Gangguan Perbankan Meluas di Sejumlah Negara, Jepang hingga Prancis Jadi Sorotan

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 9 November 2026 - 04:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

EKONOMI – Sejumlah negara menghadapi gangguan keamanan dan operasional pada sektor perbankan. Insiden yang terjadi di Jepang, Malaysia, hingga Prancis tersebut memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi layanan keuangan digital, mulai dari kegagalan infrastruktur jaringan sampai serangan siber.

Di Jepang, gangguan komunikasi pada sistem perbankan menyebabkan layanan 128 bank kredit atau shinkin bank di wilayah barat Tokai tidak dapat beroperasi normal. Nasabah terdampak tidak bisa melakukan sejumlah transaksi, termasuk penarikan uang tunai, penyetoran, dan transfer melalui layanan digital.

Sementara di Malaysia, situs web Bank Rakyat dilaporkan menjadi sasaran peretasan. Pemerintah setempat menyatakan insiden tersebut sejauh ini tidak menyebabkan pencurian data maupun gangguan pada sistem perbankan daring.

Adapun di Prancis, sebuah lembaga perbankan yang terkait dengan Credit Mutuel Arkea dilaporkan mengalami serangan siber dengan kerugian lebih dari 100 juta euro. Sebagian dana disebut telah berhasil dipulihkan, sedangkan penyelidikan masih berlangsung.

Rangkaian peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa ketahanan sistem teknologi informasi merupakan faktor penting bagi keberlangsungan layanan perbankan.

Gangguan komunikasi lumpuhkan layanan 128 bank di Jepang

Gangguan paling luas dari sisi jumlah lembaga terdampak terjadi di Jepang. Sebanyak 128 bank kredit atau shinkin bank di kawasan barat Tokai mengalami kendala layanan akibat masalah komunikasi pada infrastruktur perbankan.

Shinkin Central Bank, lembaga yang mengoperasikan sistem inti bagi bank-bank tersebut, menyebut gangguan mulai terjadi sekitar pukul 13.30 waktu setempat pada 6 November 2025, sebagaimana diberitakan media India CNBCTV18.

Dampaknya dirasakan pada berbagai layanan transaksi. Nasabah tidak dapat melakukan penarikan maupun transfer melalui ATM. Aktivitas penyetoran dan penarikan di kantor cabang juga terganggu.

Secara keseluruhan, layanan pada sekitar 3.430 lokasi kantor cabang terdampak. Internet banking turut dihentikan sementara selama proses penanganan gangguan.

Pihak Shinkin Central Bank menjelaskan, masalah berasal dari kegagalan komunikasi pada peralatan di West Japan Centre, fasilitas yang mengawasi jaringan perbankan di wilayah tersebut.

Meski demikian, penyebab teknis tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya serangan peretas. Pihak bank menyatakan belum menemukan indikasi akses tanpa izin dan untuk sementara tidak mengaitkan gangguan dengan serangan siber.

Waktu pemulihan layanan belum dapat dipastikan dalam laporan tersebut.

Situs Bank Rakyat Malaysia menjadi sasaran peretasan

Insiden berbeda terjadi di Malaysia. Situs web Bank Rakyat dilaporkan mengalami peretasan yang menyebabkan tampilan halaman berubah.

Baca Juga :  Ancaman AI Canggih Bikin Bank Waspada, Layanan ATM dan M-Banking Bisa Dihentikan

Menteri Komunikasi sekaligus juru bicara pemerintah Madani, Datuk Seri Fahmi Fadzil, menyampaikan bahwa sejumlah upaya serangan siber telah teridentifikasi. Namun, berdasarkan keterangan pemerintah, belum ditemukan bukti pencurian data maupun gangguan terhadap operasional sistem perbankan daring.

Fahmi menjelaskan, peretasan terhadap situs Bank Rakyat hanya berdampak pada perubahan tampilan situs. Serangan tersebut juga disebut menyasar situs yang dikelola pihak ketiga.

Sebagai langkah penanganan, Bank Rakyat memblokir akses menuju server yang terdampak. Pengguna kemudian dialihkan ke i-Rakyat, layanan yang berada di bawah pengelolaan langsung bank tersebut.

Pernyataan pemerintah Malaysia ini menunjukkan pentingnya membedakan gangguan pada situs informasi dengan gangguan pada sistem transaksi perbankan. Keduanya memiliki dampak dan tingkat risiko yang tidak selalu sama.

Peretasan tampilan situs atau defacement, misalnya, tidak otomatis berarti sistem rekening, saldo, maupun data nasabah ikut dikuasai peretas. Namun, insiden tetap perlu ditangani karena dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi palsu atau mengarahkan pengunjung ke halaman berbahaya.

Serangan siber di Prancis sebabkan kerugian lebih dari 100 juta euro

Di Eropa, serangan siber terhadap sistem Credit Mutuel Arkea dilaporkan menimbulkan kerugian lebih dari 100 juta euro.

Mengutip laporan Arab News, seorang pejabat senior menyebut pelaku berhasil mengakses sistem perbankan dan memindahkan dana ke rekening lain. Insiden tersebut terungkap pada Rabu, sementara penyelidikan telah melibatkan unit khusus pemberantasan kejahatan siber di Prancis.

Daniel Baal, Presiden Confederation Nationale du Credit Mutuel (CNCM), lembaga yang mengawasi berbagai unit usaha Credit Mutuel, mengatakan serangan siber merupakan ancaman yang terus dihadapi industri keuangan.

Meski nilai kerugian yang dilaporkan cukup besar, dana milik nasabah disebut tidak terdampak dalam insiden tersebut. Pihak terkait juga dilaporkan berhasil memulihkan sebagian dana yang dipindahkan.

Namun, belum seluruh rincian mengenai metode serangan, jumlah dana yang berhasil dikembalikan, maupun identitas pelaku diungkapkan dalam laporan tersebut.

Kasus ini memperlihatkan bahwa serangan siber terhadap lembaga keuangan tidak selalu terbatas pada pencurian informasi. Peretas juga dapat menargetkan sistem internal yang memiliki akses terhadap proses pemindahan dana.

Ketahanan digital menjadi tantangan industri perbankan

Gangguan di Jepang, Malaysia, dan Prancis memiliki karakteristik berbeda. Di Jepang, masalah yang dilaporkan berkaitan dengan kegagalan komunikasi infrastruktur. Di Malaysia, situs web menjadi sasaran peretasan, sedangkan di Prancis serangan dilaporkan menyebabkan perpindahan dana dalam jumlah besar.

Baca Juga :  Ciri ATM Dipasangi Alat Skimming, Begini Cara Mengenalinya

Perbedaan tersebut penting dipahami agar masyarakat tidak menyimpulkan seluruh gangguan perbankan disebabkan oleh serangan siber.

Meski begitu, ketiganya memperlihatkan bahwa layanan keuangan semakin bergantung pada sistem teknologi yang harus tersedia dan terlindungi setiap saat.

Bank perlu memastikan sistem cadangan, pengawasan jaringan, pengendalian akses, serta prosedur pemulihan bencana berjalan efektif. Pengujian keamanan dan koordinasi dengan lembaga penanganan insiden siber juga menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.

Bagi nasabah, kewaspadaan juga diperlukan. Masyarakat sebaiknya tidak mengeklik tautan mencurigakan, tidak membagikan PIN atau kode OTP, serta hanya mengakses layanan melalui aplikasi dan alamat situs resmi bank.

Jika ATM atau internet banking mengalami gangguan, nasabah sebaiknya memeriksa pengumuman resmi dan menghubungi layanan pelanggan bank. Hindari mengikuti instruksi dari akun media sosial atau nomor telepon yang tidak terverifikasi.

Serangkaian insiden tersebut menjadi pengingat bahwa keandalan layanan perbankan bukan hanya ditentukan oleh teknologi transaksi, tetapi juga oleh kesiapan menghadapi gangguan, kemampuan memulihkan sistem, dan perlindungan terhadap dana serta informasi nasabah.

FAQ: Gangguan Sistem Perbankan dan Serangan Siber

1. Mengapa layanan ATM dan internet banking bisa mengalami gangguan?

Gangguan dapat disebabkan oleh kegagalan jaringan komunikasi, kerusakan perangkat, masalah pusat data, pemeliharaan sistem, maupun serangan siber.

2. Apakah gangguan 128 bank di Jepang disebabkan oleh peretasan?

Berdasarkan keterangan Shinkin Central Bank dalam laporan yang dikutip, gangguan disebabkan kegagalan komunikasi pada peralatan West Japan Centre. Pihak bank menyatakan belum menemukan indikasi akses tanpa izin.

3. Apakah peretasan situs Bank Rakyat Malaysia menyebabkan data nasabah dicuri?

Pemerintah Malaysia menyatakan belum menemukan bukti pencurian data maupun gangguan pada sistem perbankan daring akibat insiden tersebut.

4. Berapa kerugian akibat serangan siber terhadap Credit Mutuel Arkea?

Laporan yang dikutip menyebut kerugian lebih dari 100 juta euro. Sebagian dana dilaporkan berhasil dipulihkan dan dana nasabah disebut tidak tersentuh.

5. Apa yang harus dilakukan nasabah saat layanan bank terganggu?

Nasabah sebaiknya memeriksa informasi melalui kanal resmi bank, menggunakan layanan alternatif yang disediakan, dan menghindari tautan atau nomor kontak yang tidak terverifikasi.

6. Bagaimana cara melindungi rekening dari penipuan digital?

Jangan pernah membagikan PIN, kata sandi, atau kode OTP. Gunakan aplikasi resmi, aktifkan notifikasi transaksi, dan segera hubungi bank jika menemukan aktivitas yang mencurigakan.

Berita Terkait

Kinerja Telkom 2026 Menguat, Laba Bersih Normalisasi Tembus Rp16,5 Triliun
Cadangan Minyak Indonesia Ditargetkan 60 Hari, Pemerintah Butuh Rp70 Triliun
Waspada! Android TV Box Bisa Disusupi Malware XCPE dan Dijadikan Alat Hacker
Mantan Menlu Singapura Tambah Kepemilikan Saham Wilmar di Tengah Tekanan Pasar
Apa Itu LIMS? Begini Cara Kerja Teknologi Penyadapan Komunikasi dan Harganya
5 HP Infinix Hot Series Terbaik 2026, Layar Lebar dan Baterai Besar untuk Pelajar
Pemerintah Targetkan Produktivitas Sawit Naik Dua Kali Lipat Jadi 4 Ton per Hektare
Jadwal Preload GTA 6 Resmi Diumumkan, Gamer Harus Siapkan Storage 212 GB
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 9 November 2026 - 04:00 WIB

Gangguan Perbankan Meluas di Sejumlah Negara, Jepang hingga Prancis Jadi Sorotan

Senin, 9 November 2026 - 02:00 WIB

Kinerja Telkom 2026 Menguat, Laba Bersih Normalisasi Tembus Rp16,5 Triliun

Minggu, 8 November 2026 - 23:00 WIB

Cadangan Minyak Indonesia Ditargetkan 60 Hari, Pemerintah Butuh Rp70 Triliun

Minggu, 8 November 2026 - 22:00 WIB

Waspada! Android TV Box Bisa Disusupi Malware XCPE dan Dijadikan Alat Hacker

Minggu, 8 November 2026 - 20:07 WIB

Mantan Menlu Singapura Tambah Kepemilikan Saham Wilmar di Tengah Tekanan Pasar

Berita Terbaru