BI Rate Diprediksi Naik Jadi 6% pada Oktober 2026, Rupiah Tembus Rp17.995 per Dolar AS

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 21 Oktober 2026 - 09:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) diproyeksikan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 6% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), Rabu, 21 Oktober 2026. Tekanan terhadap rupiah dan risiko keluarnya modal asing menjadi pertimbangan utama.

Berdasarkan survei BIG Consensus Insights oleh DataIndonesia, delapan dari 14 ekonom dan analis memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga. Tujuh responden memprediksi kenaikan 25 basis poin menjadi 6%, sedangkan satu responden memperkirakan kenaikan 50 basis poin menjadi 6,25%.

Sementara itu, enam responden lainnya memperkirakan BI mempertahankan suku bunga di level 5,75%. Perbedaan proyeksi tersebut mencerminkan ketidakpastian pasar keuangan dan tantangan yang dihadapi bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Baca Juga :  Harga BBM Pertamina Terbaru 28 Maret 2026, Pertamax Cs Naik Tipis

Tekanan terhadap nilai tukar menjadi salah satu alasan utama di balik prediksi kenaikan BI Rate. Pada Selasa, 20 Oktober 2026, rupiah ditutup di level Rp17.995 per dolar AS setelah sempat menembus Rp18.000 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz memperkirakan BI menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Ia juga melihat kemungkinan kenaikan lanjutan hingga 6,25% pada akhir 2026 jika tekanan terhadap pasar keuangan terus meningkat.

Wacana perubahan klasifikasi saham Indonesia oleh MSCI turut menambah kekhawatiran investor. Kondisi tersebut berpotensi mendorong arus modal keluar dan menambah tekanan terhadap rupiah. Kenaikan suku bunga diharapkan menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah.

Baca Juga :  Best No Annual Fee Credit Cards 2026: Top Picks with 0$ Fees & Easy Approval (Full Guide)

Selain nilai tukar dan pergerakan modal asing, BI juga perlu mempertimbangkan kebijakan suku bunga Amerika Serikat, inflasi, serta pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga barang impor dan gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik serta fenomena El Niño juga berpotensi menambah tekanan inflasi.

Meski demikian, kenaikan suku bunga berisiko meningkatkan biaya kredit dan menekan aktivitas ekonomi. Karena itu, kebijakan moneter perlu berjalan seimbang dengan dukungan bagi sektor produktif. Hingga keputusan resmi BI diumumkan, proyeksi kenaikan suku bunga menjadi 6% masih merupakan perkiraan, bukan keputusan final. (Tim)

Editor : FANDA YOSEPHTA

Berita Terkait

Harga Emas Pegadaian 21 Oktober 2026 Turun Semua, Antam Kini Rp2,603 Juta per Gram
Rupiah Menguat ke Rp17.987, Yield SUN 10 Tahun Diprediksi 7,45%, Ini Obligasi Pilihan Analis
IHSG Hari Ini 21 Oktober 2026 Menguat, Investor Menanti Keputusan BI Rate
Indeks Bisnis-27 Menguat 0,49%, Saham MBMA dan DEWA Melonjak
Harga BBM 21 Oktober 2026 di Jambi, Sumbar dan Sumut, Pertamax hingga Dexlite
Euro Tertekan terhadap Dolar AS, UOB Prediksi EUR/USD Bergerak di Kisaran Ini
Suku Bunga AS Bertahan di 3,75–4 Persen, Pasar Menanti Keputusan The Fed 28 Oktober
Harga Toyota Fortuner Bekas Oktober 2026, Mulai Rp 135 Juta, Ini Daftar Lengkapnya
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:53 WIB

Harga Emas Pegadaian 21 Oktober 2026 Turun Semua, Antam Kini Rp2,603 Juta per Gram

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:11 WIB

Rupiah Menguat ke Rp17.987, Yield SUN 10 Tahun Diprediksi 7,45%, Ini Obligasi Pilihan Analis

Rabu, 21 Oktober 2026 - 09:57 WIB

IHSG Hari Ini 21 Oktober 2026 Menguat, Investor Menanti Keputusan BI Rate

Rabu, 21 Oktober 2026 - 09:25 WIB

Indeks Bisnis-27 Menguat 0,49%, Saham MBMA dan DEWA Melonjak

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:39 WIB

Harga BBM 21 Oktober 2026 di Jambi, Sumbar dan Sumut, Pertamax hingga Dexlite

Berita Terbaru