JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada pembukaan perdagangan Rabu, 21 Oktober 2026. Investor kini menantikan keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar saham dan nilai tukar rupiah.
Mengutip data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka naik 0,67% ke level 5.314,50. Penguatan tersebut terjadi setelah indeks mengalami pemulihan tajam pada perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026. Sebelumnya, IHSG ditutup menguat 5,65% ke posisi 5.278,89.
Sejumlah saham mencatatkan penguatan pada awal perdagangan. PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) naik 4,65% ke Rp360 per saham. PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) menguat 3,91% ke Rp266, sedangkan PT Indosat Tbk. (ISAT) naik 3,50% ke Rp1.775.
Namun, penguatan IHSG masih menghadapi sejumlah tantangan. Investor mencermati tekanan arus modal asing, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian terkait evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar saham Indonesia. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Perhatian utama pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung pada 21 Oktober 2026. Konsensus Bloomberg memperkirakan BI mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75%. Namun, survei BIG Consensus Insights menunjukkan delapan dari 14 ekonom dan analis memperkirakan BI menaikkan BI Rate menjadi 6%. Sebagian ekonom bahkan memperkirakan kenaikan hingga 6,25%.
Pertimbangan utama kebijakan tersebut adalah menjaga stabilitas rupiah yang berada di sekitar Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Selain itu, inflasi September 2026 tercatat sebesar 3,28% secara tahunan. Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi BI sebesar 1,5%–3,5%. Karena itu, bank sentral perlu mempertimbangkan stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi secara bersamaan.
Dari sisi teknikal, analis BRI Danareksa Sekuritas melihat peluang pemulihan IHSG menuju rentang 5.318–5.400. Meski demikian, indikator MACD masih berada di zona negatif sehingga penguatan belum sepenuhnya mengonfirmasi perubahan tren. Level support berada di 5.185. Jika indeks menembus level tersebut, risiko koreksi lanjutan perlu diwaspadai.
Dengan demikian, arah IHSG selanjutnya akan bergantung pada keputusan BI Rate dan respons investor terhadap kebijakan tersebut. Pelaku pasar juga akan mencermati arus modal asing serta perkembangan evaluasi MSCI. Investor sebaiknya memperhatikan risiko volatilitas dan tidak hanya mengandalkan penguatan indeks dalam satu sesi perdagangan.
Disclaimer: Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Setiap keputusan investasi perlu mempertimbangkan profil risiko, tujuan keuangan, dan hasil analisis masing-masing investor.
Editor : FANDA YOSEPHTA









