek.
Situasi ini menegaskan kembali pentingnya stabilitas jalur perdagangan energi global. Selat Hormuz bukan sekadar koridor laut, tetapi titik strategis yang memengaruhi harga minyak, inflasi, hingga arah kebijakan ekonomi di banyak negara. Pasar kini menanti perkembangan lanjutan sembari menjaga kewaspadaan terhadap potensi eskalasi baru. (***)








